portaltiga.com
Umum

Memori Sejarah Kerajaan Di Anjungan Jatim TMII

Portaltiga.com – Anjungan Jatim dibangun di TMII pada 20 April 1975 oleh Gubernur Jatim Moh Noer saat itu. Memanfaatkan lahan seluas 1 hektar pemberian pemerintah, pemprov Jatim membangun berbagai macam bentuk bangunan rumah dan miniatur bangunan bersejarah di Jatim.

Menariknya, bagunan rumah dan miniatur bangunan bersejarah itu, dibagi menjadi tiga bagian atau halaman. Pada halaman pertama, menggambarkan sejarah dan kesenian Jatim. Pintu masuk anjungan halaman pertama “dijaga” dua buah patung, Kotbuto dan Angkobuto.

Menurut cerita, kedua patung itu merupakan gambaran patih kembar dari Blambangan, saat diperintah oleh Menak Jinggo.

“Jadi memang ada ceritanya, kita menempatkan dua patung yang mengapit pintu masuk anjungan,” kata Winarno, bidang kesenian Anjungan Jatim yang sekaligus pemandu wisatawan yang berkunjung ke anjungan Jatim.

Masih di halaman ini, dibangun kompleks percandian Penataran di Blitar dalam ukuran yang sebenarnya. Sebuah patung Ganesya bisa dilihat di dalam candi ini. Ganesya dalam mitologi Hindu melambangkan keperkasaan dan ilmu pengetahuan.

Disamping candi Penataran, dibangun dua patung kerapan sapi dengan latar belakang perbukitan kapur utara menggambarkan permainan dan tontonan dari pulau Madura yang amat terkenal itu. Untuk menjaga kelestariannya, dipasang tulisan larangan melewati pagar.

Suasana beda dengan halaman ke dua (tengah). Pada halaman kedua anjungan Jatim, menggambarkan alam perjuangan. Di halaman ini berdiri tegak sebuah tiruan Tugu Pahlawan Surabaya, patung Patriot Bambu Runcing dan menara Masjid Ampel. Masing-masing bangunan tiruan ini memiliki sejarah sendiri-sendiri.

Di halaman ketiga anjungan Jatim menggambarkan alam pedesaan. Di halaman inilah terlihat beberapa rumah adat. Sebuah rumah kepala desa, lengkap dengan pendopo dan kenthongannya, merupakan bangunan induk anjungan ini.
Seperti rumah adat Pacitan, Ponorogo, Situbondo dan Madura.

Bangunan rumah tersebut, menggambarkan bentuk arsitektur tradisionalnya secara asli dan utuh. Disini juga ada makam Mbah Kuning. “Mbah Kuning adalah orang betawi asli yang kerap dikunjungi pengunjung,” ucap Winarno.

Tujuan pembagian halaman untuk memudahkan pengunjung mengenal wilayah Jatim dalam lingkup yang lebih kecil. Masyarakat yang belum sempat berkunjung ke Jatim bisa melihat keragaman seni budaya Jatim sambil berselfie (foto).

Bukan itu saja, pengunjung bisa melihat pentas berbagai kesenian daerah dari 38 kab/kota di provinsi Jatim setiap hari Minggu. Antara lain, kesenian tradisional seperti Reog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi, Tayub, Ludruk, Tari Remo dan Tari Topeng dari Malang.

Saat portaltiga.com mengunjungi anjungan ini, terlihat sejumlah remaja putra dan putri berlatih menari dan drama. Mereka berlatih serius, karena akan pentas seni dan drama di anjungan ini.

“Banyak sekali yang berlatih kesenian disini,” tambah Kepala Badan Penghubung Daerah Jatim, Dwi Suyanto.

Untuk melengkapi bangunan yang punya nilai sejarah, ke depan Badan Penghubung Daerah Jatim akan membuat banguman miniatur jembatan Suramadu yang sekarang menjadi ikonnya Jatim.
“Atas masukan wartawan, akan kita coba bangun jembatan Suramadu disini,” timpal Kasubdit pengelolaan Anjungan Jatim, Samad Widodo.

Memutari seluruh isi bangunan di anjungan Jatim, pastinya cukup melelahkan. Namun, pengunjung tak perlu risau. Pihak pengelola sudah mengantisipasi. Di anjungan telah disiapkan tempat untuk beristirahat.

Tempat istirahat dilengkapi dengan warung makanan berbagai macam masakan khas Jatim. Pengunjung bisa melepaskan rasa penat dengan minum dan menyantap masakan nasi rawon, nasi pecel, soto, tahu campur, hingga rujak cingur. Tidak ketinggalan, berbagai produk unggulan UMKM dari 38 kab/kota di Jatim juga dipamerkan di anjungan ini. (bmw/tea)