• Minggu, 27 Nov 2022 06:47 WIB

Mengapa Nama-nama Badai Mematikan Selalu Feminin

Mengapa Nama-nama Badai Mematikan Selalu Feminin

Portaltiga.com - Badai Irma menghantam Pantai timur Amerika Serikat dan Karibia. Badai Irma ini dikategorikan 5, atau bahaya. Namanya memang feminin, Badai Irma, namun sangat mematikan aktivitas masyarakat. Sejumlah badai bernama feminin pernah menerjang Amerika Serikat. Sebut saja badai Sandy pada 2012 dan Katrina pada 2005. Penamaan unik fenomena alam yang mengerikan itu bukan tanpa alasan. Metode ini digunakan sebagai cara untuk memudahkan para analis cuaca untuk mengidenfitikasi kekuatan dan memberi peringatan kepada masyarakat. World Meteorological Organization (WMO), dalam laman resminya menulis, penamaan ini pertama kali digunakan pada pertengahan 1900-an. Kala itu, badai di Laut Atlantik menghancurkan kapal bernama Antje. USA Today melaporkan, pada 1950 Pusat Badai Nasional Amerika Serikat memulai praktik formal penamaan badai di Atlantik. WMO kemudian mengembangkan metode serupa dan terus memperbaharui nama badai yang ditemukan. Sejak diakui secara formal, metode penamaan itu disusun berdasarkan alfabet fonetik. Semisal, Adam, Baker, Charlie. Pada 1953, organisasi itu merevisi metode yang membingungkan dan mulai menamai badai dengan nama perempuan. Tetapi, muncul bias gender pada penamaan badai menggunakan nama-nama yang fenimim. Ada kesan, badai bernama feminin lebih desktruktif ketimbang badai bernama maskulin. Misalnya badai Carol dan badai Barbara. Sistem ini kemudian diubah pada 1979 dan digunakan hingga sekarang. Dengan sistem baru ini, ahli meteorologi membuat enam daftar nama feminin dan maskulin. Nama-nama itu akan dirotasi tiap enam tahun sekali. Artinya, daftar nama badai tahun ini akan digunakan kembali pada 2023. Tetapi, untuk alasan kemudahan dalam daftar nama itu tidak ada awalan abjad Q, U, X, Y dan Z dalam daftar. Jika dalam satu tahun terjadi 21 kali badai, seperti pada 2005, ahli meterologi akan menggunakan alfabet Yunani untuk memberi tambahan. Meski begitu, Badan Meteorologi Amerika Serikat akan 'memensiunkan' nama-nama badai yang dianggap merusak dan mematikan untuk alasan historis. Salah satu nama yang 'dipensiunkan' yaitu badai Katrina yang menghantam New Orleans, Amerika Serikat, 2005. Selain itu, ada pula badai Sandy. "Tidak ada yang akan melupakan Katrina atau Sandy karena mereka mengaitkan nama-nama itu dengan badai tertentu," Susan Buchanan, juru bicara National Weather Service mengatakan kepada ABC News. Di Indonesia, WMO mencatat beberapa penamaan badai. Berbeda dengan Amerika Serikat, penamaan badai di Indonesia diasosiasikan dengan nama flora. Ada nama Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan hingga Teratai. Adapun untuk daftar nama pengganti, ada nama buah-buahan misalnya Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, hingga Sawo.(dream/abi)