portaltiga.com
Kabar Kita

Sewelasan, Komunitas Remaja Desa Pecinta Sejarah

Portaltiga.com – Banyak sekali komunitas-komunitas yang menjamur di kota besar, baik di Surabaya maupun Gresik dan sekitarnya. Ada komunitas hobi, literasi maupun sosial.

Nah, ini ada komunitas bernama Sewelasan. Komunitas ini berdiri setahun yang lalu, merupakan kumpulan yang didominasi remaja masih berusia sekitar 15-18 tahun atau berstatus sebagai pelajar SMA.

Komunitas yang belajar meneliti sejarah meski mereka bukan ahli sejarah. Para pecinta sejarah ini berkumpul dalam wadah Komunitas Sewelasan.

Komunitas ini anggotanya mayoritas dari SMA NU 3 Gresik, di Dusun Gempol, Desa Jogodalu, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik. Sewelasan sudah menelurkan sebuah buku yang berjudul Kulo Lare Jawa. Buku itu merupakan hasil diskusi rutinan yang dilakukan seminggu sekali.

Mahfud, ketua Sewelasan mengungkapkan, bahwa penelitian mereka lebih mengutamakan wilayah lokal dan sekitarnya. Terkadang memang perlu untuk bergerak meneliti situs di luar Benjeng seperti di Trowulan Mojokerto.

“Kami menghampiri para sesepuh desa, pamong, dan merekam kisah sejarah yang mereka alami seputar desanya. Kami juga melakukan riset ke beberapa daerah yang diindikasikan memiliki temuan jaman kuno atau yang dikeramatkan,” kata Mahfud, Kamis (23/11/2017).

Sebelum melakukan penelitian atau yang mereka sebut sebagai ekspedisi, terlebih dahulu mereka melakukan diskusi dan pemetaan hal yang akan diteliti. Selanjutnya mereka berkoordinasi dengan perangkat desa untuk perizinannya. Jika temuan tersebut rentan hancur, maka akan dicoba untuk mencari solusi bersama pemuda desa.

“Kami melakukan ini sejak setahun yang lalu. Sejak Sewelasan ini berdiri, kami tetap konsisten untuk meneliti dan mendokumentasikan segala warisan leluhur,” Ketua OSIS SMA NU 3 Gresik ini.

Sementara itu, Lilis Setyorini, tim literasi Sewelasan, mengatakan kegiatan ekspedisi yang dilakukan selama satu tahun itu direkam dan ditulis dalam bentuk novel. Rencananya akan terbit tahun depan. Harapannya, hasil ekspedisi itu bisa dicerna oleh pembaca-pembaca. (evita sari pratama putri/abi)