Rindu Pulang, Sambal dan Budaya Lokal

Budaya yang sudah turun temurun pasti sulit diubah. Satu diantara banyak budaya lokal kita adalah kebiasan makan dengan menggunakan sambal. Sebab itu cabai atau yang juga biasa disebut lombok memiliki posisi yang sangat penting di dapur. Sambal tak bisa tergantikan oleh cabai bubuk atau pun pasta.

Wajah Dianita langsung sumringah saat tiba di Bandara Juanda. Pengajar sebuah lembaga kursus bahasa Inggris itu baru saja menunaikan tugas di Australia selama sebulan. “Ayo kita ngopi,” ucapnya.

Selama perjalanan, di mobil, ia mengaku hidup di luar negeri jika terlalu lama akan terasa hambar. Dalam hitungan hari memang masih menyenangkan. Ia bertemu dengan orang-orang, suasana, makanan, serta bermacam hal baru. Rasa ingin tahu dan mencoba hal-hal baru masih menggebu. Namun ia mengakui menjelang pekan kedua mulai merasa bosan.

“Kita cari makan dulu, penyetan saja,” pinta alumnus Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Airlangga ini. Kami pun berhenti di warung penyetan di kawasan Jagir.

BACA JUGA: Lindri Kini Tidak Norak Lagi

Dian langsung berbinar matanya melihat sambal di atas cobek. Ia seperti menemukan hasrat yang membara begitu menatap ulekan lombok, beraroma khas tersebut. “Iki lo sing nggarai urip nang luar negeri hambar,” celetuknya sambil tertawa.

Seporsi nasi takaran sedang, dua potong tahu goreng, sepotong ikan pari goreng, dan tak lupa sambal, siap untuk dilahap.

Beberapa suap masuk ke mulut, bulir-bulir keringat tampak di wajah perempuan asal Batu itu. Ia kepedasan. Tapi begitulah efek sambal. Pedas, tapi tidak bisa membuat yang makan kapok. Dian malah kian lahap menyantap nasi sambal.
Sepering telah tandas. Dian lalu menyeruput minuman favoritnya, teh panas tanpa gula.

“Tidak ada sambal di sana (Australia). Kalau untuk rasa pedas ya biasanya cabai bubuk. Tapi yo ga enak. Hahahaha…,” ungkapnya lalu kemudian meminum teh hingga tandas.

Dian merupakan satu dari sekian banyak orang yang tidak bisa lepas dari sambal. Itulah salah satu sebab lombok menjadi komoditi yang paling laku di masyarakat. Saat harga lombok melambung tinggi beberapa waktu lalu, masyarakat menjadi kelabakan.

Jatmiko, dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) salah satunya. Ia termasuk orang yang tidak bisa makan tanpa rasa pedas. “Beli bakso, sambal habis bersendok-sendok tetap saja tidak pedas. Jadi mengurangi kelezatan makanan kalau tidak pedas,” kata Miko, panggilannya.

Ia mengaku sempat mencoba solusi menggunakan cabai bubuk saat harganya melambung tinggi. “Saat harga lombok naik, Boncabe (merk cabai bubuk) ga tidak naik. Saya coba beli dan makan dengan itu. Ternyata ya tidak seenak sambal,” katanya sambil tersenyum.

Dilanjutkan, rasa pedas itu memang didapat. Namun rasa nikmat sambal tidak ada dalam cabai bubuk.

Sambal memang sudah menjadi budaya tak tergantikan di sini. Sambal sudah menjadi ciri khas masakan lokal. Memang banyak restoran cepat saja yang mencoba menggantikan sambal itu dengan pasta atau saus pedas.

Namun demikian, tidak bisa dipungkiri generasi tua tidak banyak yang suka dengan masakan yang dicocol saus pedas. Anak muda atau bahkan anak-anak yang paling banyak makanan jenis tersebut.

Posisi lombok memang semakin signifikan di bidang kuliner, ketika tren makanan pedas menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat. Misalnya saja jenis makanan mie, kini banyak penjual yang menjadikan tingkat kepedasan sebagai daya tarik.

Bahkan, di Surabaya ada merk sambal Bu Rudy yang sudah tenar. Tempat ini menjual sambal dikemas dalam botol kecil. Untuk jenis sambal bawang harganya Rp25 ribu. Sambal segar ini sangat laris di masyarakat. Ini juga bukti betapa sambal belum tergantikan dalam kultur kuliner masyarakat.

BACA JUGA: The Power of Recehan

Dalam posisi inilah, lombok menjadi komoditi utama dengan demand yang terus naik. Sementara supply sangat tergantung dengan musim dan iklim.

Saat cuaca ekstrem, petani lombok banyak yang gagal panen. Otomatis persediaan menjadi menurun, sementara permintaan pasar tetap tinggi. Hingga yang terjadi kemudian harga lombok melangit.

Tapi, saat musim panen besar tiba, harga lombok pun turun. Bahkan diprediksi akan terus anjlok harganya saat panen raya terjadi. Ketidakstabilan harga lombok ini sesungguhnya tak luput dari budaya pemanfaatan lombok.

Masyarakat belum terbiasa menggunakan lombok olahan. Padahal, ketika masyarakat sudah berubah budayanya dari makan sambal menjadi lombok bubuk atau jenis olahan lainnya, maka harga lombok bisa relatif stabil.

Lombok tak mungkin disimpan lama karena cepat kering atau busuk. Sehingga harus secepat mungkin dijual. Padahal jika lombok itu diolah bisa menjadi tahan lama sehingga tidak terlalu tergantung dengan musim panen.

Tapi, apakah mudah mengubah sesuatu yang sudah menjadi trasisi? (zaki zubaidi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION

Translate »