Petani Garam Di Rembang Nekat Produksi Garam Walaupun Musim Penghujan

Portaltiga.com – Para petani garam di Rembang memilih untuk tetap memproduksi garam walaupun musim penghujan telah tiba. Alasannya karena stok garam di gudang masih sedikit karena produksi sebelumnya tidak mencapai target.

Di musim penghujan, tetap memproduksi garam adalah hal yang spekulatif. Meski risiko gagal panen akan lebih besar. Sebab hujan sewaktu-waktu bisa turun.

Djuwari, salah satu petani garam asal Desa Karangsekar Kecamatan Kaliori, Rembang mengaku tetap memproduksi garam selama masih ada panas. Produksi garam baru akan dihentikannya setelah memasuki puncak musim penghujan.

“Kalau hitungan petani garam, musimnya ya sampai akhir November ini. Ini juga masih ada panas, jadi masih bisa buat produksi garam. Dibilang nekat ya memang nekat kita,” kata Juwari saat ditemui detikcom dilahannya di Kaliori, Rembang, Selasa (7/11/2017).

Ia menjelaskan, periode produksi garam membutuhkan waktu selama lima sampai tujuh hari. Sedangkan menurutnya, saat ini wilayah Rembang hanya diguyur hujan setiap seminggu sekali.

“Ya memang turunnya hujan tidak bisa diprediksi. Anggap saja ambil kucing dalam karung, kalau pas bejo ya aman produksinya, kalau pas apes ya diguyur hujan, harus ulang lagi dari awal,” terangnya.

Hal senada diungkapkan Rohmani, petani garam asal Desa Mojowarno Kecamatan Kaliori, Rembang. Ia mengaku kenekatan petani tetap memproduksi garam di saat tiba musim penghujan, lantaran stok garam di gudang yang masih kosong.

“Stok garam di gudang sampai saat ini masih kurang. Kalau petani tidak terus memproduksi, nanti stoknya kurang bagaimana. Mengandalkan garam impor juga tidak bisa,” katanya.

Menurutnya saat ini harga garam masih bagus, sehingga para petani masih semangat mengolah tambak garam. “Gak peduli risiko gagal panennya, yang penting garap dulu,” jelasnya.

Saat ini harga garam di Rembang berkisar Rp 1.800 sampai Rp 2 ribu per kilogram. Jika panen berhasil, petani bisa meraup keuntungan setidaknya sampai Rp 1 juta per ton setiap minggunya. (dtc/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION