Escape From NII: Penyamaran dari Dalam WC Umum (12)

Penulis: Ika Maya

Sampailah kami di Stasiun Jatinegara, lagi-lagi kami disambut dengan mas ekstrem yang baru. Ah sudahlah, memang sudah seperti bola ping pong kami ini. Dioper kesana kemari sampai mabuk. Naik lagi ke kereta ekonomi jelek.

Ah, sudahlah misuh pun percuma uang yang kami bayarkan itu memang bukan untuk menyamankan perjalanan kami, tapi untuk mendanai kegiatan mereka di masa mendatang. Mungkin saya saja yg terlalu berharap, membayangkan naik kereta kelas eksekutif dan tidur di hotel.

Lagi-lagi kami disuruh duduk berpencar, laki-lagi dan perempuan dipisah. Meski berpencar, kami juga masih dalam gerbong yang sama. Istimewanya naik kereta ekonomi adalah: kita bisa bebas memilih gerbong manapun dan ndhelosor di lantai sambil kadang terinjak orang lain. Itu pun kalau beruntung bisa ndhelosor, kalau tidak ya anda tidur sambil duduk selama kurang lebih 15 jam perjalanan. Kalau ada yang lewat sambil kentut dekat wajahmu, yah itu adalah jackpot tambahan. Taik! Misuhku kali ini terdengar lelah.

Tak banyak yang saat ingat di perjalanan pulang ini. Entah karena tak ada yang menarik, entah karena sama saja sensasinya dengan waktu berangkat, entah karena saya sudah tak peduli. Entah. Deru kereta ini semakin syahdu dan menidurkanku.

Kriyep-kriyep mata saya terbuka saat matahari mencolekku. Sudah pagi, dan sudah mendekat ke Surabaya. Tercium aroma tanah Surabaya yang akrab di hidungku.

Mbak, kita sudah mau nyampe. Kata si pembantu tadi membangunkanku.

Dan… sampailah kami di Stasiun Pasar Turi. Si mas ekstrem memberi tanda keluar ke pintu yg sama. Ya, selama perjalanan pulang dan pergi kami memang diminta untuk pura-pura tidak saling mengenal. Turunlah kami bersama.

Masih mengganjal di hatiku masalah uang iuran bulanan yang diminta mereka saat pembaiatan. Seandainya kalau memang benar saya ingin membayar, bayarnya kemana? Ke bank kah? Atau ke lokasi pengajiankah? Belum mendapat jawaban yang jelas, mas ekstrem ini bilang:

Jangan pulang ke rumah masing-masing dulu ya! Kita kembali ke tempat pengajian kita (ada istilah khusus untuk menamakan tempat pengajian rahasia ini, tapi saya lupa).

Mau ngapain lagi kita mas? Duh, sumpah dari kami berlima ini cuma saya saja yang berani bertanya. Teman-teman seperjalananku ini manut saja, seandainya kalau saya kabur dengan mereka pasti cuma jadi beban buat Cucut yang ringkih ini.

Data-datanya diambil dulu, dan sekalian dibuatkan KTP biar benar-benat sah kalian jadi penduduk kita.

Dang!!! Oh oh oh.. kalau saya punya KTP saya pasti sudah terdaftar di NII, lalu segala data saya yang lengkap akan ada di sana. Saya jadi semakin tak bisa menghindar kalau begitu. Kalau saya benar-benar terdaftar, mereka, polisi, ABRI, BIN akan mudah melacakku. Kalau saya terlacak dan suatu hari berkhianat matilah saya denhan laskar NII tapi kalau saya tak berkhianat matilah saya di ujung senapan polisi, ABRI, dan BIN. Iya kalau langsung mati, kalau pakai disiksa bagaimana. Maju kena, mundur kena ini! Merinding saya membayangkan nasib hidupku selanjutnya. Harus cari akal, harus cari akal!

Jangan pisah-pisah ya, kita nunggu akhwat yang mau menjemput kita kok kayanya belum datang.

Mendengar kalimat ini, saya seperti mendapat suntikan energi. Saya berusaha tetap waras dan terlihat wajar. Satu rencana yang pasti di otakku: lari!!!! Tapi bagaimana? Entah ide darimana tiba-tiba saya merasakan kekuatan luar biasa untuk mengatakan kalimat berikut:

Mas, saya mau ke kamar mandi dulu ya. Dari tadi pengen eek.

Si mas ekstrem itu tertawa dan mengijinkan saya pergi. Dalam perjalanan menuju ke kamar mandi (Ya cerita saya memang tak jauh-jauh dari WC dan tai, jadi tolong bertabahlah), saya berpikir keras rencana pelarian yang bagaimana yang akan saya lakukan. Tak ada pikiran jangka panjang, semuanya untuk kebutuhan singkat: untuk saat ini! Sekarang!

Di depan kaca kamar mandi saya memandangi diri saya dan membasuh muka saya, detak jantung ini begitu riuhnya sehingga membingungkan irama tarian Jet Li. Saya perlahan mengintip keluar, ke tempat berkumpulnya teman-teman seperjalanan tadi. Kulihat mereka asyik mengobrol, dan mas ekstrem celingukan tolah-toleh seperti mencari seseorang.

Belum ada ide yang kutemukan. Kembali, Spongebob berlarian membongkar arsip memori yang mulai terbakar dengan panik di dalam otakku.

Bagaimana ini.. bagaimana.. Ya Allah tolong!! Tiba-tiba saya merasa benar-benar menjadi seorang agen rahasia yang hendak melakukan pelarian di dalam penyamaran. Cepat-cepat saya ganti baju, celana, dan jilbab saya. Saya bungkus tas ransel saya dengan tas kresek hitam besar yang saya sediakan dari rumah untuk tempat baju kotor. Saya tutupi bagian hidung dan mulut saya dengan kerudung yang saya kenakan.

Sebelum keluar dari kamar mandi, saya mengintip lagi. Mereka masih di posisi yang sama! Kaki saya terasa lunglai. Cucut, sekarang atau kamu tak bisa lari lagi!! Cucut, lari! Lari!!… dang dang dung dung trang dung trang dung trang…kempyenganku mulai melancarkan musik pengobar semangatnya.

Dengan memekik sekuatnya di dalam hati saya menguatkan langkah saya untuk kabur dari mereka: Bismillah… Allahu akbar!!!
Drap…drap…drap… saya berusaha berjalan cepat dan seperti orang normal. Berhasil saya berjalan beberapa senti dari kamar mandi, sekarang saya harus lolos melewati bagian tersulitnya: melewati mereka tanpa dicurigai. Allah..Allah..Allah.. kusebut terus Ia yang paling berhak atas hidupku. (bersambung)

* Penulis adalah alumnus Jurusan Antropologi FISIP Unair dan mantan Ketua Teater Puska Surabaya

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION