Headline News

Cak Rateman Berkisah tentang Kejayaan Dendang Bhirawa

13/09/2017
251 Views

Portaltiga.com – Dendang Bhirawa, tentunya masih asing bagi generasi muda sekarang.  Di masa jayanya Dendang Bhirawa cukup terkenal dan malang melintang di dunia pertunjukan seni.

Berawal  era tahun 1960-an di Desa Metatu Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik, ada drama dan lawak yang terkenal dari Desa Metatu. Drama, lawak dan orkes melayu itu tergabung dalam Grup Fatahillah pimpinan H Saifuddin. Kemudian dalam perkembangannya menjadi Dendang Bhirawa.

Salah satu pelaku sejarahnya adalah Rateman. Dia adalah pelawak dan dramawan yang mendedikasikan hidupnya untuk seni. Lakon yang sering dimainkan diantaranya Sarip Tambak Oso.

Menurut Rateman, Dendang Bhirawa dulu mewarnai pentas drama di wilayah Benjeng, Gresik, hingga Surabaya.

“Bahkan pernah seminggu bermain di daerah Paciran Lamongan.  Karena medan yang dilalui tidak ada jalan darat maka terpaksa harus naik perahu,” tutur pria 67 tahun ini.

Dendang Bhirawa, lanjut Rateman, berasal dari kata dendang yang artinya irama atau musik. Sedangkan bhirawa mengambil nama dari sebuah satuan militer yakni Resimen Cakra Bhirawa. Dan juga konon Bhirawa adalah diambil dari nama senjata yakni Cakra Bhirawa di zaman Majapahit.

“Banyak sekali pelaku seni yang terlibat di pementasan waktu itu,” lanjut pria yang akrab disapa Cak Rateman ini.

Ditambahkan, antara lain Gunawan, ​ Dahar (akordion), Hasyim (gitar bas), Maridjan (kendang), Dahar (gitar), Mukmin (kencrek. Sedangkan penyanyi Haji Daeri, Shalikin, Mud Abidin, Supilin , Haji Mudzakir, dan Juwari.

Dalam pementasannya, juga sering sekali mendatangkan bintang tamu dari Surabaya.  Diantaranya Endang Prisnawati dan Nuridah dan sebagai MC Abdul Jamik dan H Mudzakir serta masih banyak lagi pelaku seni yang terlibat.

“Banyak sekali pelaku yang terlibat, kadang kala ada regenerasi atau mengajak anak muda untuk tampil,” terangnya sambil menikmati segelas kopi.

Ia melanjutkan,  banyak sekali yang pemain drama di masa itu diantaranya Sarji (Aziz), Cak Kamit, Cak Darman, Karil (Muridjan), Supilin, Cak Mat Sholeh, dan lain-lain.

Dulu bahkan pernah satu bulan penuh pentas, meskipun siang tetap harus bekerja, tetapi tim tetap semangat dan kompak.

Terkait dekorasi, dulu menggunakan dekorasi alami yakni dengan kain yang dilukis. Biasanya Muridjan melukis dan membuat dekorasi agar menarik. Pernah suatu ketika dengan lakon putri duyung. Maka harus membuat efek laut dan air. Di masa itu mengunakan terpal warna biru dan diisi air. Dengan ujung terpal diangkat beberapa orang. “Dulu yang bagian mengganti layar lukisan itu Pak Nari dan Pak Raten,” terangnya

Terkait dengan kostum, dulu sebelum punya kostum awalnya meminjam pakaian tetangga yang sesuai dengan peran yang dilakonkan.

Sedangkan transportasinya dulu naik pick-up.  “Biyen numpak kolbak harpa, lungguh lesehan kadang sampek gak cukup,” terangnya dengan logat Metatu yang masih sangat kental.

Ia menceritakan bahwa pentas di zaman itu masih mengunakan penerangan lampu petromak, atau lampu gaspon dalam bahasa Metatu.

“Dulu sebelum pentas selalu minta restu dan doa dari sesepuh dan tetangga, agar pentas berjalan dengan lancar,” Cak Rateman lalu menyeruput kopinya. Sebatang rokok kretek dihisapnya dalam-dalam. Kenangan Dendang Bhirawa masih hidup di jiwanya. (hadi setiawan/abi)

foto: Rateman (berbaju putih) bersama anaknya, Edi Ambon (poloshirt) yang juga pelawak lokal.

Leave A Comment