Cak Nur ke Lereng Gunung Penanggungan, Ada Apa?

Portaltiga.com – Bakal Calon Gubernur (Bacagub) Nurwiyatno lereng Gunung Penanggungan melakukan perjalanan ke lereng Gunung Penangggungan. Apa yang dilakukan pria yang akrab dipanggil Cak Nur itu?

Usai menghadiri sidang terbuka ujian doktor, Suko Widodo di Gedung A- FISIP Universitas Airlangga dan saresehan Jurnal Manifesto Trisakti, di Surabaya, Sabtu (9/9/2017) lalu, Cak Nur mengunjungi Petirtaan Jolotundo di lereng Penanggungan.

Di kawasan hutan itu, Cak Nur melakukan diskusi dengan para tokoh masyarakat dan budayawan setempat berkaitan dengan pelestarian budaya Jawa Timur.
Cak Nur yang hanya didampingi oleh tim kecil pemenangannya menemui beberapa tokoh budaya di sana dan mendiskusikan tentang pelestarian situs bersejarah yang berada di kawasan gunung Penanggungan.

Seperti diketahui bersama bahwa Gunung Penanggungan yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Pasuruan dan Mojokerto, ini merupakan kawasan yang menyimpan banyak peninggalan sejarah sejak era kerajaan Kahuripan hingga Majapahit.

Cak Nur, menerima masukan pemikiran masyarakat untuk menempatkan kawasan gunung Penanggungan sebagai wilayah konservasi sekaligus wisata edukasi yang meliputi sejarah, alam dan budaya Jatim.

“Hingga saat ini peran pemerintah saja tidak akan cukup dalam melestarikan budaya di Jatim tanpa peran serta masyarakat. Hal ini karena Jatim memiliki banyak peninggalan sejarah dan budaya yang mencerminkan kebesaran Jawa Timur pada masa lalu,” ujarnya.

Kepala Inspektorat Jatim ini juga menunjukkan beberapa besar potensi yang dimiliki Jatim ini, sehingga perlu keseriusan memanage pemerintahan dengan baik, benar serta melibatkan para cerdik cendikia untuk ikut merumuskan arah pembangunan ke depan.

Cak Nur merasa terkesan dengan kehadirannya di sana karena secara jelas dapat melihat dan mendengar keluhan masyarakat yang pada dasarnya berujung pada perlunya peningkatan kesejahteraan rakyat guna membawa Jatim menjadi lebih baik.

“Sulit bagi kita dapat melestarikan semua peninggalan sejarah dan budaya nenek moyang kita tanpa keterlibatan masyarakat dan peningkatan kesejahteraannya, karena rakyat tidak akan berpartisipasi dalam pembangunan jika perutnya masih dalam kondisi lapar,” jelasnya.

Karena itulah perlu konsep pembangunan Jatim yang berkelanjutan ini dengan meletakkan masyarakat sebagai ujung tombak pembangunan. Dengan demikian, pembangunan Jatim kedepan akan menjadi lebih kuat.

Salah satu konsep pembangunan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan peninggalan bersejarah gunung Penanggungan ini, menurut Cak Nur adalah dengan menempatkan kawasan Penanggungan ini sebagai kawasan cagar budaya dan wisata edukasi (alam dan budaya) Jatim dengan menempatkan masyarakat sebagai ujung tombak pembangunannya.

“Konsep pemberdayaan masyarakat ini sangat penting bagi kami karena dengan konsep ini, masyarakat akan mendapatkan kemanfaatan ekonomi secara langsung yang pada akhirnya masyarakat akan menjaga, melestarikan dan mengembangkan potensinya wilayahnya demi pelestarian budaya di Jatim,” paparnya.(bmw/abi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION