⁠⁠⁠Selain Wisata Religi, Ini Potensi Pantura yang Bisa Dikembangkan

Portaltiga.com – Wilayah pantai utara (Pantura) memiliki potensi ekonomi yang masih bisa dikembangkan. Tak hanya objek wisata religi saja yang diharapkan dapat meningkatan kesejahteraan perekonomian rakyat.

“Ada potensi ekonomi yang sebenarnya masih bisa dikembangkan dalam rangka peningkatan kesejahteraan perekonomian rakyat,” kata bakal calon gubernur (Bacagub) Jatim, Nurwiyatno (Cak Nur) kepada wartawan di Surabaya, Rabu (20/9/2017).

Pantura memang merupakan wilayah yang menarik perhatian lebih dari sekadar objek wisata religinya, karena di wilayah ini menyimpan banyak sejarah yang dapat dipelajari dari para wali sebagai penyebar agama Islam di Jawa pada abad 16.

Hal inilah yang membuat Cak Nur mendatangi objek-objek wisata religi seperti Makam Waliyullah Sunan Ampel dan Sunan Bungkul (Surabaya), Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Makam Leran dan Bukit Surowiti (Gresik), serta Sunan Drajat (Lamongan) beberapa hari lalu.

Cak Nur melihat ada hal lebih yang bisa dilakukan pemprov dalam mengembangkan potensi wilayah pantura ke depan. Selain terdapat masyarakat yang berhubungan erat dengan pewaris budaya religi, di kawasan sekitar objek wisata, pemerintah daerah masih dapat berperan lebih untuk meningkatkan perekonomian rakyat.

Upaya meningkatkan perekonomian itu, antara lain melalui pelatihan guide local, sebuah pendidikan pemandu wisata bagi para pemuda-pemudi di sekitar wilayah pembahasan, berupa kecakapan tata bahasa pendamping wisatawan.

“Baik itu bahasa lokal daerah, bahasa Indonesia maupun bahasa internasional. Sehingga, pengelola bisnis traveling bisa bersinergi dengan pengelola guide local yang ada dalam satu atap,” jelasnya.

Selain itu, juga peningkatan home industry, berupa pelatihan terkait potensi lokal yang belum banyak dikembangkan oleh masyarakat sekitar, semisal cetak sablon pakaian yang berisi kata-kata filosofi para tokoh religi.

Bisa juga menggarap makanan khas lokal yang disajikan dalam model lebih menarik, dengan memberikan ruang keikut-sertaan para chef (ahli masak) untuk membantu pelatihan penyajian makanan lokal dengan daya tarik model baru.

Yang tidak kalah pentingnya juga adalah pelatihan pembuatan miniatur bangunan cagar budaya yang ada dalam wisata religi tersebut, misalnya berupa gapura makam, masjid atau keunikan lainnya dalam model mini handycraft.

“Pelatihan pengembangan produk lokal yang ada disekitar seperti kerajinan gerabah di wilayah Laren-Lamongan. Gerabah bisa diberi unsur seni sehingga masyarakat sekitar bisa diberi pelatihan pengembangan nilai-nilai seni untuk peningkatan nilai jual gerabah,” paparnya.

Peningkatan dan perluasan ruang informasi publik berkaitan dengan potensi wisata dan kekayaan budaya pantura Jawa Timur juga perlu dilakukan. Peningkatan ruang informasi publik di tempat tempat istirahat dan parkir, juga dapat berfungsi sebagai peningkatan informasi sejarah beserta pengenalan produk lokal.

“Beberapa program itu adalah hasil diskusi dirinya dengan beberapa teman alumni GMNI Jatim, khususnya yang berlatar belakang pendidikan sejarah,” tandas Ketua Pengurus Daerah PA GMNI Jatim ini.

Namun demikian, setiap hasil diskusi dengan tim Pemenangannya, Cak Nur selalu mengujinya dengan turun ke lapangan untuk lebih memahami realita dan potensinya. Sehingga, gagasan yang telah didiskusikan dengan tim pemenangannya dapat dirangkum dan dipertanggungjawabkannya sebagai visi misi Cak Nur Gubernur ke depan. (bmw/abi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION