• Jumat, 30 Sep 2022 06:47 WIB

Surabaya Romansa, Pendulum Urban untuk Bertahan

Surabaya Romansa, Pendulum Urban untuk Bertahan

Oleh: Aan Haryono Pandemi Covid-19 mengubah banyak sisi kehidupan di berbagai negara. Termasuk kota besar yang ada di Indonesia begitu terhantam dalam berbagai sektor ketika badai pandemi menerjang. Perekonomian lumpuh, pendidikan tersendat dan pengangguran meroket. Setelah dua tahun berlalu, satu persatu pendulum kehidupan masyarakat kembali dipersatukan. Sektor yang lumpuh dihidupkan kembali serta diberikan inovasi yang bisa menyesuaikan dengan era kehidupan baru yang terbentuk setelah pandemi mereda. Kota Surabaya yang menjadi salah satu ikon di Indonesia setelah Jakarta menjawab kebutuhan tersebut. Sebagai kota urban, menata kembali kehidupan yang produktif serta dinamis bagi masyarakat urban yang tinggal di berbagai kawasan di Kota Pahlawan cukup banyak tantangan. Warna kelompok urban di Surabaya masih cukup dinamis dalam mengembangkan berbagai potensi dalam kehidupan kota. Mereka bergerak cair dalam berbagai lini, mulai dari permukiman, lini bisnis, pendidikan sampai penyerapan tenaga kerja. Iklim yang sehat itu terwujud dalam berbagai kawasan urban yang berkembang begitu pesat. Baik di Surabaya Barat, Surabaya Timur, Surabaya Selatan, maupun Surabaya Timur yang kini berkejaran dalam menata kehidupan kota. Akulturasi berbagai kebudayaan dari sektor urban itu menjadi kekayaan Surabaya dalam mengembangkan kehidupan yang dinamis serta saling membutuhkan. Untuk mewujudkan pendulum baru setelah hantaman pandemi, ada Surabaya Romansa yang memberikan khasanah baru dalam kebangkitan kota beserta masyarakat urban yang mewarnainya. Seperti sebuah kanvas lukisan, Surabaya Romansa menjadi bingkai masyarakat urban yang menorehkan berbagai tinta untuk membentuk mozaik yang indah. Dengan memanfaatkan Jalan Pahlawan sebagai ikon kuat kota, Surabaya Romansa menjadi titik balik untuk mengembalikan denyut kota urban. Setiap sore, di jalan legendaris itu berbagai kreasi urban dibentangkan. Ada yang berjualan makanan, produk tepat guna sampai layanan jasa yang bisa dimanfaatkan warga untuk kembali menemukan pendulum rezekinya. Berjejar di berbagai jalan tersohor yang terbentuk sejak era sebelum kemerdekaan, Surabaya Romansa mengembalikan kenangan serta membungkus semangat baru warga urban untuk bisa bertahan dan terus berkembang di Kota Surabaya. Jalan Tunjungan sempat lama mati suri. Namanya yang tersohor hanya menjadi sebuah cerita dalam pergulatan zaman. Kini, di sepanjang jalan dan bangunan lama itu, sebuah ruang publik terbentuk dengan erat. Sebagai kawah baru dalam terbangunnya ruang publik yang bisa dimanfaatkan semua warga kota, termasuk masyarakat urban. Di Surabaya Romansa juga menjadi pusat edukasi bagi masyarakat. Termasuk pelayanan publik bagi masyarakat urban baik itu terkait administrasi kependudukan sampai dokumen pelayanan publik lainnya. Ada layanan pembuatan kartu penduduk musiman, layanan perizinan usaha sampai lapak yang melayani jasa konsultasi psikolog. Berbagai dinamika ruang kota menjadi lebih merupakan arena mental atau ideasional, yang dikonseptualisasi di dalam tamsil, kata Ritzer (2012). Sehingga muncul tindakan refleksif, dan reprentasi simbolik, suatu ruang yang dipahami dalam imajinasi serta khayalan urban (Gans, 2002). Termasuk juga sebuah ruang yang meliputi peta-peta mental serta visi-visi para urban. Termasuk juga metode-metode yang lebih formal untuk memperoleh dan menyampaikan informasi tentang geografi dan kondisi perkotaan yang penuh dengan masyarakat urban serta dinamika yang mereka ciptakan. Ada cara baru dalam konsep masyarakat pasca pandemi. Yakni pelayanan jemput bola yang tak hanya menunggu masyarakat datang, namun juga mendatangi simpul kerumunan mereka setiap harinya. Layanan yang sempat terhenti selama dua tahun terakhir dan beralih menjadi online, kini bisa kembali bertatap muka. Tentu dengan sejumlah pembatasan seperti jumlah kerumunan dan kuota antrean. Namun, upaya jemput bola itu memudahkan ruang komunikasi bagi warga urban untuk terus mendiami dan berkehidupan di Surabaya. Layanan kesehatan pun bisa diakses di Surabaya Romansa seperti cek gula darah maupun akupuntur. Situasi yang kini bernar-benar berubah setelah pandemi adalah metode yang dipakai dengan memodifikasi cara hybrid. Ada beberapa layanan di Surabaya, termasuk di Jalan Pahlawan yang menerapkan metode online serta offline. Mulai dari cara pemesanan makanan, memesan tempat duduk sampai jadwal kedatangan. Metode itu diperkuat dengan adanya kelonggaran setelah angka penularan Covid-19 menurun. Aktifitas tatap muka diperbolehkan dengan situasi yang lebih tertib dan dalam pakem kehidupan pasca pandemi. Sisi praktis terlihat jelas dalam Surabaya Romansa yang memberikan kemudahan bagi warga urban untuk berinteraksi dan berkomunikasi bersama. Mereka mendatangi tempat bersantai bersama keluarga, serta tempat yang bisa mendulang rejeki bagi mereka yang berjualan serta berkontribusi untuk memasok barang di Jalan Pahlawan. Henri Lefebve (1991) membeberkan bagaimana produksi ruang begitu penting bagi masyarakat. Keberadaan ruang sosial bisa tercapai ketika ruang tersebut sudah mampu berproduksi sendiri. Kondisi itu yang tergambar jelas bagaimana Surabaya Romansa menghadirkan ruang sosial dengan benang merah kebudayaan, pariwisata, ekonomi serta interaksi sosial. Tak ayal, semua elemen yang mendiami dan berada di ruang tersebut dapat menjalankan perannya masing-masing dengan baik. Ada yang berjualan, membantu layanan jasa, berwisata, bersantai, melayani kebutuhan publik sampai memberikan atraksi untuk menghibur. Konsep produksi ruang seperti penjabaran Henri Lefebvre digunakan dengan maksimal di Surabaya Romansa. Nuansa klasik urban pun dipertontonkan dengan gagah. Lampu berwarna kuning dengan ornamen besi penyangga yang menegaskan sisi klasik dan ruang pertarungan zaman. Tempat duduk yang ada di pinggir jalan juga mengendapkan rasa urban lawas yang sering dijumpai di kota-kota romantis seperti Paris, Amsterdam, Roma maupun Berlin. Musik terdengar di berbagai penjuru dan tawa yang lama sekali tak nyaring kini bisa dinikmati di Surabaya Romansa. Denyut kota pun kembali bergerak, roda ekonomi berputar dan pendulum kehidupan itu terus memantulkan energi positif dalam kebangkitan warga setelah terhantam pandemi Covid-19. Surabaya Romansa juga menjadi etalase besar dalam konsep kebangkitan ekonomi masyarakat urban. Sebab, di sektor hulu ada Rumah Padat Karya yang tersebar di berbagai kelurahan di Kota Surabaya. Rumah Padat Karya ini yang menampung semua warga yang sebelumnya terkena pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Di Rumah Padat Karya itu, mereka memproduksi berbagai karya yang bisa dijual di Surabaya Romansa. Ada batik, sandal, sepatu, serta pernak-pernik khas Surabaya. Langkah kolaborasi ini menegaskan eksistensi kelompok urban yang bisa terus hidup di tengah hantaman keras berbagai sektor selama pandemi. Perubahan jalinan kota yang terus memperbaiki diri dan menjawab kebutuhan masyarakatnya menjadi kunci. Kebutuhan yang terus bergerak dan tantangan yang semakinketat tak menyurutkan niat mereka untuk eksis dan bisa bertahan. Satu hal yang menarik dalam jalinan baru komunikasi urban di Surabaya adalah penegasan bahwa perjalanan tak hanya dilakukan sendirian, mereka kini berkontribusi bersama untuk berjalan beriringan dalam mendulang kesuksesan. * Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Media dan Komunikasi FISIP Unair