Pancasila sebagai Jalan Tengah di Antara Perdebatan Liberalis dan Sosialis

Baca Juga : ABSB Minta DPRD Jatim Desak Gubernur Revisi UMK 2023, Ini Alasannya

Portaltiga.com - Prihatin dengan mulai terkikisnya ideologi Pancasila di kalangan milenial saat ini, anggota DPRD Jatim Hari Putri Lestari menggelar sosialisasi kebangsaan tentang ideologi Pancasila ke generasi milenial yang ada di wilayah Jember, Senin (27/6/2022). Menurut HPL sapaan akrab Hari Putri Lestari, terkikisnya ideologi pancasila saat ini juga terjadi sejumlah kasus makar di sejumlah daerah di Indonesia, seperti di Lampung, Padang dan di Jawa Barat dan daerah lainnya. Yaitu upaya mendirikan negara di dalam negara," ujar HPL. Anggota Komisi E DPRD Jatim ini, menilai bahwa kasus itu menjadi indikasi kuat bahwa dasar negara Indonesia sedang digoyah. Sehingga diperlukan penguatan nilai-nilai Ideologi Pancasila kepada masyarakat. "Kita harus ingatkan ke masyarakat khususnya generasi melenial, bahwa ada rong-rongan yang dilakukan sebagian kelompok ingin merubah ideologi dan ingin mendirikan negara didalam negara," jelas politisi asli kelahiran Surabaya ini Untuk itu, Legislator yang berangkat dari Daerah Pemilihan (Dapil) V (Jember - Lumajang) ini berharap kepada para aktivis, akademis dan tokoh masyarakat, agar turut mengajarkan nilai-nilai Pancasila dalam lingkungan sekitar khususnya generasi melenial yang ada di Jember. Sementara itu Pengamat Wawasan Kebangsaan yang menjadi pembicara, Suseno Riban menilai Pancasila adalah ideologi hanya bagus dan menang dalam perdebatan formal, seperti seminar maupun upacara. "Tetapi dalam pelaksanaan dan realisaisinya, Pancasila selalu kalah, itu yang perlu kita diskusikan," ujarnya. Lunturnya nilai-nilai Pancasila, diantaranya, dampak keterbukaan informasi global, sehingga mempengaruhi pola pikir masyarakat. "Ada sebuah kasus, dimana ada warga negara kita, lebih suka tinggal di Syuriah, dan memilih bergabung dengan ISIS," kata pria yang akrab disapa Mas Seno ini Mengingat Internet Of Thinking membuat orang semakin individualis, kata Seno, akibatnya mereka tidak kenal dengan tetangga rumah sendiri. Dan lebih mengenal teman yang mereka ketahui dari dunia maya. Intisari sari Pancasila lanjut pemerhati wawasan kebangsaan adalah kekuatan gotong-royong, atau kemampuan komunitas, ini masih dapat terlaksana di pedesaan. "Nilai pancasila dan gotong-royong di desa -desa tidak akan terkikis. Coba lihat idi desa-desa, komunitas-komunitas pasti hidup, dan harus selalu dihidupkan," pungkasnya. Sedangkan Dr Fendi Setiawan memaparkan dimensi nilai Pancasila terdiri dari tiga hal, yaitu keyakinan, pengetahuan dan perbuatan, yang ada di lima sila, dan harus diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. "Karena Pancasila adalah ideologi jalan tengah, dari perdebatan liberalis dan sosialis, untuk mewujudkan keadilan sosial dalam kehidupan," katanya. Akhir-akhir ini saya agak intens dengan BPIP merumuskan indikator nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan peraturan UU. Jadi ketika ada kebijakan politik legislasi, bagaimana melakukan ceklis bahwa norma itu tidak bertentangan dengan nilai Pancasila. Ini yang kita belum punya," lanjutnya. Menurut dosen Fakultas Hukum Universitas Jember ini, nilai-nilai Pancasila tetap akan tumbuh dan tidak akan pudar, jika para pemimpin negara ini, memberikan teladan bagi masyarakatnya. Karena politik patriaki bangsa ini, apa yang dilakukan pemimpinnya pasti akan diikuti oleh rakyatnya. "Pancasila harus diyakini punya nilai kebenaran. Ayo kita jalan bareng untuk terus membumikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk untuk generasi melienial saat ini," tegasnya.(ars/abi)

Ikuti update berbagai berita pilihan dan terkini dari portaltiga.com di Google News.

Berita Terkait
Berita Terpopuler
Berita Terbaru