Urban Cross Culture Harus Berdampak Pada Kemajuan Kota Surabaya

11/07/2017
85 Views

Portaltiga.com-Event bertaraf internasional yang digelar oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yaitu “Urban Cross Culture’ harus memiliki dampak terhadap kemajuan Kota Surabaya.

Karena dalam waktu dekat, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menggelar kegiatan dengan tajuk Cross Culture International (CCI) ke-13 dengan Tema Folk Art Festival. Acara tersebut menampilkan berbagai macam tari kesenian budaya Indonesia dan mancanegara.

Acara ini terbagi menjadi dua sesi, pertama tanggal 9 Juli dan tanggal 16-20 Juli 2017, dan total peserta sebanyak 1.260. Masing-masing dibuka Tari Remo remaja 12 grup yang terdiri dari anak usia 5 tahun hingga 16 tahun.

Namun belakangan, Drs. Ec. Widodo Suryantoro, MM, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya mengaku merasa perlu mendesak kepada beberapa Kota di negara lain yang tergabung dalam hubungan Sister’s City untuk menggelar acara atau festival yang setara dengan Cross Culture seperti di Surabaya, sebagai perimbangan.

Pandangan Kadisbudpar yang baru ini spontan mendapatkan respon dari anggota Komisi C DPRD Surabaya Vinsensius Awey, yang mengatakan bahwa sebaiknya acara Urban Cross Culture tidak lagi hanya menjadi acara ceremonial yang tnap dampak apapun terhadap warga dan Kota Surabaya.

“Supaya jaring sister city selama ini dengan beberapa kota yang ada dibelahan dunia manapun menjadi tidak sia sia dan tidak hanya sekedar seremonial menanda tangani kesepakatan sister city, padahal nothing to do,”ujarnya kepada wartawan di gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (10/07/17).

Politisi asal Partai Nasdem berharap, agar pagelaran Urban Cross Culture yang melibatkan beberapa kota di dunia yang tergabung dalam sister’s city, bisa memberikan dampak yang lebih bagi masyarakat dan Kota Surabaya serta negara.

“Nah kalau bisa kondisikan mereka untuk gelar cross culture di kota Surabaya dengan berbagai aktivitas pertunjukan budaya masing-masing negara, maka setidak-tidaknya bisa menaikkan devisa negara, pertumbuhan ekonomi Surabaya mulai dari perhotelan, ruang pertemuan, restoran, UMKM dll, kalu itu terjadi maka good job, patut di apresiasi,” tandas Awey yang saat ini posisi masih berada di Australia ini.

Namun demikian sebaliknya, lanjut Awey, jika tidak bisa memberikan dampak apapun terhadap masyarakat, Kota Surabaya dan negara, maka MoU yang hanya merupakan ceremonial belaka tidak perlu dilanjutkan.

“Kalau nggak bisa menggelarnya atau tidak berbuat sesuatu hal maka ada baiknya tidak lagi jalin sister city ddengan negara manapun. Supaya tidak dipenuhi dengan seremonial tandatangan MoU & MoA belaka,” pungkasnya. (Trish)

Leave A Comment