Sastrawan Darmanto Jatman Meninggal, Dunia Sastra Kehilangan Satu Tokoh Terbaik

Portaltiga.com – Berpulangnya penyair Darmanto Jatman menjadi kehilangan bagi dunia sastra. Semasa hidupnya, Darmanto kerap mengundang budayawan ternama ke Universitas Diponegoro, Semarang.

Guru besar Fakultas Ilmu Budaya Undip, Prof Dr Nurdien, adalah salah satu murid Darmanto di bidang teater sejak tahun 1970-an.

“Pengalaman saya sendiri, beliau menjadi pengajar dan dosen tahun 1971 di Undip. Beliau dosen, saya mahasiswa. Kebetulan rumah kami berdekatan,” kata Nurdien di Auditorium Undip Pleburan ketika jenazah Darmanto disemayamkan, Senin (15/1/2018).

Nurdien dilatih teater di workshop teater milik Undip dan berkeliling ke berbagai kota. Selain itu nama-nama besar sastrawan, budayawan, dan ilmuwan diundang Darmanto ke Undip untuk menggelar acara.

“Dulu workshop teater tahun 70-an. Latihan di mana-mana, pementasan, aksi-aksi. Bersamaan itu mengundang penyair besar seperti Djoko Damono, Umar Kayam, hampir budayawan besar dan ilmuan pada masanya kita Undang ke Undip,” pungkasnya

Dalam dunia sastra, lanjut Nurdien, almarhum sangat berjasa terutama bagi kaum muda termasuk bagi para jurnalis.

“Jasanya besar sekali terutama dalam kebudayaan, beliau bisa mengajak orang-orang muda terutama sastrawan, budayawan, dan jurnalis jadi teman-teman beliau. Jurnalis banyak yang mengaku sebagai muridnya. Beliau menginspirasi tidak hanya dalam penulisan jurnalisme sastra saja tapi secara umum,” kenang Nurdien.

Prestasi Darmanto di bidang sastra menurut Nurdien memang sangat berlimpah meski ia dosen psikologi. Namun justru kedua bidang itu bisa dimanfaatkan Darmanto untuk saling mendukung.

“Prestasinya memang dalam sastra walau dia mengajar di psikologi. Bidang psikologi sangat membantu karir dalam kesusastraan dan kebudayaan. Salah satu buku yang jarang ditulis orang yaitu ‘Sastra, Psikologi, dan Masyarakat’. Itu tidak bisa dipisahkan dari seorang Darmanto Jatman,” terang Nurdien.

“Saya melihat belum ada penggantinya orang yang seperti dia, kombinasi komplek sebagai pribadi yang menarik, flamboyan. Tetapi tidak hanya fisik, tapi secara mental ideologi, dan gagasannya. Selalu ada gagasan baru ketika beliau aktif sebelum sakit,” imbuhnya.

Almarhum yang merupakan guru besar emeritus Undip itu meninggal hari Sabtu (13/1) lalu pukul 16.45 WIB. Setelah disemayamkan di rumahnya kemarin, pagi tadi jenazah disemayamkan di auditorium Undip. Selanjutkan jenazah dimakamkan di Pemakaman Keluarga Undip. (dtc/tea)

JOIN THE DISCUSSION