Prihatin Dengan Kondisi Tuna Netra, Mahasiswa UNTAG Ciptakan Tongkat Pendeteksi Halangan Bertenaga Matahari

Portaltiga.com – Mahasiswa Fakultas Informatika Universitas 17 Agustus Surabaya berhasil menciptakan tongkat pembantu untuk tuna netra mendeteksi halangan di sekitar dengan tenaga matahari.

Tongkat buatan Jarot ini diklaim dapat mendeteksi dan memberikan sinyal kepada pemegangnya untuk menghindari halangan melalui sensor yang dipasangkan di tongkat.

Dengan adanya tongkat ini, diharapkan para penyandang tuna netra akan lebih leluasa untuk bergerak dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Melalui sensor ultasonik, pemuda yang sejak SMP telah menggemari komputer ini mengaku terinspirasi ini dari temannya semasa masih duduk di SDN Klampis Ngasem 2 Surabaya. Jarot menceritakan teman masa kecilnya tersebut memiliki kondisi penglihatan yang buruk.

Hatinya pun tersentuh saat menyaksikan keseharian temannya yang harus diantarjemput oleh sang ibu dengan naik sepeda ontel.

“Saya lihat itu, mas, tiap hari dijemput ibunya naik sepeda ontel, sekalian ibunya juga jualan di depan sekolah. Jadi rombong jualannya di belakang, dianya di tengah, trus ibunya nuntun gitu. Tiap hari gitu mas,” kisah Jarot.

Dari situ, ia bertekad membuat tugas akhir yang bisa meringankan beban para penyandang tuna netra. Ia bahkan rela mengulang skripsi dan mengulur satu semester demi bisa membuat alat tersebut menjadi tugas akhirnya.

“Saya sekarang semester 9. Dulu pas semester 8 itu sebenarnya ambil skripsi tentang web. Tapi karena saya ingat ini akhirnya saya ulang lagi,” tegas mahasiswa dengan IPK 3,13 ini.

Jarot kemudian menjelaskan, cara kerja alat ini menyerupai cara kelelawar untuk menentukan arah terbangnya. Empat ensor ultrasonik yang dipasang di tongkat (2 di atas dan 2 di bawah) akan mengirimkan sinyal transmisi ke arah depan. Bila ada penghalang dengan jangkauan paling jauh 1 meter, transmisi tersebut akan terpantul dan diterima oleh receiver dan memicu buzzer.

Buzzer tersebut nantinya akan berbunyi. Dari catatan mahasiswa berusia 23 tahun itu, pada jarak 1 meter, buzzer akan berbunyi setiap 0,8 detik. Makin dekat jarak dengan obyek, makin cepat pula bunyinya. Untuk jarak terdekat adalah 20 cm dan buzzer berbunyi setiap 0,16 detik.

“Kalau ada obyek, sinyal itu bakal terpantul kembali dan diterima oleh receiver. Jadi seperti kelelawar,” jelasnya, Selasa (27/2/2018).

Jarot menambahkan ia menggunakan dua jenis buzzer untuk memberitahukan pengguna akan adanya halangan. Selain bunyi, Jarot juga memasang vibrator pada tongkat yang akan bergetar bila menemui halangan.

“Ini vibrator saya ambil dari stick Playstation bekas saya mas,” imbuh Jarot.

Jarot mengakui sebelumnya sudah ada proyek serupa. Hanya saja yang membedakan inovasinya dengan tongkat untuk penyandang tuna netra sebelumnya adalah tenaga surya. Kebanyakan dari tongkat itu harus mengisi ulang daya bila daya habis.

“Dari situ saya kepikiran, mereka (penyandang tuna netra, red) pasti akan kesusahan kalau dayanya habis,” ungkap Jarot.

Namun tongkat berpanel surya miliknya dapat digunakan selama 4 hari berturut-turut, bila dayanya telah terisi penuh. “Itu saya sudah pernah coba, mas. Dalam keadaan full ya. Jadi kalau misalnya dibawa jalan-jalan, kena dikit matahari, nggak terbatas tenaganya, unlimited,” tegasnya.

Terkait proses pembuatan, Jarot mengungkapkan tongkat ultrasonik ini diselesaikannya dalam tenggat waktu dua bulan. Padahal sebenarnya ia sempat dihadapkan pada masalah kesulitan mencari bahan akrilik, yaitu komponen terpenting dari tongkat ini.

“Akrilik itu kan harus dipotong pake alat khususnya itu lho, tapi ini nggak, saya silet sendiri. Ini kemarin tangan saya sempat luka,” buka Jarot.

Namun terdorong oleh motivasi yang kuat, Jarot pun berhasil menemukan alat yang akan sangat membantu penyandang tuna netra ini. Ia pun meyakini tongkat ini tak hanya membantu sebagai alat peraba saja, tetapi juga dapat menjadi ‘mata’ bagi penyandang tuna netra.

“Saya juga ingin memberitahukan masyarakat kalau alat ini murah. Ini saya buat nggak sampe Rp 200.000 lho,” tegasnya.

Jarot merinci tongkatnya sendiri menghabiskan biaya sekitar Rp 70.000, sedangkan sensor ultrasoniknya seharga Rp 18.000/buah, sisanya ia mengaku memanfaatkan baramg bekas.

Ke depan, Jarot berharap bila alat itu bisa dikembangkan menjadi kebal air, sebab alat itu nantinya akan sering digunakan di luar ruangan.

“Harapan pertama saya sebenarnya biar bisa kebal hujan dulu. Soalnya ini akriliknya kalau masuk hujan, udah, byar. Selain itu juga, bisa lebih kuat dan rampinglah,” ujarnya.

Menanggapi temuan anak didiknya, Dr Ir Muaffaq A Jani, M.Eng., mengatakan alat ini akan sangat membantu penyandang tuna netra menjadi lebih mandiri. Selain itu dengan inovasi ‘bahan bakar’ tenaga surya, penyandang tuna netra tidak harus bergantung pada bantuan orang lain, termasuk untuk mengisi daya perangkat tersebut.

“Jadi alat ini membantu penyandang tuna netra untuk menginformasikan bila ada halangan di depan. Terus dengan adanya tenaga surya ini, tuna netra akan dipermudah dengan pengisian daya otomatis. Jadi mandiri gitulah,” ujar dosen pembimbing Jarot tersebut. (dtc/tea)

About the author

Related

JOIN THE DISCUSSION