Portaltiga.com – Di balik ramainya lalu lintas Kota Surabaya, masih tersimpan kisah pilu tentang anak-anak yang kehilangan haknya untuk tumbuh dengan aman dan bahagia. Fakta itu terungkap dari suara seorang pelajar dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah Jawa Timur dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026.
Riska Putri, siswi SMA Muhammadiyah 2 Surabaya, membagikan pengalaman yang membuatnya prihatin. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia masih menjumpai anak-anak yang diajak mengemis di jalanan. Lebih menyedihkan lagi, menurut pengamatannya, ada orang tua yang sengaja memberikan obat tidur kepada anaknya agar tetap tenang saat dibawa mengemis. Bahkan, ia mendengar adanya praktik penyewaan anak untuk kepentingan tersebut.
“Anak-anak seharusnya mendapatkan kasih sayang, pendidikan, dan perlindungan. Tetapi kenyataannya, masih ada yang justru dijadikan alat untuk mencari uang,” ungkap Rizka saat mempresentasikan hasil pengamatannya.
Cerita Rizka menjadi salah satu potret nyata yang mengemuka dalam FGD bertajuk “Stop Kekerasan Terhadap Anak! Dengarkan Suara Anak, Wujudkan Generasi Berkemajuan.” Kegiatan yang diinisiasi Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah Jawa Timur itu menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan persoalan yang mereka lihat, rasakan, dan alami di lingkungan sekitarnya.
Tak hanya praktik eksploitasi anak, diskusi juga mengangkat berbagai persoalan lain yang dinilai masih menjadi tantangan serius, seperti dampak perceraian terhadap kondisi psikologis anak, stunting, depresi akibat tekanan akademik, hingga praktik sunat perempuan.
Baca Juga : BLKK Walida ATC dan Majelis Kesehatan PWA Jawa Timur Gelar Pelatihan Baby Massage & SPA
Seluruh pembahasan dibagi dalam lima klaster hak anak, yaitu hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan serta pemanfaatan waktu luang dan budaya, serta perlindungan khusus anak.
FGD dipandu oleh fasilitator Giyo Fikri Haqiqi dari Universitas Airlangga dan Nurulita Ipmawati dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Melalui pendekatan partisipatif, peserta diajak menyampaikan pandangan secara terbuka agar setiap suara anak dapat menjadi bagian dari rekomendasi kebijakan.
Baca Juga : Mencoba Menjadi Pendengar Sejati
Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah Jawa Timur berharap hasil diskusi ini tidak berhenti sebagai forum berbagi pengalaman, tetapi menjadi rekomendasi yang akan disampaikan kepada pimpinan di tingkat yang lebih tinggi sebagai bahan penyusunan kebijakan perlindungan anak.
Suara Rizka menjadi pengingat bahwa eksploitasi anak masih terjadi di sekitar kita. Di balik tangan-tangan kecil yang mengulurkan harapan di persimpangan jalan, tersimpan hak-hak anak yang belum sepenuhnya terpenuhi. Melalui forum seperti ini, anak-anak tidak hanya didengar, tetapi juga diberi ruang untuk menjadi bagian dari perubahan menuju lingkungan yang lebih aman, ramah, dan berpihak pada kepentingan terbaik bagi mereka. (emi harris)
Ikuti update berbagai berita pilihan dan terkini dari portaltiga.com di Google News.