Penebangan Ratusan Pohon Ancam Sumber Air Bersih Warga Sekitar Gunung Kelud

Portaltiga.com – Penebangan ratusan pohon yang ada di lereng Gunung Kelud mengancam warga yang berada di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Pasalnya, penebangan pohon tersebut dikhawatirkan akan merusak ekosistem alam beserta sumber air dan kebutuhan listrik untuk ribuan warga.

Juru bicara Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Kediri dr. Ari Purnomo Adi menyebut ada lima dusun dari tiga desa di wilayah Kecamatan Puncu yang kini terdampak dari penebangan pohon yang berada di lahan perkebunan PTPN XII Ngrangkah Sepawon Desa Damarwulan.

“Penduduk mendapatkan air dari rembesan air yang keluar dari akar pohon itu (pohon yang telah ditebang). Rembes air kemudian ditampung dan dsalurkan ke masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan air, mereka” kata dr. Ari Purnomo Adi, Selasa (2/1/2018) pagi.

Dengan penebangan ratusan pohon, dr. Adi khawatirkan keseimbangan ekosistem alam menjadi terganggu. Lalu dampak paling buruk adalah hilangnya sumber mata air untuk penduduk.

Selain untuk mencukupi kebutuhan minum, mandi dan kebutuhan sehari – hari, air dari sumber mata tersebut juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan alat turbin. Sumber daya listrik ini disalurkan ke rumah rumah penduduk.

“Rembesan dari tebing gunung ditampung. Dialirkan ke pipa. Untuk air minum dan penggerak generator listrik. Dapar mengcover seluruh rumah di AFD Damarwulan, Puncu,” jelas dr. Adi.

Pembangkit listrik tenaga air sederhana ini dibangun, pada 2014 lalu. Pembuatnya adalah dari pabrik. Tenaga perawat nya juga dari pabrik. Keberadaanya sanga dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Masih kata dr. Ari, manfaat air dari rembesan akar pohon juga untuk pengolahan kopi oleh PT PN XII. Apabila air tidak ada, kata Ari, sudah dapat dipastikan produksi kopi akan terganggu.

“GMPK dan Forum Kediri Hijau, SUAR dan Pasak fokus dalam penyelamatan lingkungan. Adapun konflik hukum antara PT Empat Pilar Anugerah Sejahtera (EPAS) yang bergerak pertambangan dan PT PN XII bukan ranah kami, melainkan kepentingan kedua belah pihak,” tutupnya. (bjc/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION