Headline News

Miliki Citra Rasa Yang Khas, Ekspor Kopi Indonesia ke Aljazair Terus Meningkat

11/04/2016
265 Views

Portaltiga.com,SURABAYA-Komoditas kopi Indonesia mendapatkan minat cukup besar dari para konsumen kopi di Aljazair. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pasar Aljazair terhadap kopi asal Indonesia semakin meningkat. Cita rasa kopi Indonesia yang khas menjadi faktor utama penarik minat masyarakat Aljazair.

Importir kopi Indonesia yang juga Direktur PT Africafe, produsen kopi terbesar di Aljazair, Fouad Hamdani,  mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, kopi asal Indonesia ini merupakan salah satu kopi yang cukup digemari masyarakat di sini (Aljazair).

“Cita rasa yang dimiliki kopi Indonesia cukup khas dan unik, sehingga menjadi favorit warga di Aljazair, “ ujarnya, dalam rilis Dubes RI di Aljazair, Senin (11/04/16).

Ia menjelaskan, Aljazair merupakan salah satu konsumen terbesar kopi di Timur Tengah dan Afrika. Tren pertumbuhan konsumsi kopi di Aljazair terus mengalami peningkatan volume dari 3 persen pada tahun 2012, menjadi sebesar 6 persen dari selama 2014.

“Secara rata-rata, orang Aljazair mengkonsumsi sekitar 13 gram kopi per hari, atau sebanyak 4 kilo gram per tahun.”ungkap Fouad.

Saat ditemui Dubes Indonesia untuk Aljazair, Safira Machrusah di Perusahaannya di Tlemcen, 458 km dari Ibukota Alger akhir pekan lalu, Fouad menandaskan, jenis kopi Indonesia yang banyak masuk ke Aljazair adalah kopi robusta. Sementara untuk jenis arabica masih belum terlalu banyak.

Total perseroan melakukan impor kopi dari Indonesia, tambah Fouad, mencapai 6000 ton per tahun. Pihaknya berencana akan menambah volume impor kopi Indonesia dalam beberapa waktu ke depan, mengingat tren permintaan pasar Aljazair untuk kopi robusta Indonesia cenderung meningkat.

“Melihat tren permintaan kopi Indonesia yang semakin meningkat, kami akan berusaha untuk meningkatkan volume impor kopi kami dari Indonesia. Tapi saya belum bisa memastikan seberapa besar peningkatan tersebut karena untuk lebih jelasnya, kami masih akan melakukan survey pasar terlebih dahulu.”katanya.

Kendati demikian, pihaknya mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi ketika melakukan importasi kopi asal Indonesia. Semisal, proses importasi hingga saat ini masih harus melalui pihak ketiga yaitu dari para trader dari negara-negara Eropa seperti dari Belgia dan Perancis. Ini disebabkan sampai saat ini barang yang keluar-masuk dari Indonesia ke Aljazair harus dikenai biaya bea cukai yang cukup tinggi, akibat belum terlaksananya Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-2 antara RI-Aljazair.

“Kendala lain yang dihadapi adalah Aljazair bukan merupakan pasar tradisional negara tujuan ekspor kopi oleh produsen dari Indonesia. Selama ini, produsen Indonesia lebih memilih mengekspor produknya ke pasar Eropa, Asia dan Amerika.”keluh Fouad.

Meskipun secara hitungan bisnis, ujar Foud, akibat kendala yang ada, impor kopi dari Indonesia kurang menguntungkan, tapi pihaknya tetap melakukan importasi kopi Indonesia lantaran peminatnya yang cukup banyak.

“Untuk itu Fouad berharap agar Duta Besar Indonesia bisa mengusahakan peningkatan level kerjasama perdagangan antara dua negara, khususnya dalam komoditas kopi. Dirinya juga berharap dapat melakukan transaksi langsung dengan petani kopi asal Indonesia tanpa melalui perantara pihak ketiga.”ungkapnya.

Sementara itu, menanggapi hal tersebut Dubes RI di Aljazair, Safira Machrusah, menyarankan agar para pengusaha kopi Aljazair untuk membuka kantor perwakilan dagang di Indonesia.

“Jika Bapak mau membuka kantor perwakilan dagang di Indonesia. Saya rasa di samping untuk memperkenalkan Aljazair sebagai negara baru tujuan ekspor kopi Indonesia, juga agar para pengusaha Aljazair bisa lebih dikenal oleh para produsen kopi di Indonesia,” ujar Safira.

Diharapkan dengan pembukaan kantor perwakilan dagang di indonesia, para importir kopi Aljazair dapat bertransaksi secara langsung dengan para produsen asal Indonesia, sehingga harga yang didapatkan bisa lebih kompetitif.

“Dubes juga mengupayakan agar dapat diselenggarakannya Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-2 antara dua negara, khususnya untuk membuka penghalang (barrier) yang selama ini menjadi batu sandungan cukup signifikan bagi perdagangan kedua negara.”kata Safira. (Trish)

Leave A Comment