portaltiga.com
Umum

Ketua DPRD Jatim Gayeng Ngobrol Kesenian Bareng Komunitas Simpang

Portaltiga.com – Pendekatan melalui kesenian dan kebudayaan agaknya penting dilakukan di tengah hilangnya jati diri generasi milenial saat ini.

Peliknya industri kesenian di Kota Surabaya sendiri pun dirasakan Ketua DPRD Jatim, Kusnadi. Hal ini disampaikan saat menghadiri syukuran lahirnya Komunitas Simpang Kamis (20/2/2020) malam.

Selain tumpengan, acara tersebut juga diisi dengan ngobrol bareng seniman Indra Tjahyadi, dengan tema Outlook Kesenian Surabaya.

Pada kesempatan itu, Kusnadi mengungkapkan tidak ada inisiatif dari kalangan birokrat untuk mengambil peran dan memberikan solusi atas permasalahan ekosistem kesenian yang tengah terjadi.

“Pikiran birokrasi hari ini, terselimuti oleh pragmatisme kalkulasi keuntungan semata. Baik keuntungan secara materi atau secara prestige,” katanya.

Oleh karena itu, politisi PDI Perjuangan ini menyampaikan perlunya proteksi lebih dan dukungan yang harus diberikan kepada para seniman yang masih mempunyai gairah untuk menghidupkan kembali dunia berkesenian.

“Saya secara pribadi, mendukung kepada siapapun yang masih bertekad untuk hidup dan menghidupi dunia kesenian secara mandiri. Karena memang tidak banyak kepala daerah yang memiliki jiwa kesenian,” terangnya.

Sementara, Direktur Komunitas Simpang Bagus Priambodo, menjelaskan, melalui kesenian bangsa ini mampu membenahi pelbagai permasalahan dalam tatanan hidup sosial kultur masyarakat.

“Seperti rak buku, jika tidak dirawat dengan baik secara berkala, maka segala potensi sumber daya manusianya akan sia-sia,” jelasnya.

Dalam dialog kerakyatan tersebut, Dodot sapaan akrabnya menyampaikan perlu rasanya menciptakan sebuah simpul yang memiliki sifat dinamis dan inklusif. Hal ini untuk menciptakan sebuah ekosistem berkesenian dan berkebudayaan yang mampu memberikan jawaban dalam perbaikan kualitas hidup manusia Indonesia, khususnya di Surabaya, Jawa Timur.

Membaca Kesenian Surabaya

Di tengah multikultural kehidupan masyarakat di Surabaya, konsepsi ‘representasional’ dianggap tidak lagi relevan untuk menggambarkan perkembangan realitas masyarakat kontemporer yang semakin kompleks.

Hal ini, dimaknai oleh seniman Surabaya Indra Tjahyadi. Pihaknya melihat susahnya menemukan jati diri secara khusus, kaitan proses penciptaan dan pengembangan dunia kesenian di dalam sistem sosial kultur masyarakat Surabaya yang beragam suku dan egaliter.

“Sehingga problem dunia kesenian di Surabaya sebenarnya adalah terletak pada, tidak adanya infrastruktur sebagai ruang-ruang eksplorasi yang bisa digunakan oleh para seniman untuk menunjukkan eksistensi karya mereka,” katanya.

Selain itu, tersendatnya iklim kesenian di Surabaya, kata Indra, juga berkaitan erat dengan tidak adanya sebuah event atau agenda kesenian yang secara konsisten terselenggara.

Medium ini, dirasa efektif sebagai lokus yang bisa dimanfaatkan oleh para seniman menjadi media delivery dari sebuah proses kreatif.

“Agar bisa dinikmati oleh masyrakat lebih luas. Karena, Surabaya pernah mempunyai event seperti Festival Kalimas yang pernah berjaya, kemudian mati. Serta lahir kembali era Festival Seni Surabaya (FSS). FSS, sempat memberikan secercah harapan karena terbukti mampu mengangkat derajat iklim kesenian di Surabaya hingga ke kancah internasional,” paparnya.

Celakanya, lanjut Indra, terulang kembali event FSS pun yang menjadi tumpuan satu-satunya kala itu, kini juga mati. Meski demikian, selain dari sisi konsistensi penyelenggaraannya, salah satu evaluatif yang perlu dicermati adalah, tidak pernah para seniman lokal menjadi ‘guest star’ di rumahnya sendiri.

“Setiap kali event kesenian yang diselenggarakan, nilai okupansi seniman lokal tidak lebih dari 10%. Itupun hanya bersifat sebagai penampil pendamping para seniman luar kota atau luar negeri yang menjadi bintang tamu, sehingga masyarakat kesenian Surabaya hanya berlaku sebatas konsumen,” terang Indra Tjahyadi.

Hal itu dinilai menyedihkan di tengah hingar-bingar Kota Pahlawan dengan potensi seniman yang begitu banyak.

“Tapi Surabaya tidak mampu keluar atau memunculkan industri kesenian secara mandiri dan bergengsi, jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainya seperti Jakarta, Yogyakarta, atau Bandung sekalipun,” bebernya.

Padahal secara kualitatif, Surabaya tidak pernah kehabisan potensi dari para senimannya. (abi)