Gagalkan Whisnu Pimpin DPC, PAC PDIP Surabaya Duga Oknum DPP Bermanuver

Portaltiga.com – Hasil Konfercab PDIP di Empire Pallace, Minggu (7/7) berbuntut panjang. Tak disebutnya nama Whisnu Sakti Buana sebagai Ketua DPC PDIP Surabaya membuat kader di level Cabang atau PAC yang ada di Surabaya menduga ada oknum dengan kekuatan besar di DPP yang sedang bermain untuk menggagalkan rekomendasi PAC.

Ketua PAC Simokerto Widyanto membeberkan jika dugaan kekuatan besar yang bermain ini berawal dari analisa yang ia lakukan sejak jauh-jauh hari. “Kekuatan besar ini adalah seorang oknum di tataran elite DPP. Dia punya power yang cukup,” ujarnya, Selasa (9/7/2019).

Menurutnya oknum tersebut memiliki ambisi tertentu untuk kepentingan yang besar di Surabaya. Dengan ambisinya itu, oknum tersebut lantas tak mengindahkan rekomendasi 31 PAC yang telah satu suara mendukung Whisnu.

“Karena ambisinya itu, dia sampai menggadaikan suara kader akar rumput atau kawula alit terkait Ketua DPC. Para Ketua PAC yang mengusulkan nama Whisnu Sakti Buana tidak didengarkan sama sekali,” cetusnya.

“Padahal semangat PDIP ini jelas. Dari bawah ke atas. Dari akar ke batang. Seperti yang digelorakan Bung Karno. Ingatlah logo PDIP itu. Banteng moncong putih bermata merah bertanduk tajam. Moncong putih ini suara suci kawula alit. Kalau sudah tidak didengar, maka mata kami akan merah dan marah. Kalau sudah begitu, jangan sampai taduk tajam kami memakan korban,” tegas pria yang akrab disapa Wiwid itu.

Sosok oknum yang sama pun, menurut Widyanto juga melakukan operasi-operasi serupa di beberapa wilayah lain. Hanya saja, tidak memunculkan konflik seperti di Surabaya.

“Misalnya saja ada Bojonegoro, Pasuruan, dan yang jauh di Halmahera. Permainan yang dilakukan skala nasional. Hanya kepentingan dia yang paling besar di Surabaya,” ujarnya.

Untuk itu, ia berharap agar DPP segera ambil sikap untuk menyelesaikan konflik yang ada secara bijak. Mengingat nama PDIP selama berada di tangan Whisnu terbilang terus membaik.

“Nama baik PDIP disini dipertaruhkan. DPP wajib hukumnya bijaksana merespon,” pungkas Widyanto. (tea/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION