FK Unair Gandeng PAMKI Gelar Simposium Internasional Pertama Mikrobiologi Klinik

Portaltiga.com – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menggelar acara bertajuk 1st International Scientific Meeting on Clinical Microbiology and Infectious Diseases (ISM-CMD, 10th National Congress of Indonesian Society for Clinical Microbiology (KONAS PAMKI), dan 12thNational Symposium of Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (NS-IARW).

FK UNAIR bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (IARW) untuk menyelenggarakan acara tersebut. Bertempat di Hotel Bumi Surabaya, acara dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Sabtu (13/10/2018) dan Minggu (14/10/2018).

Terdapat sekitar 250 peserta yang berasal dari berbagai institusi kesehatan maupun pendidikan di Indonesia. Acara ini dihadiri oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Nila Djuwita F. Moeloek, dr., Sp.M (K), Rektor Universitas Airlangga, Prof. Muhammad Nasih, S.E., M.T., Ak., CMA., Ketua PAMKI, Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK(K), Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Sekretaris Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemementerian Kesehatan RI, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dan Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR beserta jajaran. Selain itu, acara ini juga mengundang beberapa ahli mikrobiologi klinik internasional untuk menjadi pembicara. Di antaranya, Prof. Fumito Aruyama, Ph.D, Manabu Ato, MD., Ph.D., Matsumoto Sokichi, Prof. Toshiro Shirakawa, dan Prof. Kazufumi Shimizu, Ph.D., dari Jepang; Satheesh Thangaraj, Ph.D., dari Singapura; dan Juliette Severin, MD., Ph.D., dari Belanda.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Dr. Eko Budi Koendhori, dr., M.Kes., Sp.MK(K), selaku ketua pelaksana kegiatan, Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK(K), selaku Ketua PAMKI, Rektor UNAIR, Prof. Muhammad Nasih, dan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Nila Djuwita F. Moeloek. Pembukaan acara diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI dengan ditandai pemukulan gong sebagai simbolis. Terdapat pula acara pameran alat-alat laboratorium dan kesehatan, pameran poster dari peserta symposium, serta pameran batik kedokteran.

Mengambil tema “Update on Management and Control of Infectious Disease in The Era of Antimicrobal Resistance”, forum ini diharapkan dapat memberi informasi yang relevan dan berguna untuk penanganan penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh mikroba resisten. Acara ini merupakan ajang pertemuan internasional pertama FK UNAIR yang mengangkat masalah mikrobiologi, dan dilaksanakan serentak bersama kongres nasional ke-sepuluh PAMKI dan simposium nasional ke-duabelas IARW.

Sebelumnya, telah terselenggara kegiatan workshop tentang penyakit difteri, pencegahan dan pengendalian penyakit, yang digelar di FK UNAIR pada Kamis-Jum’at (11-12/10/2018) lalu.

ketua pelaksana kegiatan, Dr. Eko Budi Koendhori mengatakan, resistensi antibiotic saat ini mengalami peningkatan yang sangat pesat, diharapkan adanya kegiatan yang memberikan edukasi dan informasi  untuk dan mengurangi munculnya resistensi antimikroba

“Saat ini resistensi antibiotik mengalami peningkatan yang sangat pesat, termasuk di Indonesia. Hal tersebut dapat terjadi ketika penggunaan antibiotik tidak sesuai dengan prosedur dan dosis yang dianjurkan dokter. Harapannya, acara ini dapat memberikan informasi dan edukasi kepada para praktisi mikrobiologi klinis untuk menciptakan strategi penanganan yang tepat dan mengurangi munculnya resistensi antimikroba,” terang Dr. Eko, Minggu (14/10/2018)

Penggunaan antibiotik berlebihan dan secara tidak tepat merupakan masalah yang dapat mendorong resistensi, sekaligus berpotensi menimbulkan efek samping, reaksi alergi, atau bahkan menimbulkan penyakit baru. Dekade ini, resistensi antibiotik disebut sebagai masalah kesehatan global. Penggunaan antibiotik memiliki konsekuensi yang lebih luas dibandingkan obat-obatan biasa. Ketika seseorang menyalahgunakan antibiotik, hal tersebut justru akan mengakibatkan terciptanya mikroba yang kebal terhadap antibiotik maupun obat-obatan lain. Sehingga dapat memungkinkan terjadinya infeksi baru dan sulit diobati. (doy/abi)

JOIN THE DISCUSSION