Duka Pengemudi Taksi Online

Portaltiga.com – Semenjak ada permenhub Nomor 108 Tahun 2017 tentang Angkutan Orang Tidak dalam Trayek, para pengemudi taksi berbasis daring mulai mengeluhkan tentang nasib pekerjaan mereka.

Kabupaten Sidoarjo sedikit mendung saat tim Portaltiga.com bertemu beberapa pengemudi taksi online yang parkir di dekat gedung NU Sidoarjo. Beberapa sopir tampak murung dan saling curhat di warung kopi. Portaltiga.com mampir dan sempat berinteraksi dengan salah seorang pengemudi taksi daring bernama Dony.

Sudah hampir 2 tahun Dony berkecimpung di taksi online sejak ia menjadi korban PHK dari perusahaan tempat ia bekerja dulu. Awalnya ia mulai merintis dengan menggunakan armada kecil. Dony merasakan buah manis dari usahanya di tahun pertama sehingga ia mengganti kendaraannya dengan ukuran mini van untuk mengangkut keluarga. Tahun pertama ia lewati dengan lancar tanpa hambatan dalam sebulan diluar uang cicilan mobil dan bensin ia bisa mendapat penghasilan bersih 5-7 juta rupiah.

Banyak teman-temannya yang tertarik dan ikut menjadi sopir taksi online. Adanya kemudahan poin dan bonus dari perusahaan penyedia jasa Taksi online juga menjadi alasan dony dan teman-teman untuk fokus dalam mencari penumpang.

“Ini mas, kalo main di taksi on line harus fokus, seperti saya sama temen-temen ikut di perusahaan penyedia jasa Taksi online yang memberikan poin dan bonusan di waktu-waktu tertentu seperti saat rush hour (jam sibuk: Red),” jelas Doni saat ditemui, Selasa (6/2/18).

Doni menjelaskan kalau pemilihan tempat dan membaca waktu adalah salah satu kunci yang menjadi lancarnya orderan bagi taksi on line.

“Kalau kita mas, biasanya harus jeli tau waktunya kapan ngetem di dekat area kampus, pertokoan atau pusat perbelanjaan dan perkantoran. Biasanya ini kebaca pada jam-jam dimana banyak orderan di area tertentu dan biasanya analisa ini hasil dari sharing para sopir taksi online,” jelas Dony.

Namun kini, dengan emakin banyaknya armada taksi, adanya sopir taksi yang “nakal” dangan menggunakan “Tuyul” atau fake GPS dan aturan tentang trayek kian mempersempit pendapatan para sopir taksi on line ini.

Sepinya pendapatan mulai dirasakan Dony dan kawan-kawan mulai awal January hingga kini. Per hari Dony pulang hanya membawa uang 278.000 dan itu pun sudah termasuk uang operasioanal dan bensin. Dony berharap pemerintah bisa membantu dengan memberi kebijakan yang berimbang antara sesama angkutan umum, menertibkan pengguna “Tuyul” dan keadaan segera membaik. (doy/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION