Brutus-Brutus di Tahun Politik

01/01/2018
197 Views

Esai : Mochtar W Oetomo

Sekarang kita tengah berada di hari pertama tahun 2018. Gegap gempita perayaan Tahun Baru usai sudah. Tahniah. Selamat tahun baru 2018. Selamat memasuki panasnya suhu tahun politik.

Di tanah Bang Wetan ini, di Jawa Timur tercinta ini akan ada 19 perhelatan Pilkada. 18 Daerah kabupaten/kota akan menggelar pemilihan bupati/wakil bupati dan pemilihan wali kota/wakil wali kota. Ditambah 1 perhelatan pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Tepatnya hari Rabu, 27 Juni 2018 Jatim akan gegap gempita dengan kontestasi Pilkada serentak. Sudah pasti jika suhu politik akan meningkat dan barangtentu akan berimbas pada segala sektor kehidupan di Jatim ini. Apalagi Pilkada serentak 2018 tak mungkin lepas dari pengaruh panasnya suhu Pileg dan Pilpres di tahun 2019 nanti. Ya ya ya. Selamat Tahun Baru 2018.

Konon. Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Tidak lama sebelum Caesar terbunuh secara mengenaskan oleh konspirasi 40 senator yang selama ini menjadi pendukung utama kekuasaan dan kediktatorannya pematangan penanggalan Masehi itu dilakukan. Marcus Junius Brutus sang pembunuh Caesar notabene justru orang yang selama ini dikenal paling dekat, paling dipercaya dan paling setia. Tragedi kematian Caesar ini kelak kemudian hari lebih dikenal sebagai Tragedi Brutus. Tragedi yang membawa Kekaisaran Agung Romawi terbakar dalam perang saudara berdarah-darah akibat kematian Caesar yang tragis dan pengkhianatan Brutus yang culas dan keji.

Ya ya ya. Tragedi Brutus yang kelak kemudian hari terjadi dan terjadi lagi dalam berbagai kisah perebutan kekuasaan. Pengkhianatan bahkan pembunuhan dari orang terdekat, orang terpercaya, orang tersetia dalam dunia politik lazim terjadi dimana saja dan kapan saja. Musuh paling berbahaya dalam dunia politik dan dalam kisah perebutan kekuasaan justru orang yang paling dekat dan sehari-hari ada di sekitar. Selalu ada sindrom Brutus dalam politik. Selalu ada tragedi Brutus dalam setiap perebutan kekuasaan.

Dalam kisah Damarwulan ada Brutus Layang Seta-Layang Kumitir. Dalam tragedi Brawijaya Pamungkas ada Brutus Raden Patah. Dalam pralaya Sekar Seda Lepen ada Brutus Sunan Prawoto. Dalam berakhirnya kekuasaan Hadiwijaya di Pajang ada Brutus Sutawijaya. Dalam kisah sedih Amangkurat I ada Brutus Amangkurat II. Dalam tragedi 65 ada Brutus-Brutus yang tak terhitung. Dalam sejarah lengsernya Soeharto ada Brutus Harmoko. Ya ya ya. Dalam setiap kisah perebutan kekuasaan selalu ada sindrom Brutus baik yang terungkap atau tidak terungkap oleh sejarah.

Pun dalam sebuah kontestasi Pileg, Pilpres dan Pilkada. Selalu ada kemungkinan mewabahnya sindrom Brutus. Bukan hal yang tidak mungkin juga sindrom Brutus itu akan mewarnai kontestasi 18 Pilbub dan Pilwali serta Pilgub di Jatim kita tercinta ini. Maka tak salah jika kita ingat pesan almarhum Bang Napi “Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat tapi seringkali juga karena terbukanya kesempatan”.

Kekejian Brutus pun tidak berawal dari niat, tapi dari terbuka lebarnya kesempatan. Maka, Wapadalah…waspadalah….!!!

Ridwan Kamil salah satu kandidat kuat di Pilgub Jabar tiba-tiba ditinggalkan Golkar pada waktu-waktu akhir. Dedy Mizwar yang sedemikian dekat dan mesra bak keluarga sendiri dengan PAN dan PKS tiba-tiba saja ditinggalkan di masa injury times. Bahkan tanpa canggung sedikitpun PAN dan PKS membelot ke Gerindra untuk mengusung Sudrajat-Ahmad Saikhu. Benar-benar seperti tusukan Brutus ke jantung Caesar. Di berbagai daerah yang menggelar Pilkada lazim kita jumpai partai-partai dengan penuh semangat mendorong kadernya untuk berkontestasi. Tapi di detik akhir meninggalkan kader yang sudah berdarah-darah tersebut dan lebih memilih kandidat nonkader atau bahkan kader partai lain dengan berbagai alasan. Bukankah ini juga sindrom Brutus?

Cobalah simak sendiri-sendiri apa yang terjadi dengan berbagai kontestasi Pilkada di berbagai daerah di Jatim. Simaklah Bondowoso, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Lumajang, Kabupaten Pasuruan, Kota Malang, Kota Kediri, Tulungagung, Jombang, Nganjuk, Kota dan Kabupaten Madiun, Kota Mojokerto, Magetan, Bojonegoro, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan.

Berapa kader partai yang awalnya di dorong-dorong untuk maju kontestasi tapi diakhir perjalanan ditinggalkan tanpa pesan dan kesan oleh partainya untuk kemudian membelot ke kandidat lain yang non kader atau bahkan lebih tragis lagi membelot ke kader partai lain.

Di Pilgub Jatim sendiri simaklah bagaimana sindrom Brutus menyendawan bak di musim hujan. Halim Iskandar yang telah beradah-darah selama sekian tahun harus merelakan impiannya pada Gus Ipul. Kusnadi, Kanang dan Handoyo harus menghembuskan nafas berat saat PDIP lebih memilih Abdullah Azwar Anas yang notabene bukan kader sejati. Hasan Amminuddin, Ipong Muchslisoni, Nurhayati Ali Asegaf, Mussafa Noer harus kalah bersaing dengan Emil Dardak yang notabene diklaim PDIP sebagai kadernya. Dan mungkin nanti masih akan menyisakan Soepriyatno, Anwar Sadad, Masfuk, Suyoto dan Anang Hermansyah yang bisa jadi juga akan mengalami tragedi Brutus. Sebagaimana beberapa minggu ini kita simak La Nyalla M Mattalitti yang notabene mengaku sebagai kader Gerindra dan telah berdarah-darah membela Prabowo di Pilpres 2014 harus tersingkir dari kontestasi Pilgub Jatim dengan hampir tanpa pembelaan sama sekali.

Ya ya ya. Dalam setiap pusaran perebutan kekuasaan selalu saja ada peluang munculnya Caesar-Caesar yang akan dikhianati dan bahkan dibunuh oleh orang terdekatnya, Brutus. Dan dalam setiap pengkhianatan dan konspirasi pembunuhan, seperti konspirasi yang terjadi pada pembunuhan Caesar selalu menyimpan potensi perang saudara berdarah-darah di kelak kemudian hari. Dalam kontestasi pilkada selalu menyisakan perang saudara di internal partai karena kekecewaan salah satu kandidat dengan barisan pendukungnya.

Bahkan jika tak terkendali bisa menjelma menjadi perang saudara lintas partai, lintas kekuatan sosio-kultural-politik yang bisa jadi akan menyeret-nyeret kekuatan akar rumput di tengah masyarakat. Banyak sudah contoh peristiwa yang terjadi. DKI Jakarta masih jelas terngiang dalam ingatan kita. Bagaimana dengan Jatim? Yuk, kita simak bersama sambil menikmati hembusan angin pertama di tahun 2018 ini. Tahniah. Tahniah. Tahniah.

* Penulis adalah dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

Leave A Comment