Mantan Atlet Nasional Kritisi Pengosongan Kolam Renang KONI Jatim

Baca Juga : Ketika Asa Petani Rumput Laut di Sumenep Masih Tersekat

Portaltiga.com - Langkah Pemprov Jatim mengosongkan Kolam Renang KONI Jatim sebagai bagian dari penertiban aset Pemprov Jatim mengundang protes keras dari tokoh olahraga. Salah satunya adalah mantan atlet berkuda nasional, Singky Suwaji. "Penertiban boleh saja, karena itu bagian dari administratif. Tapi jangan sampai mengorbankan atlet, karena kolam renang dikosongkan dari segala kegiatan," tegasnya kepada portaltiga.com di Surabaya, Kamis (12/10/2017). Menurutnya, pengosongan kolam dari segala bentuk kegiatan berdampak pada prestasi atlet. Sebab, atlet renang membutuhkan latihan rutin di kolam renang dengan jarak lintasan tertentu. Misalnya, berlatih di lintasan 50 meter. "Antara latihan renang di lintasan 50 m dengan 25 m itu berbeda. Atlet yang sudah terbiasa berlatih di lintasan 25 m akan kesulitan berlatih di jarak 50 m. Demikian sebaliknya," ungkapnya. Singky mengatakan demikian, karena khawatir kolam renang KONI Jatim akan bernasib sama dengan kolam renang Tegalsari dan Brantas. Kedua kolam renang dengan lintasan 25 m itu hanya tinggal kenangan setelah dibongkar. "Kalau kolam renang KONI Jatim dikosongkan, atlet mau latihan kemana lagi. Di Surabaya sudah tidak ada lagi kolam renang yang berstandar nasional. Masak atlet Surabaya harus berlatih di luar daerah," jelasnya. Perlu diingat, lanjut Singky, banyak bibit-bibit perenang yang berlatih di kolam renang KONI Jatim. Mereka berasal dari klub-klub hebat, seperti Hiu. Belum lagi even-even yang biasanya menggunakan kolam renang ini. "Kalau dikosongkan, even seperti kejurda dan kejurnas renang dan selama akan digelar kemana. Herannya lagi, tanpa ada kepastian sampai kapan pengosongan itu dilakukan. Yang tertera hanya dikosongkan sejak 1 Desember," tanyanya lagi. Seharusnya, tambahnya, penertiban kolam renang tidak perlu harus melakukan pengosongan segala. Penertiban itu hanya masalah administratif, sehingga yang perlu diperbaiki administrasinya. "Saya setuju sekali kalau sampai pemprov menertibkan seluruh asetnya. Bila perlu yang mengelola nanti pemprov daripada diserahkan pengelolaannya ke pihak lain. Hanya nanti yang mengelola harus betul-betul mengerti olahraga," paparnya. (bmw/abi)

Ikuti update berbagai berita pilihan dan terkini dari portaltiga.com di Google News.

Berita Terkait
Berita Terpopuler
Berita Terbaru