Portaltiga.com – Surabaya Great Expo (SGE) mencatat total transaksi lebih dari Rp30,3 miliar sepanjang penyelenggaraan 2022–2025. Ajang yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya itu tidak hanya menjadi sarana promosi produk lokal, tetapi juga memperkuat daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui fasilitasi legalitas usaha.
Selama empat tahun terakhir, sekitar 370 UMKM binaan Pemkot Surabaya mengikuti SGE. Selain memperoleh kesempatan memasarkan produk, para pelaku usaha juga difasilitasi mengurus sekitar 450 dokumen legalitas, meliputi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, tingginya nilai transaksi membuktikan bahwa pelaku UMKM masih membutuhkan ruang promosi yang berkelanjutan. Setiap penyelenggaraan SGE, transaksi rata-rata mencapai Rp7 miliar hingga Rp9 miliar.
"SGE sejak beberapa tahun terakhir sudah menggerakkan uang lebih dari Rp30 miliar. Setiap pameran rata-rata perputarannya Rp7 miliar sampai Rp9 miliar. Ini menunjukkan bahwa tempat bagi UMKM untuk memasarkan produknya memang sangat dibutuhkan," kata Eri, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, pameran tidak hanya berfungsi sebagai tempat berjualan, tetapi juga harus diiringi dengan penguatan fondasi usaha. Karena itu, Pemkot Surabaya terus membantu pelaku UMKM mengurus berbagai kebutuhan legalitas, seperti sertifikasi halal dan pendaftaran merek.
"Pameran ini bukan hanya soal menampilkan dan menjual produk. Bagaimana kita memberikan sertifikat halal dan membantu sertifikat merek, itu yang sangat dibutuhkan UMKM. Pemerintah tugasnya memfasilitasi," ujarnya.
Untuk memperluas akses pasar, Pemkot Surabaya berencana menggelar pameran UMKM secara rutin setiap tiga bulan dengan memanfaatkan Surabaya Urban Creative Hub (Sub Expocenter) di kawasan bekas Hi-Tech Mall.
"Kita bisa melakukan pameran seperti ini mungkin tiga bulan sekali. Jadi ada tempat untuk menampilkan barang-barang UMKM, dilihat masyarakat, dan dipasarkan. Ketika kita memfasilitasi, pergerakan ekonomi itu akan berjalan sendiri," tuturnya.
Baca Juga : Untag Surabaya Gandeng UTHM Maksimalkan Potensi Kerupuk Ikan
Selain mendorong pertumbuhan usaha, Eri mengapresiasi keterlibatan anak-anak disabilitas dalam pengembangan ekonomi kreatif. Pada SGE 2026, sejumlah desain batik hasil kolaborasi desainer dengan anak-anak Rumah Anak Prestasi (RAP) turut dipamerkan.
"Saya tadi semangat sekali karena anak-anak kita bisa menjadi bagian dari desainer dan memberikan contoh. Ini yang harus terus kita dorong," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, mengatakan SGE menjadi wadah yang mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli sekaligus membuka peluang kerja sama bisnis.
Baca Juga : Komisi C DPRD Jatim Minta Prokesra Segera Diadakan Lagi, UMKM Butuh Kehadiran Pemerintah
"SGE menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, pembeli, dan masyarakat untuk membangun jejaring bisnis yang produktif. Kami berharap dampaknya tidak berhenti pada transaksi selama pameran, tetapi berlanjut pada pertumbuhan usaha yang berkelanjutan," ujarnya.
SGE 2026 berlangsung pada 5–9 Agustus di Exhibition Hall Grand City Surabaya dengan melibatkan 106 peserta dan 142 stan. Peserta berasal dari perangkat daerah, BUMD, BUMN, UMKM, koperasi, perusahaan swasta, asosiasi usaha, hingga pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Pemkot Surabaya menargetkan transaksi sebesar Rp7 miliar dengan jumlah kunjungan sekitar 47.650 orang. Selain pameran produk, masyarakat juga dapat mengakses berbagai layanan publik, seperti pendampingan sertifikasi halal, pendaftaran merek, perizinan usaha, hingga layanan paspor.
Melalui konsep tersebut, SGE diharapkan tidak hanya menjadi etalase produk lokal, tetapi juga mampu memperkuat legalitas usaha, memperluas jaringan pemasaran, serta mendorong pertumbuhan UMKM Surabaya secara berkelanjutan.
Ikuti update berbagai berita pilihan dan terkini dari portaltiga.com di Google News.