Ketika Yang Halal Dilarang Masuk

Seorang pria duduk di sebelah, di depannya ada segelas es teh, asbak, sebungkus rokok, korek apa, dan lembaran kertas semacam catatan. Ia mengaduk es teh menggunakan sedotan. Air teh dan es batu itu berputar-putar membuat gelas seperti berkeringat di siang yang terik. Sedotan itu dibuang, lalu ia minum langsung es teh itu dari gelas. Diambilnya sebatang rokok, disulut hingga asap putih nikotin bercampur tar mengepul. Matanya menerawang memandangi lembaran kertas, diraih dengan tangan kanan lalu dibaca. Ia tiupkan asap rokok seolah ingin menghempaskan sebuah beban.

“Semakin tak mudah berjualan sekarang,” kata tenaga marketing sebuah produk peralatan masak itu. Dari target bulanan yang haru dicapai, ia baru mencapai 20%. “Padahal sekarang sudah tanggal sepuluh tapi yang terjual masih segini,” imbuhnya. Lalu ia letakkan lagi kertas itu di atas meja.

Datang seorang perempuan pengemis. Badannya begitu segar meski kulit dan pakaiannya tampak kumal. Pengunjung warung Ramones Jalan Menur Surabaya dihampiri satu per satu. Terlihat ada yang menolak, tapi tak sedikit yang memberinya uang. “Lebih mudah pengemis cari uang dari pada marketing. Meskipun nasib kita hampir sama,” katanya, setelah memberi uang pada pengemis itu.

Arman, nama laki-laki itu. Ia tinggal di kawasan Tanjungsari, namun wilayah tugasnya di Surabaya Selatan. Selain ke toko-toko, ia juga menawarkan produknya langsung ke rumah-rumah warga. Untuk produk yang dipasarkannya harga memang terlalu mahal untuk masyarakat menengah ke bawah yang tinggal di perkampungan. Tapi memasarkannya langsung pada warga perumahan juga sangat sulit.

“Baru di depan gang sudah dihadang satpam, dilarang masuk perumahan. Biasa, alasan demi keamanan,” keluhnya. “Ya bagaimana lagi, satpam juga hanya menjalankan tugas,” ia bijak bersikap.

Sebab itu lah tadi Arman sempat mengatakan jika nasibnya sama dengan pengemis. Di perumahan-perumahan, meski tak semua tapi nyaris semua, selalu ada tanda larangan masuk. Di sebuah papan tertulis beberapa orang yang “diharamkan” memasuki wilayah perumahan, diantaranya pengemis, pemulung, sales, pengamen, peminta sumbangan dan beberapa lainnya.

Arman mengambil sebuah koran. Beberapa berita dibacanya sekilas. Lalu matanya berhenti pada sebuah berita tentang tindak kejahatan. “Ngeri, sekarang semakin banyak perampasan dan perampokan,” ucapnya. Lalu bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. “Lha yo aneh, di papan itu kok maling, rampok bajingan tidak termasuk yang dilarang masuk,” celetuknya. Ia pun menertawakan dirinya sendiri. Ironis, yang mencari rejeki dengan cara halal dengan tegas dilarang.

Tak salah yang dikeluhkan Arman. Di perumahan-perumahan Surabaya, mungkin juga kota lain, banyak papan peringatan tersebut. Selain itu juga masih ditambah portal yang membuat orang tidak bisa sembarangan masuk pada jam-jam tertentu. Alasannya pasti demi keamanan. Tapi alasan ini semacam paranoid masiv dari imbas sikap individualis masyarakat perkotaan di permukiman (baca: perumahan) yang baru terbentuk.

Faktanya, aksi kejahatan semacam pencurian dan perampokan lebih banyak terjadi di perumahan. Sedangkan di kampung? Jelas jarang. Ini bukan tentang beda kelas ekonomi. Banyak juga warga kampung yang kaya. Di perkampungan, pengemis, sales, marketing, pengamen dan lainnya bisa berikhtiar mencari rejeki.

Eksklusivisme Kelas Menangah Baru

Fenomeno ini pun diakui Andri Arianto MA marak terjadi di perkotaan. “Papan tulisan itu sering ada di komplek perumahan-perumahan. Ini adalah fenomena kelas menengah kota besar,” kata sosiolog Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS).

Diterangkan, berkembangnya varian pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi, memunculkan kelas menengah baru. Meskipun tidak terlalu jelas kelas menengahnya. “Kelas menangah ini tidak jelas karena variabel konsumtif. Tuntutannya atas golongannya (kelas) cukup variatif,” kata Andri.

Andri menerjemahkan isu-isu kelas menengah itu tercirikan dalam beberapa hal, diantaranya sistem transportasi yang baik, jalan yang tidak macet, kejelasan sistem administrasi, lingkungan yang bersih dan baik, serta lain-lainnya.

Namun, kata Andri, perilaku kelas menengah baru ini pada praktiknya hanya melahirkan eksklusivisme belaka. “Misal, ketika memiliki rumah baru di perumahan-perumahan baru Mereka mengidealkan perumahan mereka (kelas menengah baru), itu seperti perumahan elite kelas atas yang sudah ada,” ungkap pria asli Surabaya ini.

Sehingga, perumahan-perumahan kelas menengah itu mengadopsi sistem portal gate, membayar petugas keamanan untuk menjaga lingkungan.

“Termasuk kemudian juga melarang pemulung dan lainnya itu masuk ke komplek perumahan,” katanya. Hal ini dilakukan, imbuh Andri, karena pemulung dianggap membuat kotor lingkungan, ancaman terhadap harta benda mereka. Terkesan tidak elite sebuah perumahan jika banyak lalu lalang pemulung.

“Terkedang kelas menengah lupa asal kelas sebelumnya. Itu karena imaji mereka terhadap kelas atas,” kata sosilog yang juga menjadi dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Kelas menengah baru ini terkadang lupa jika awalnya mereka juga dari kelas bawah. Kelas yang masih begitu kental dengan solidaritas antar-sesamanya.

Ditandaskan, fenomena ini bukan semata untuk alasan keamanan, tapi ternyata lebih disebabkan imaji kelas menengah baru yang ingin hidup seperti elite. (zaki zubaidi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION