portaltiga.com
Politika

Ingin Menang Pilgub Jatim, Gus Ipul dan Khofifah Harus Kalahkan Mitos Ini

Portaltiga.com – Jika ingin memenangi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur Tahun 2018, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa harus mampu mengalahkan mitos. Agar bisa memecahkan mitos tersebut salah satu kuncinya adalah mampu mengusasi pemilih dari generasi milenial.

Berdasarkan potret lembaga konsultan politik terkemuka iPOL Indonesia, tantangan terbesar bagi Gus Ipul adalah mematahkan mitos banyaknya kekalahan yang dialami wakil gubernur saat maju menjadi calon gubernur dalam perhelatan Pilkada Serentak yang berlangsung di seluruh Indonesia.

Dicontohkan, Wagub Mu’alimin yang maju sebagai Cagub di Pilgub Aceh mengalami kekalahan, kemudian Rano Karno di Pilgub Banten, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilgub DKI Jakarta maupun Rustam Efendi di Pilgub Bangka Belitung.

“Mampukah Gus Ipul melawan mitos Wagub sulit menang kalau maju menjadi Cagub. Pilgub Jatim mendatang tentu sangat menarik,” ujar Petrus Hariyanto CEO iPOL Indonesia, di Surabaya, Rabu (1/11/2017).

Sebaliknya, mitos buruk bagi sang rival yaitu Khofifah Indar Parawangsa, lanjut Petrus adalah pernah kalah dua kali secara beruntun dalam Pilgub Jatim tahun 2008 dan tahun 2013 lalu. “Khofifah harus cerdas dan jeli memilih wakil yang kuat mendulang pundi-pundi suara supaya tidak terjebak salah pilih wakil gubernur, jika tidak bisa kalah untuk ketiga kalinya secara beruntun,” ungkapnya.

Untuk dapat menghapus mitos tersebut, iPOL Indonesia menyarankan supaya kedua cagub dari kader terbaik Nahdlatul Ulama (NU) memperhatikan pemilih dari generasi milenial (Y & Z). Terlebih dari data statistik, bonus demografi Jatim adalah 43,97 persen dari total penduduk yang mencapai 38,85 juta jiwa. “Artinya ada sekitar 17,1 juta jiwa penduduk yang berusia produktif yang masuk kategori pemilih rasional,” jelas Petrus.

Dari jumlah tersebut, generasi milenial atau penduduk yang lahir antara tahun 1981-1994 (usia 17-35 tahun) mencapai 37,68 persen jumlah penduduk atau setara dengan 14.508.800 juta jiwa. “Siapa yang mampu menguasai separoh saja pemilih dari generasi milenial, maka potensi menangnya sangat besar,” tegas pria asli Surabaya ini.

Karakteristik generasi milenial yang perlu diketahui oleh pasangan calon maupun tim pemenangan adalah  mereka lebih percaya User Generated Content (UGC). Artinya konten yang di publish oleh tim sukses atau relawan di media massa tidak serta merta mempengaruhi keputusan memilih. “Karena itu pesan viral yang disampaikan pasangan calon dan tim sukses harus benar-benar selektif, karena mereka tergolong pemilih rasional,” tegas Petrus.

Kendati demikian, generasi milenial juga memiliki kelemahan yaitu literasinya sangat lemah sehingga cendrung copy paste (mereproduksi) terhadap kabar atau berita yang diviralkan oleh para patron generasi milenial.

“Patron generasi milenial sangat mempengaruhi pilihan suara di Pilgub Jatim mendatang. Media juga sangat berperan karena kerap dijadikan sebagai bahan rujukan karena masih menerapkan kode etik jurnalistik,” imbuhnya.

Sementara itu Tim Ahli iPOL Indonesia Maman Suherman menambahkan para Cagub di Jatim akan cenderung mencari pasangan dari kalangan milenial atau orang yang pemikirannya bisa menjembatani generasi milenial.

“Terbukti, Gus Ipul memutuskan  Abdullah Azwar Anas sebagai pasangannya. Bahkan tidak menutup kemungkinan Khofifah juga akan mencari pasangannya dari kelompok milenial, seperti Emil Dardak maupun Anang Hermansyah,” kata Maman.

Sayangnya, perjodohan pasangan Cagub dan Cawagub untuk saat ini masih ditentukan oleh partai politik, sehingga kandidat kerap tak berdaya dan harus menerima apa adanya pilihan dari partai-partai pengusung.

“Pasangan Gus Ipul-Anas adalah gambaran keinginan parpol dan masyarakat. Kalau Khofifah tidak mengambil pasangan dari generasi milenial maka dia harus berani mengubah penafsiran bahwa milenial itu bukan hanya dari faktor usia tapi juga orang yang bisa mempengaruhi kalangan milenial. Kalau bukan Wagub ya timsuksesnya,” kata Maman.

Ia juga berharap parpol-parpol harus melakukan pengkaderan calon pemimpin sehingga saat mengikuti elektoral Pilkada, parpol tidak harus mengambil orang-orang dari lintas partai di tengah jalan hanya karena popularitasnya sebab parpol bisa ditinggalkan pemilih-pemilih yang loyal.

“Kalau pimpinan pusat partai selalu menggunak hak veto dalam menentukan pasangan calon yang diusung di Pilkada, bisa jadi kader partai yang dibawah justru tak sejalan dan diam sehingga mesin partai tak jalan, akibatnya pasangan calon yang diusung partai sering  kalah,” pungkas pria berkacamata ini. (fat/abi)

Related posts

Puti Dukung Percepatan JIIPE Di Gresik 

admin

Kaum Nasionalis Kultural Hadiahi Emil Ayam Jago, Apa Maksudnya?

admin

Bertemu Nelayan Banyuwangi, Gus Ipul Dicurhati Larangan Menangkap Lobster Kecil

admin