Opini

Puti dan Tahta Baka

Esai : Mochtar W Oetomo Rakai Pikatan Mpu Manuku (840-856) dan Pramodawardhani benar-benar tersentak dalam gundah gulana. Rakai Pengging Dyah Badra yang digadang-gadang akan mampu menaklukkan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni (806-846) dan merebut tahta Kraton Baka, tiba-tiba saja undur diri dari medan perang karena alasan perempuan. Ya ya ya. Karena Rakai Pengging terjerat cinta puteri Kraton Baka. Bagi Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, Rakai Pengging adalah jago terbaik dan terunggul bumi Medang Mataram yang secara matematis paling potensial untuk bisa mengalahkan Rakai Walaing dan merebut tahta Kraton Baka. Pasca mundurnya Rakai Pengging sungguh tak mudah mencari pengganti yang sepadan untuk turun ke medan laga guna melawan Rakai Walaing yang masyhur sebagai kesatria pilih tanding dan didukung pasukan yang militan dan terlatih. Kegundahan akibat mundurnya Rakai Pengging makin bertambah-tambah manakala di internal istana Medang Mataram terjadi persaingan terselubung antara kedua putranya, Rakai Gurunwangi Dyah Saladu dan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapa. Kedua Rakai merasa paling layak dan pantas mewarisi kerajaan peninggalan moyangnya. Masing-masing pun didukung oleh faksi-faksi politik internal kerajaan yang kekuatannya sebanding dan setanding. Persaingan terselubung yang membuat cuaca politik Medang Mataram memanas, pengap dalam degup nafas ambisi meraih kekuasaan. Jika dibiarkan berlarut Kerajaan Medang Mataram bisa terbakar luluh dalam perang saudara yang akan menggerus seluruh reputasi dan kejayaan Wangsa Sanjaya yang telah susah payah dibangun oleh para moyang sejak masa Raja Kartikeyasinga (648-674) dan Ratu Sima (674-695), saat Medang Mataram masih bernama Kalingga. Maka inilah perjudian Rakai Pikatan yang disetujui oleh sang permaisuri Pramodawardhani. Dikirimlah Rakai Kayuwangi ke medang perang untuk melawan Rakai Walaing sekaligus merebut tahta Kraton Baka. Dengan langkah ini Rakai Pikatan berharap dua persoalan sekaligus teratasi. Konflik perebutan pengaruh antara Rakai Gurunwangi dan Rakai Kayuwangi setidaknya bisa diendapkan untuk sementara waktu. Bahkan kalau Rakai Kayuwangi berhasil mengalahkan Rakai Walaing dan merebut tahta Kraton Baka, maka konflik antar dua saudara yang bisa mengancam eksistensi Kerajaan Medang Mataram akan redam dengan sendirinya. Rakai Kayuwangi mendapatkan tahtanya di Keraton Baka, sementara Rakai Gurunwangi tetap aman dengan impiannya menduduki tahta Medang Mataram. Ya ya ya. Kegelisahan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani adalah kegelisahan Megawati dan segenap fungsionaris PDIP atas mundurnya Abdullah Azwar Anas dari gelanggang perang Pilgub Jatim melawan Khofifah Indar Parawansa (KIP)-Emil Dardak. Sebagaimana Rakai Pikatan memandang hanya Rakai Pengging-lah yang paling potensial untuk mengalahkan Rakai Walaing dan merebut tahta Kraton Baka, Mega-pun berpandangan demikian terhadap Anas. Anas dipandang sebagai sosok yang paling pas mendampingi Gus Ipul (GI) untuk bisa merebut Kursi Jatim 1 dan 2. Dengan segenap prestasi moncer selama menjadi Bupati Banyuwangi ditambah dengan elektabilitasnya yang selalu nomer wahid sebagai Bacawagub. Anas ibarat Rakai Pengging yang siap maju ke medan laga dengan segenap atribut "kesaktian" dan "pasukan"-nya. Mundurnya Anas karena tragedi foto paha benar-benar membuat gundah gulana Mega. Pertanyaan terus berkumandang bukan hanya dari hati dan fikirannya, tapi dari seluruh penjuru Jatim, "Siapa pengganti Anas yang layak dan pantas untuk mendampingi GI?". Setelah berhari-hari publik larut dalam drama pemilihan pengganti Anas, keputusan mengejutkan ditetapkan oleh Mega. Tanpa dinyana dan diduga oleh banyak orang Mega menunjuk Puti Guntur Soekarno menyisihkan banyak nama lain yang masuk dalam pusaran seperti Ahmad Basarah, Budi Kanang, Kusnadi, Untari dan Ipong. Sama persis dengan terkejutnya para kesatria dan rakyat Medang Mataram saat Rakai Pikatan menunjuk Rakai Kayuwangi untuk turun gelanggang perang menghadapi Rakai Walaing. Sebagian besar kesatria dan publik Medang Mataram beranggapan pilihan terhadap Rakai Kayuwangi adalah perjudian besar. Bukan karena Rakai Kayuwangi tak sepadan dibanding Rakai Pengging. Tapi selama ini nama Rakai Kayuwangi tak pernah muncul di orbit pembicaraan publik sebagai jago yang layak untuk berhadapan dengan Rakai Walaing. Rakai Kayuwangi dianggap oleh sebagian orang tidak menguasai medan tempur di Kraton Baka. Lebih dari itu track recordnya sebagai kesatria selama ini juga belum teruji benar. Basis pasukan pendukungnyapun tidak sekuat Rakai-Rakai yang lain, seperti Rakai Poh Duwur Dyah Ranu, Rakai Watuhumalang Mpu Teguh atau Rakai Limus Dyah Dewendra. Rakyat Medang Mataram benar-benar heran dan bertanya-tanya sesungguhnya apa yang menjadi pertimbangan Rakai Pikatan sehingga memilih Rakai Kayuwangi. Bagi rakyat Medang Mataram, pemilihan terhadap Rakai Kayuwangi adalah sebuah perjudian besar. Sebab jika sampai gagal merebut tahta Baka, maka ruputasi mentereng Medang Mataram akan ambruk. Ya ya ya. Sebagaimana keraguan banyak pengamat dan publik Jatim atas terpilihnya Puti Guntur Soekarno sebagai pendamping GI. Selama ini nama Puti tidak pernah terdengar dalam kontestasi Pilgub Jatim. Bahkan terdengar nun jauh disana, di Jabar. Tidak pernah berproses baik secara formal maupun informal untuk running di Pilgub Jatim. Track record politiknya belum seberapa tebal apalagi berwarna emas. Tidak memiliki basis pemilih di Jatim karena kiprahnya lebih banyak di Jakarta dan Jabar. Pendek kata banyak yang bertanya-tanya apa sebenarnya pertimbangan Mega sehingga memilih Puti, dan bukannya Kanang, Kusnadi, Ahmad Basarah, Ipong atau lainnya yang lebih jelas konjungtur basis dukunganya. Bagi sebagian pengamat pilihan terhadap Puti ini adalah sebuah perjudian besar. Jika sampai kalah maka reputasi keluarga besar Soekarno dan PDIP dipertaruhkan. Maka tak heran jika di luaran, di kedai-kedai kopi lahir perbincangan bahwa sesungguhnya ini adalah upaya Mega untuk memecah konflik faksional yang selama ini terselubung di internal PDIP. Faksionalitas Puan Maharani versus Puti Guntur dalam berebut pengaruh untuk menjadi pewaris utama PDIP karena sama-sama memiliki gen dan ideologi Soekarno yang mengalir di darah masing-masing. Ya ya ya. Upaya Mega layaknya upaya Rakai Pikatan untuk menghindari perang saudara biologis dan . Upaya pedang bermata dua. Satu sisi untuk menjaga kenyamanan dan kepastian Puan sebagai pewaris utama, sebagaimana upaya Rakai Pikatan menjaga kenyamanan dan kepastian Rakai Gurunwangi untuk mewarisi tahta Medang Mataram. Di sisi lain tetap memberi tempat pada Puti untuk meluapkan hasrat politiknya dan mendapatkan eksistensi politiknya jika mampu merebut kursi Jatim 2, sebagaimana upaya Rakai Pikatan memberi tahta Kraton Baka pada Rakai Kayuwangi. Sebuah pilihan yang strategis tapi sekaligus berisiko. Tapi seorang Raja memang dituntut untuk mengambil langkah-langkah strategis dan sekaligus melampaui segala resiko. Rakai Pikatan mengirim Rakai Kayuwangi bukan untuk misi bunuh diri, tapi untuk menang, karena bagaimanapun Rakai Kayuwangi tetaplah anaknya. Sebagaimana kecil kemungkinan Mega mengirim Puti ke Jatim untuk menyingkirkannya -seperti dugaan beberapa pengamat- karena bagaimanapun baik secara biologis maupun ideologis Puti adalah keluarga sendiri. Putri kakaknya. Membawa nama Soekarno di belakangnya. Mempermalukan Puti sama halnya mempermalukan diri sendiri. Logikanya Mega dan PDIP akan menyokong penuh misi Puti di medan pertempuran Pilgub Jatim, sebagaimana dukungan penuh Rakai Pikatan untuk mewujudkan misi Rakai Kayuwangi mengalahkan Rakai Walaing. Rakai Pikatan menugaskan pasukan terbaik, para panglima dan senapati tertangguh, para teliksandi terpercaya dan para saudagar terkaya untuk mendukung penuh upaya Rakai Kayuwangi mengalahkan Rakai Walaing dan mendapatkan tahta Kraton Baka. Gerakan pasukan besar-besaran dilakukan secara massif dan terstruktur untuk memastikan keberhasilan Rakai Kayuwangi. Hari Ke-27 bulan Ke-6 tahun 846 Kraton Baka di kepung dengan kekuatan penuh dari segala penjuru. Pada saat bersamaan seluruh kelemahan lawan yang sudah diidentifikasi sejak Rakai Pengging dieksploitasi dan diserang habis-habisan. Maka runtuhlah Kraton Baka dalam waktu yang tak terlalu lama. Rakai Walaing berhasil dikalahkan oleh Rakai Kayuwangi dan tahta Kraton Baka pun berhasil direngkuh. Kemenangan gilang-gemilang yang melontarkan nama Rakai Kayuwangi membumbung ke angkasa Medang Mataram, menjadi buah bibir rakyat, pujaan dan tauladan. Seluruh rakyat mengelu-elukan keberhasilan Rakai Kayuwangi hingga menggetarkan istana Medang Mataram dan menciutkan hati Rakai Gurunwangi. Ya ya ya. Begitulah fakta dan pilihan yang tampaknya dihadapi oleh Mega. Jika benar Mega mengirim Puti ke Jatim untuk meraih kemenangan dan kemuliaan, maka upaya strategik ala Rakai Pikatan layak untuk menjadi rujukan dan kaca benggala. Bagaimanapun, seperti halnya Rakai Kayuwangi, Puti relatif jauh tertinggal dan memiliki waktu yang sangat terbatas untuk mewujudkan misinya. Ditambah dengan segala kekurangannya dan kelebihan yang dimiliki lawan, Puti sebagaimana Rakai Kayuwangi memerlukan dukungan penuh untuk pelipatgandaan kekuatan melalui berbagai exit dan extra strategy. Ya ya ya. Jika tidak mau menanggung luka dan lara, Mega dan PDIP rasanya pantas untuk mendaur ulang strategi pemenangan Rakai Pikatan dalam mewujudkan kemenangan Rakai Kayuwangi. Meski pada akhirnya kemenangan itu mengubur rencana Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Sekaligus meluluhlantakkan impian Rakai Gurunwangi untuk menggantikan kedudukan ayahnya. Karena kemenangan Rakai Kayuwangi atas Rakai Walaing telah melambungkan popularitasnya, sekaligus melahirkan dukungan tak terbendung hingga pada akhirnya kelak Rakai Kayuwangi-lah yang menduduki tahta Medang Mataram (856-880), bukan Rakai Gurunwangi. Akankah begitu juga jika Puti menang?? Kalau yang ini mah tergantung bagaimana Mega menyikapinya. Peperangan Baka (846) bisa menjadi kaca benggala bagi Mega bagaimana yang seharusnya mesti terwujud dan diwujudkan sesuai rencana. Dan bagi KIP-Emil Dardak-pun Peperangan Baka juga layak menjadi kaca benggala. Bahwa dalam perang puputan, bertahan saja tidak cukup untuk menang. Bahwa membangun benteng tinggi dan tebal di atas bukit hanyalah strategi menunda kekalahan. Merasa lebih kuat dari lawan bisa menjadi awal kekalahan. Lihatlah apa yang dipersiapkan Rakai Pikatan untuk kemenangan Rakai Kayuwangi, sehingga strategi antitesisnya bisa dipersiapkan lebih dini. Sebelum Rakai Kayuwangi dengan segenap pasukannya semakin dekat dan semakin dekat. Waspadalaaah...waspadalah.....!! *) Penulis adalah dosen Universitas Trunojoyo Madura

Ikuti update berbagai berita pilihan dan terkini dari portaltiga.com di Google News.

Berita Terkait