Webinar Untag Bicarakan Tema Sastra, Lingkungan, Dan Covid 19

Portaltiga.com – Prodi Sastra Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menyelenggarakan webinar bertajuk “Lingkungan, Prosa, dan Puisi”, Selasa (30/6/2020).

Hadir sebagai narasumber adalah visiting scholar di Untag Surbaaya, Dr. John Charles Ryan; dosen UGM Jogjakarta sekaligus novelis, Ramayda Akmal; dan penyair F. Aziz Manna. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta.

Dalam webinar kali ini membahas tentang persoalan tentang eksplorasi lingkungan, perubahan kondisi lingkungan, serta perumusan kebijakan lingkungan di tengah persoalan covid 19 yang berdampak kepada bidang lain, khususnya dalam bidang sastra.

F. Aziz Manna menjelaskan, dalam sastra, tema lingkungan juga menjadi salah satu tema yang dikerap digarap oleh penulis. Namun penulis sastra perlu mengendapkan karyanya, agar tidak menjadi karya sastra yang instan.

“Persoalan-persoalan sastra hanya menjadi semacam ‘kenyinyiran’ saja karena dipaksakan pada persoalan-persoalan yang sedang ‘booming’ (covid-19). Sastra membutuhkan pengendapan,” seru Aziz Manna, yang juga menjadi penyair pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa itu.

Narasumber lain, Ramayda Akmal juga menyampaikan bahwa dalam kondisi sedih dan kesulitan saat ini justru menjadi sumber kreativitas. “Menulis adalah kerja soliter, artinya kondisi ini justru menjadi situasi yang tepat. Namun, tentu saja latihan itu penting,” jelas kandidat doktor dari Hamburg University tersebut.

Ramayda juga menjelaskan bahwa tema lingkungan dalam karya sastra merupakan tema yang telah lama muncul dalam karya sastra Indonesia. Dalam ranah kritik dan penelitian, lingkungan juga menjadi wacana yang tidak habis untuk dieksplorasi.

Misalnya tentang pertentangan antara kebijakan negara dengan kebijakan masyarakat (indigenous local) dan hubungan antara rural dan urban yang selalu muncul secara konsisten di sastra Indonesia.

“Karya sastra juga bisa tampil sebagai ramalan-ramalan tentang masa depan. Misalkan tentang wabah corona ini, Albert Camus pernah menciptakan karya sastra berjudul ‘Sampar’, yaitu wabah yang menyerang umat manusia,” lanjut penulis novel Jatisaba itu.

Senada dengan dua narasumber tersebut, John Charles Ryan menyampikan bahwa karya sastra seringkali merupakan refleksi penulis terhadap kondisi lingkungan yang dihadapinya. Salah satu contoh adalah kebakaran hutan di Australia, hilangnya fungsi lingkungan bagi hewan-hewan, menjadi inspirasi bagi penulis.

“Memahami tradisi penggunaan tanaman atau tumbuh-tumbuhan dalam karya sastra memerlukan kajian teori yang luas, gaya yang bervariasi, dan latihan yang cukup sehingga menemukan kemungkinan penggunaan bahasa baru. Banyak puisi, khususnya sepuluh tahun terakhir, memandang tanaman secara lebih luas, dari sekedar objek yang indah atau benda yang dieksploitasi,” terangnya. (tea/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION

Translate »