UMK Naik, Daya Beli Properti Di Jatim Meningkat

 

Portaltiga.com: Naiknya Upah Minimum Kota/kabupaten di Jawa Timur memberikan dampak positif terhadap daya beli rumah atau properti kelas menengah. Dari survei Bank Indonesia Jawa Timur, Rasio harga rumah (primer) terhadap UMK, untuk mengukur daya beli masyarakat Kota Surabaya terhadap sektor properti, berada pada level 32,53 kali UMK.

Deputi Direktur Bank Indonesia Jawa Timur, Syarifuddin Bassara, mengatakan, hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat (khususnya kalangan menengah ke bawah) terhadap properti di Kota Surabaya dan sekitarnya, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu pada level 36,02 kali UMK.

“Kondisi yang disebabkan dari kenaikan UMK ini diyakini akan berlanjut hingga triwulan I-2016 yang diperkirakan akan semakin turun hingga level 29,09 kali UMK. Daya beli juga didukung dengan turunnya rata-rata suku bunga KPR dari 11,4% menjadi 11,2%.”ujarnya, kepada wartawan di Kantor BI Jatim, Selasa (16/02).

Selain itu, Ia menjelaskan, hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Primer[1] dan Sekunder[2] menunjukkan masih relatif stabilnya harga properti pada triwulan IV-2016.PerkembanganIndikator Harga Properti Residensial (IHPR) Pasar Primer mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada level 0,9% jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya (qtq). Begitu juga dengan rerata harga propertisekunder, yang menunjukkan kenaikan sebesar 0,67% (qtq).

“Kenaikan harga properti primer didorong oleh laju pertumbuhan bangunan. Hal tersebut terkonfirmasi oleh rasio harga tanah dibandingkan terhadap harga rumah yang terpantau turun menjadi 49,9% (qtq) pada triwulan IV-2015. Kenaikan harga bangunan masih menjadi penyebab terbesar kenaikan harga bangunan, disusul oleh adanya kenaikan upah kerja, harga bahan bakar minyak, biaya perizinan dan penambahan fasum perumahan.”katanya
Berbeda dengan properti sekunder, tambah Syarifuddin, peniharga properti secara dominan disebabkan oleh kenaikan harga tanah. Kekan harga tanah tercatat sebesar 1,07% (qtq) dengan peningkatan pada rasio harga tanah dibandingkan terhadap harga rumah pada triwulan II/2015.
“Hal ini disebabkan harga konstruksi untuk hunian rumah menengah atas sudah cukup tinggi sehingga harga rumah sudah tidak dapat naik terlalu tinggi. Kenaikan harga properti primer utamanya didorong oleh kenaikan pada rumah tipe menengah.”ungkap Syarifuddin. (TrishnO)

JOIN THE DISCUSSION