The Power of Recehan

Dengan bermodal uang yang banyak, pantas seseorang dipanggil bos. Ia juga akan dikelilingi banyak orang yang bersedia melayani. Tentu saja itu semua dengan pamrih, mendapat uang dari si bos. Tapi di Surabaya (mungkin kota besar lain juga), cukup bermodal uang recehan sudah bisa menjadi bos. The power of recehan….

Beberapa hari lalu, kami melintas di Jalan Bung Tomo. Sebenarnya hampir tiap hari kami melintasi jalan itu, namun beberapa hari lalu itu yang menjengkelkan. Lalu lintas dengan Taman Makam Pahlawan itu selalu padat. Selain ada persimpangan dengan Jalan Ngagel Rejo, juga karena ada perlintasan kereta api yang posisinya agak menanjak.

Siang itu, kami berboncengan agak tergesa karena harus bertemu seseorang di kawasan Jetis. Lalu lintas agak padat, tapi karena menggunakan sepeda motor kami bisa mencari celah jalan. Mendekati persimpangan Jalan Ngagel Rejo lalu lintas agak longgar. Kami sentai saja. Tapi tiba-tiba seorang polisi cepek menghadang menghalangi laju kamu. Beruntung rem sepeda motor masih pakem.

“Jancuk,” kami mengumpat nyaris bersamaan. Polisi cepek itu ternyata menyeberangkan sebuah mobil yang datang dari arah barat hendak belok ke selatan. Tangan sopir mobil itu terlihat terjulur keluar jendela pintu kanan depan, memberikan uang pada polisi cepek. Setelah mobil itu masuk ke Jalan Ngagel Rejo, polisi cepek berjalan lagi ke pembatas jalan.

“Repot pancene manusia koin,” celetuk kawanku yang memegang setir. Kami lalu melanjutkan perjalanan sambil menghibur diri karena kejadian menjengkelkan itu. “Cukup uang recehan, kita bisa mendapat pelayanan VIP di kota ini,” sindir Cahyadi. Ia menerangkan, untuk bisa mendapat prioritas di jalanan seseorang tidak perlu harus kaya atau menggunakan mobil. Pengendara sepeda motor juga bisa dapat layanan khusus itu.

“Lihat, kita akan jadi bos yang mendapat layanan istimewa,” katanya saat melihat polisi cepek berdiri di pertigaan dekat SPBU Jalan Ngagel. Cahyadi merogoh saku dan mengambil uang recehan Rp1000. Tangannya sengaja disodorkan agar terlihat mencolok oleh para polisi cepek itu. Melihat situasinya, seharusnya kami berhenti untuk menunggu giliran melintas. Namun tiba-tiba polisi cepek itu menghentikan laju kendaran-kendaraan itu. Kami melintas, Cahyadi memberikan uangnya. “Suwun bos,” teriak polisi cepek itu. Kami pun menjadi pengendara yang mendapat layanan VIP. Dan mungkin pengendara yang tadi dihentikannya menggerutu (seperti tadi kami mengumpat di kawasan Jalan Bung Tomo).

Kami tiba di kawasan Jetis. Kami mampir dulu ke Indomaret karena kebetulan rokok sudah habis. Di area parkir tertulis “BEBAS PARKIR”. Namun tetap saja ada juru parkir (Jukir) yang akan menarik duit jasa. Benar memang, begitu kami sudah siap di atas sepeda motor, seorang bertubuh kurus dengan banyak tato mendekat. Cahyadi merogoh saku. Uang kembalian beli rokok tadi diberikan, Rp2000. “Suwun bos,” ucap Jukir sangar itu. Jukir itu lalu cekatan meminggirkan sepeda motor yang menghalang.

“Ok bos, kita sekarang bertemu bos yang sebenarnya,” kata Cahayadi padaku, dan kami tertawa bersama. Ya, begitulah yang banyak terjadi di kota ini. Bebas parkir tapi tidak bebas bayar uang parkir. Bayar Rp500 akan dikatakan kurang, bayar Rp1000 sudah cukup, bayar Rp2000 tidak akan diberi kembalian. Tapi dengan uang-uang recehan itu kita sudah menjadi bos.

Banyak Bos, Recehan Melimpah

Bagi pemberi, uang recehan diberikan pada Jukir liar atau polisi cepekan, memang terkesan sepele dan kecil nilainya. Tapi jika dikumpulkan, uang recehan dari para bos itu sangat besar dan bisa menjadi mata pencaharian tetap para Jukir liar atau polisi cepekan.

Adalah Eka, salah satu polisi cepekan yang mengatur lalu lintas di pintu keluar sisi barat Kampus Universitas Airlangga (Unair), sudah menjadikan pekerjaan itu sebagai mata pencaharian. Ketika “bertugas” Eka selalu berpenampilan keren. Mengenakan celana jins, kemeja atau terkadang dipadu jaket, lengkap dengan kacamata hitam dan rambit kelimis, ia mengatur setiap pengendara yang akan masuk ataupun keluar kampus.

Aksi Eka ini cukup menarik. Ia selalu menebar senyum pada pengendara. Tak jarang ia memberi hormat pada mobil yang berplat merah. Cara ia mengatur pun sangat santun. Ia selalu mengancungkan jempol yang melanjutkan lajunya setelah berhenti menunggu giliran. Eka cukup konsisten bersikap ramah, baik pada pengendara yang memberi uang ataupun tidak. Di lokasi itu, EK tidak sendiri, ia bersama beberapa orang bergantian “bertugas” sesuai “jam kerja”.

“Lumayan bisa untuk menafkahi anak dan istri,” katanya. Berdasar informasi yang dihimpun, penghasilan polisi cepek semacam itu, bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp100.000 rata-rata tiap hari (sesuai “jam kerja”). “Bos saya ‘kan banyak,” katanya berkelakar. Sebab itu Eka pun tak lupa mengatakan, suwun bos, pada pengendara yang memberinya uang recehan.

Jika untuk Jukir liar, sudah menjadi rahasia umum juga, berpenghasilan besar. Ada kelompok-kelompok yang menguasai setiap wilayah. Seperti kasus di Alfamart di Semampir Tengah, kawasan MERR IIC. Awalnya, yang menjadi Jukir adalah warga sekitar. Namun tiba-tiba datang sekelompok orang yang dengan paksa mengambil alih. “Jukir itu ada gank-nya. Katanya itu wilayah kekuasaannya. Dari pada terjadi bentrokan, arek-arek mengalah,” ungkap Prasetyo, warga sekitar.

Bos ala Insentif Power

Sumber kekuasaan dalam teori kekuasan French dan Raven ada lima kategori yaitu; kekuasaan paksaan, kekuasan imbalan, kekuasan sah, kekuasaan pakar, serta kekuasan rujukan.

Dalam fenomena ini, ketika seseorang bisa menjadi bos, saat memberi uang recehan, termasuk dalam kategori kekuasaan imbalan atau insentif power.

Kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada orang lain karena kepatuhan mereka. Kekuasaan imbalan digunakan untuk mendukung kekuasaan legitimasi. Jika seseorang memandang bahwa imbalan, baik imbalan ekstrinsik maupun imbalan intrinsik, yang ditawarkan seseorang atau organisasi yang mungkin sekali akan diterimanya, mereka akan tanggap terhadap perintah. Penggunaan kekuasaan imbalan ini amat erat sekali kaitannya dengan teknik memodifikasi perilaku dengan menggunakan imbalan sebagai faktor pengaruh.

Begitu penjelasan sederhananya. Jadi kalau dengan uang receh saja kita bisa menjadi bos, maka tak heran para koruptor adalah sebenar-benarnya bos dengan banyak anak buah. Untuk memberantas korupsi, pasti berat perjuangannya. Mungkin demikian, bos….. (zaki zubaidi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION