Terbanglah Jadi Rajawali

Oleh : Husnizar Hood

Sudah tiga hari sejak Rabu kemarin, kata istri kawan saya itu suaminya tidak pernah pergi ke mana-mana, ke laut pun tidak. Biasanya setiap dua atau tiga hari sekali pasti dia turun ke laut, mencari rezeki. Sebagai nelayan itulah pekerjanya, dan sebagai kepala rumah tangga itu adalah tugas dan tanggung jawabnya.

Untung masih ada ikan asin yang belum dijual, bersyukur masih ada pucuk daun ubi atau daun singkong orang lebih banyak menyebutnya, kemudian isteri kawan saya itu memungut buah kelapa tua yang jatuh terapung ditepi pantai, kemudian diparutnya isi kelapa itu dijadikan santan dan untuk mendapatkan cabe rawit apalah susahnya? sesuai anjuran Bapak Menteri, ditanamnya di halaman rumahnya sendiri.

Sayur Lemak, ikan asin dan sambal hijau. “Nikmat apalagi yang berani engkau dustakan?”, ujar Mahmud berkias, ia mengambil makna dari ayat suci Al-Qur’an sambil terus makan di depan TV di ruang tamunya itu. Ya, sudah tiga hari, siang malam, pagi dan petang dia hanya berada di depan kotak ajaib itu.

“Kalau saja TV itu manusia dah meraung dia dari kemarin, tinggal menunggu meletup saja”, bebel istri kawan saya itu, ketika dia mendekat ke arah kami sambil membawakan kopi untuk saya dan Mahmud setelah tak lama saya berada di rumah kawan saya itu.

“Ini penting Makcik, orang perempuan manalah tau, kalau negeri ini memang sudah bergoncang-goncang dan sebentar lagi benar-benar meletup”, sela Mahmud membela diri dan membuat isterinya itu agak tersentak.

Selalu dia memanggil istrinya dengan panggilan sayang “makcik” kalau dia sudah geram dengan “pidato-pidato politik” perempuan yang telah setia dan begitu tabah menemani hidupnya selama ini.

“Di Lombok sedang bergoncang, sudah lebih 500 kali gempa itu datang, saudara-saudara kita sedang menangis, kita tak bisa terbang kesana mungkin hanya sekadar untuk menangis bersama, tak ada daya kita, maka di depan TV inilah kita bisa melihat air mata mereka berlinang. Begitukan Tok?”, kata Mahmud mencari pembelaan mengharap dukungan saya.

Saya mengangguk pelan saja, agak susah hendak berpendapat jika sedang berada di tengah pasangan suami istri yang masing-masing mereka sedang memerlukan dukungan, mungkin hampir sama dengan sulitnya mengambil keputusan, hasil yang diusulkan “Ijtima Ulama” atau suara masyarakat banyak.

“Itu juga hampir meletup Tok, yang perlu kita ikuti dari waktu ke waktu dan kita harus menjadi bagian penting sejarah besar ini”, ucap Mahmud lagi.

Kemudian istrinya beranjak, perempuan itu sepertinya sudah terbiasa kalah debat dengan suaminya, dalam pikir saya jangankan dia, kalau saja kawan saya itu diundang oleh stasiun TV yakin saya dia bisa menjadi narasumber bermutu dibandingkan narasumber yang ada hanya mengaku-ngaku pengamat politik itu tapi berpihak atau juru bicara yang sudah dapat gaji tambahan menjadi komisaris sebuah perusahaan milik negara.

Itulah yang membuat ia tak berganjak dari depan TV, kawan saya itu menyaksikan ada banyak “drama’’ yang dimainkan tanpa sutradara atau dibagian lain ada banyak adegan yang dimainkan sendiri dan disutradarai sendiri oleh mereka. Ada juga para sutradara itu seperti sutradara yang sudah dikontrak dalam waktu panjang dari episode ke episode. Sutradara opera sabun yang tak habis-habis ceritanya.

Awalnya adalah beberapa hari kemarin di suatu pagi Mahmud keluar rumah, kabarnya ia pergi ke Pulau Penyengat ia ingin mendengarkan tausyiah Ustadz Abdul Somad, ustadz musa yang sedang melakukan perjalanan dakwah di beberapa negeri di kampungnya. Meskipun masih ada banyak kampung dan negeri ini berada di pulau terdepan jika tak mau disebut pulau terluar tapi negeri ini bukanlah “pelosok” seperti yang disebutkan Hanum Rais anak Amin Rais tokoh Reformasi yang saya kagumi itu.

Datanglah ke Kepulauan Riau, kalaupun pelosok tapi di pelosok negeri ini sangatlah indah, orang berpantun dan berzapin setiap waktu, dengan keikhlasannya bukan dengan berpantun demi pencitraannya. Pelosok kami bisa memandang cahaya lampu Singapura nan indah setiap malam, itu bukan cahaya lampu yang terhenti dari barisan kemacetan jalan ibu kota mungkin seperti macetnya imajinasi kita yang ingin mensejahterakan bangsa ini, sungguh menghilangkan kesabaran.

Di depan Masjid Raya Sultan Riau yang semennya dibancuh dengan putih telur ratusan tahun lalu ketika ia dibangun adalah sebagai pertanda bahwa perekonomian di negeri ini sudah maju, negeri ini kaya raya, kata Ustadz Somad dengan suara menggelegar, suaranya besar, bukan hanya cakap besar, bual besar, omong besar tapi hasilnya nihil seperti sekarang ini, kemudian dia berjanji di depan ribuan jamaah di depan Mesjid Raya Sultan Riau ini bahwa dia akan terus menjadi ustadz sampai mati.

Kawan saya Mahmud itu menangis, sal atau kain panjang yang ia lilitkan di lehernya itu ia tarik dengan cepat untuk menyeka air matanya. Dia sungguh terharu, sangat terharu, bagaimana tidak, bahwa negeri Malayu yang telah banyak memberikan sumbangan baik bahasa, budaya dan juga hasil alamnya, selama ini selalu saja dipandang sebelah mata tapi tak disangka-sangka pada hari ini ada yang mengusulkan bahwa dia anak muda Melayu ustadz yang hebat itu untuk djadikan orang nomor dua memimpin bangsa besar ini.

“Tidak, sekali tidak tetap tidak”, pekik ustadz itu lagi. Semakin meleleh air mata kawan saya itu.

Kita tidak tamak, atau kita tidak mentang-mentang apalagi aji mumpung atau dengan dalih apapun, silau mata ditawarkan dengan jabatan yang ada. Bagi ustadz itu ia hanya sadar dimana jalannya, dia lebih memilih terbang ke sana dan kemari hinggap di istana ataupun gubuk sekalipun untuk menyampaikan dakwahnya.

Sejak itulah kawan saya Mahmud berada di depan TV dia tak mau ketinggalan satu momen pun bagaimana nasib bangsa ini pada lima tahun mendatang.

Kemudian di hampir semua saluran TV dia mendengarkan dengan cermat seorang anak muda sedang berbicara, selalu membuat dia melepaskan topinya ketika menyaksikan anak muda itu berpidato sebagai tanda kekagumannya.

Anak muda itu ikhlas dan percaya akan sebuah takdir, bahwa kali ini ia gagal ikut menjadi salah satu pemimpin negeri ini. Mahmud kawan saya itu menangis lagi. Seperti selalu selalu katakan, susah sekali kalau kita ingin melihat kawan saya Mahmud itu menangis jika tidak batinnya sedang diguncang-guncang oleh “gempa” rasa yang lara.

Anak muda itu memilih untuk terbang menunaikan haji dan kelak ia berjanji akan kembali lagi hinggap dan kemudian terbang lagi seperti yang ia lakukan menjelajah seluruh jengkal negeri ini.

Saya hanya membayangkan, akankan mereka nanti bertemu?

“Siapa?, ustadz dan anak muda itu?”, tanya Mahmud. Saya tak menjawab. Biarlah waktu yang menjawabnya nanti, biarlah mereka terus terbang dan mungkin nanti akan menjadi rajawali, semuanya sudah jelas kini, tak perlu ditanya lagi yang akan bertemu nanti saya yakin adalah mereka yang semua mencintai negeri ini.

Saya matikan TV itu, saya habiskan kopi itu dan saya ajak Mahmud ngopi di luar lagi. (doi/abi)

*Penulis adalah Sekretaris Partai Demokrat Kepulauan Riau

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION