Temukan Sampah Popok Lagi, Ecoton Akan Gugat PT Unicharm

Portaltiga.com – Direktur Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) Prigi Arisandi bersama aktivis pencinta lingkungan kembali menemukan sampah popok yang diproduksi PT Uni charm di area sungai Brantas.

Prigi akan melakukan gugatan
PT UNICHARM Indonesia (PT UI) yang memiliki Pabrik di Ngoro Mojokerto yang disinyalir memproduksi lebih dari 9 Juta lembar popok/hari dengan 60 persen sharemarket penjualan popok bayi di Indonesia.

PT UI dituding ikut bertanggungjawab atas kondisi darurat sampah popok di Jatim. Sampah popok mengancam Kelestarian sungai dan menjadi penyumbang polusi lautan anorganik terbesar di laut Jawa sebanyak 21 persen.

Bahan Produk Popok PT UI lebih dari 50 persen merupakan Plastik yang sulit didaur ulang, namun dalam kemasannya tidak mencantumkan himbauan untuk membuang sampah dengan cara yang benar sehingga jutaan sampah popok merk Mamypoko banyak ditemukan mengapung, terpendam dan terurai di Sungai.

Di Sungai Brantas Sampah popok merk Mamypoko paling sering ditemukan 80 persendibandingkan merk lain (Sweety, Merries, GooN dan Naughty Baby).

“Sampah Popok akan terurai menjadi remah-remah plastik berukuran 4,8 mm (Mikroplastik). 80% ikan Hilir Sungai Brantas diketahui dalam lambungnya mengandung mikroplastik,” jelas Prigi Arisandi, Senin (7/1/2019).

Kontaminasi mikroplastik menjadi ancaman serius bagi manusia di Hilir Brantas karena ada 3 PDAM di Hilir Brantas yang memanfaatkan air Sungai Brantas menjadi bahan baku air minum yaitu PDAM Surabaya, PDAM Sidoarjo dan PDAM Gresik. Lebih dari 4 juta orang memanfaatkan air PDAM.

Kontaminasi mikroplastik ini dikhawatirkan akan masuk kedalam bahan baku air minum. Sampah popok juga sering menyumbat intake (saluran pengambilan air bahan baku PDAM). Terlambat dalam penanganan akan membutuhkan ratusan milyar rupiah dana Negara untuk Pemulihan dampak kerusakan Ekosistem Sungai, keamanan pangan dan Pemulihan Kesehatan konsumen PDAM di DAS Brantas. (fey/tea)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION