Temuan Baru, PTPN XI Kembangkan Bioteknologi Pertanian

 

Portaltiga.com: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI saat ini terus mengembangkan varietas tanaman tebu berbasis Bioteknologi. Pasalnya, dengan pertanian dengan basis bioteknologi akan menghasilkan tanaman yang berkualitas dan ramah lingkungan.

Kepala Urusan Penelitian PTPN XI, Nurmalasari Darsono, mengatakan penggunaan bioteknologi dalam pengembangan produk tebu terbukti memberikan peningkatan hasil baik dari sisi produksi, maupun pendapatan petani.

“Dari hasil produksi benih produk rekayasa genetika kami, rata-rata hablur bisa meningkat sekitar 20%, dan pendapatan per hektar meningkat sekitar Rp 11,4 juta. PTPN XI sendiri melakukan penelitian dan pengembangan varietas tebu tahan kekeringan di lahan milik perseroan seluas 60 ha.”ujarnya kepada wartawan di sela acara Sosialisasi Bioteknologi Pertanian, di Crown Prince Hotel-Surabaya, Rabu (27/01/16).

Ia menjelaskan, dari hasil bioteknologi pertanian banyak manfaat yang dihasilkan dari industri tebu, dan selama ini PTPN XI telah menghasilkan ampas tebu bisa digunakan untuk kertas, cairan, dan buat farmasi. “Selain tebu tahan kekeringan, PTPN XI sendiri kini juga terus mengembangkan varietas-varietas unggul lainnya seperti tebu dengan rendemen tinggi.”Kata Nurmalasari.

Sementara itu, Peneliti dari Universitas Jember, Prof Bambang Sugiharto menambahkan, kebutuhan produk bioteknologi memang akan terus berkembang seiring perubahan jaman. Jika sekarang kita masih fokus pada peningkatan produktifitas dan kualitas gula, maka nanti jika swasembada sudah terpenuhi maka kita akan mengalihkan fokus pada pengembangan tebu yang bisa memaksimalkan produk turunan tebu seperti bioetanol, kertas atau bahkan furnitur, dengan demikian kita akan membutuhkan tebu yang seratnya banyak dan baik utnuk memproduksi itu semua.

“Saat ini, pengembangan produk bioteknologi di Indonesia masih terhambat dengan ijin dari kementerian terkait. Seperti yang terjadi pada tebu tahan kekeringan, tinggal menunggu ijin keamanan pakan dari Kementerian Pertanian. Sekarang kami sudah mengantongi sertifikat Keamanan Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan sertifikat Keamanan Pangan dari BPOM. Kami tinggal menunggu sertifikat keamanan pakan agar bibt tebu ini bisa dirilis ke petani,” kata Bambang.
Disisi lain, Peneliti dari Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetika Pertanian (BB Biogen), Prof Muhammad Herman, mengatakan dalam beberapa tahun kedepan dunia dihadapkan pada pertumbuhan jumlah penduduk yang meningkat tajam, sementara penyediaan pangan terhambat peningkatan produksi yang tidak signifikan.
Produk-produk unggulan pertanian, kata Prof.Muhammad Herman, menjadi tumpuan dikala lahan pertanian terus menyempit. Saat ini yang berkembang di dunia adalah penggunaan produk bioteknologi di bidang pertanian.

Ia menjelaskan, negara yang telah memanfaatkan produk rekayasa genetika atau bioteknologi untuk mendongkrak hasil pertanian terus bertumbuh. Ketika dikenalkan pada 1996, hanya ada 6 negara yang menanam produk bioteknologi. Total lahan yang ditanami pun hanya seluas total 1,7 hektar. Pada akhir 2014, jumlahnya sudah berlipat, dari jumlah negara penanamnya yang bertambah menjadi 28 negara, luas lahannya pun menjadi 181,5 juta ha.

Prof.Muhammad Herman menjelaskan, pertumbuhan jumlah lahan tanam produk berbasis bioteknologi ini juga turut meningkatkan keuntungan ekonomis bagi petani baik di negara maju maupun negara berkembang. Tercatat selama periode 1996-2012 pendapatan petani di pertanian berbasis bioteknologi mencapai

US$ 116,9 miliar. Pada tahun 2012 saja, keuntungan untuk petani di negara berkembang mencapai US$ 8,6 miliar dan US$ 10,1 miliar untuk negara maju.

“Ini membuktikan bahwa produk bioteknologi bisa memberikan keuntungan finansial bagi petani, selain meningkatkan produktifitas produk pertanian.”ungkap Herman. (TrishnA)

JOIN THE DISCUSSION