Tangis dan Tawa di Sela Imunisasi Difteri TK Mojo Indah

Portaltiga.com – Bocah berseragam merah kotak-kotak itu tampak murung. Kedua alisnya mendekat, dan bibirnya tampak jelas manyun. Sedangkan sang ibu yang mengantarnya masuk sekolah hanya senyum-senyum saja.

Sambutan selamat pagi dari ibu guru tidak dihiraukan. Bocah itu tetap manyun sambil menggandeng erat ibunya. “Tadi tidak mau masuk, takut disuntik,” ucap sang ibu sambil tersenyum kepada guru yang menyambut di depan sekolah.

Ya, pagi itu, Kamis (15/11/2018), TK Mojo Indah melaksanakan imunisasi Difteri. Pada tahun 2018, TK yang terletak di Jalan Mojo Kidul 60A tersebut telah menggelar imunisasi Difteri sebanyak tiga kali.

Sebagian murid memang ada yang tegang. Tapi sebagian yang lain terlihat biasa saja, dan tetap ceria bermain di halaman sekolah.

Sekira pukul 08.00 WIB, imunisasi segera dimulai. Petugas dari Puskesmas Mojo juga sudah siap di ruang guru dengan peralatan suntik dan botol-botol vaksin Difteri. Para murid dikumpulkan di kelas, dan para wali murid menunggu di depan ruang guru.

Satu persatu murid dipanggil. Ada yang wajahnya semakin tegang, ada juga yang tetap woles. Untuk menenangkan murid, guru membantu memeluk bocah-bocah kecil itu. Banyak yang wajahnya tetap polos saat disuntik, juga ada yang sudah menangis sebelum disuntik.

“Calista,” Kepala TK Mojo Indah, Ariyani SPd memanggil murid TK A.

Bocah perempuan itu memasuki ruang guru dengan tegang. Ia menghampiri guru kelasnya, Aventi. Calista langsung dipeluk Aventi agar lebih tenang. Namun bukannya tenang, ia malah menangis padahal belum disuntik.

“Jangan nangis. Nggak sak sakit kok. Tidak boleh dilawan ya…,” Aventi coba menenangkan muridnya. Khawatir Calistas berontak, guru lainnya, Lina ikut membantu memegang tangan bocah berambut ikal itu. Sedangkan ibunya hanya tertawa melihat ulah Calista.

Petugas Puskesmas ternyata sangat sigap memanfaatkan momentum. Calista belum sempat berontak, vaksin sudah berhasi diinjeksikan. “Nah, sudah. Tidak sakit kan,” ucap Aventi sembari melepaskan dekapannya.

Calista pun berhenti menangis dan melihat lengannya. Namun itu hanya sesaat. Ia kembali menangis saat menuju ibunya. Para guru, petugas Puskesmas, dan wali murid lainnya hanya bisa tertawa melihat kelucuan bocah-bocah ini.

Pada pelaksanaan yang ketiga ini, ada sekitar tujuh murid yang tidak ikut imunisasi. Jumlah ini nyaris sama dengan pelaksanaan sebelumnya. “Alasannya sudah imunisasi di Posyandu atau Puskesmas. Itu sungguhan atau hanya alasan, kami tidak tahu. Kami kan tidak bisa memaksa,” ungkap Yani, panggilan akrab kepala sekolah.

Ia mengaku di awal-awal pelaksanaan imunisasi Difteri ini tidak mudah. Berbeda dengan pelaksanaan imunisasi lainnya. Seperti di tempat lain, isu ketidakhalalan vaksin ini membuat para wali murid risau.

“Kami para guru memang harus ekstra kerja keras memberikan pemahaman. Saat bertatap muka secara langsung maupun lewat grup WhatsApp (WAG),” ungkap Yani.

Ia mengakui, di WAG sering kali terjadi diskusi tentang vaksin Difteri ini. Para guru pun harus bersabar melayani dan memberi informasi yang benar. Respons wali murid memang beragam.

“Ya memang lumayan juga sih. Saat pulang kerja, waktu istirahat di rumah, eh grup malah ramai. Kan tidak mungkin dibiarkan. Jadi kita intens berkomunikasi. Selain penjelasan langsung, juga kami share link informasi yang benar,” tutur dia.

Meski belum 100 persen ikut imunisasi di sekolah, tapi setidaknya masih lebih banyak atau sekira 90 persen yang bersedia. “Toh, tangis murid-murid ini juga demi tawa bahagia mereka kelak dewasa,” pungkas Yani. (zaq/abi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION