Headline News

Syahwat Politik NU Tak Terkendali, Lahirkan Oportunis

13/11/2017
58 Views

Portaltiga.com – Pilgub Jatim 2018 yang akan diikuti dua kader terbaik NU yakni Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa ditenggarai memicu tumbuh suburnya oportunis politik di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU). Ironisnya, tokoh-tokoh NU juga sudah menjadi hulubalang (utusan) politik sehingga kekuasaan dijadikan sebagai sumber kehidupaan.

“Syahwat politik warga NU dan tokoh-tokoh NU sudah tak terkendalikan di Pilgub Jatim. Sehingga secara psikologis melahirkan oportunis politik yang bisa membahayakan NU ke depan karena kesulitan menciptakan kader berintegritas politik yang baik,” jelas pengamat hukum dan politik dari Universitas Airlangga Surabaya yang juga kader NU tulen, Suparto Wijoyo, saat dikonfirmasi, Senin (13/11/2017).

Ia juga prihatin saat bersinggungan dengan kader-kader NU di berbagai daerah di Jatim justru mereka tak malu menunjukkan sikap oportunis politik di Pilgub Jatim.

“Sekarang ini kemenangan besar NU karena siapapun yang jadi Gubernur Jatim ke depan adalah orang NU. Makanya ketika sudah dekat kekuasaan mereka siap memberi dalil kebangsaan untuk memperkuat,” ungkap Suparto.

Sejak era reformasi, lanjut Suparto, NU lebih fasih bicara politik dari pada bicara di luar koridor politik. Akibatnya, warga nahdliyin di lapisan bawah merasa jenuh dengan  sikap politik tokoh-tokoh NU sehingga mereka memilih fokus di ranah keagamaan dengan meramut mushola dan masjid sebagai pusat syiar dan dakwah supaya NU selamat.

“NU sekarang seolah-olah menjadi bagian organ negara sehingga boleh menghakimi pihak lain yang seolah-olah berseberangan dengan pemerintah. Padahal kalau NU masuk wilayah politik, selalu kalah di politik,” kata akademisi asli Lamongan ini.

Melibatkan NU dalam Pilkada 2018 adalah kekeliruan yang besar dan seolah tidak mau belajar pada pengalaman Pilgub Jatim sebelumnya. Di kubu Saifullah Yusuf, lanjut Suparto ada KH Hasan Mutawakkil Alallah yang secara vulgar mendukung secara pribadi. Sebaliknya di pihak Khofifah ada Gus Sholah dan tim 9 yang beranggotakan para kiai dan tokoh Muslimat NU.

“Karena tokoh-tokoh NU di Jatim sulit disatukan, saya sarankan sebaiknya tokoh NU yang disegani dan bisa diterima kedua kubu supaya turun ke Jatim. Bisa saja KH Makruf Amin, Gus Mus atau Habib Luthfi untuk mendamaikan dan menyelamatkan NU Jatim dari perpecahan,” harap Suparto Wijoyo. (fat/abi)

Leave A Comment