Headline News

Siapakah Tokoh Penengah NU di Pilgub Jatim 2018? Ini Dia

13/11/2017
44 Views

Portaltiga.com – Pengamat komunikasi politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Mochtar W Oetomo menyatakan, dalam Pilgub Jatim 2018 ini Nahdhatul Ulama (NU) memang butuh penengah. Namun siapakah tokoh yang pantas itu?

Kata Mochtar, tentu akan susah membayangkan siapa  yang mampu dan layak menjadi penengah para kiai yang selama ini diposisikan dalam posisi mulia.

Ia memiliki beberapa pertimbangan yang pantas untuk dipikirkan bersama. Pertama, jika penengah itu adalah pejabat atau politisi, presiden misalnya tentu akan semakin menempatkan posisi kiai pada posisi yang tidak terhormat.

“Kiai harusnya ada di posisi yang lebih terhormat. Mestinya kiai yang nenggerakkan dan  menengahi politisi bukan sebaliknya,” tegas Mochtar, Senin (13/11/2017).

Kedua, kalau penengah itu sama-sama kiai, maka dalam konteks Pilgub Jatim yang sudah dalam situasi turbulensi politik ini tentu akan melahirkan pertanyaan.

“Siapa kiai yang masih netral itu? siapa kiai yang belum berpihak? kalaupun ada netral apakah kalibernya bisa diterima oleh kiai-kiai yang tengah ada pada posisi berseberangan,” jelas pria berkacamata ini.

Ketiga, kalau kiai penengah itu diambilkan dari luar Jatim, misalnya Gus Mus (KH Mustofa Bisri) atau Mbah Mun (KH Maimun Zubair), apakah beliau-beliau mau jika urusan itu menyangkut politik praktis dan ada di luar wilayah propinsinya. Apalagi antara para kiai itu biasanya selalu menjaga adab.

“Saya kira tidak mungkin sekelas Gus Mus atau Mbah Mun kalau tidak diminta masuk atau disowani akan ikut cawe-cawe Jatim,” dalih Mochtar.

Menurutnya yang mampu dan layak menengahi dan memberi masukan pada para kiai secara adabiah ya hanya para punjer yang acapkali kedudukannya telah diakui sebagai salah satu auliya atau paku bumi.

Pertanyaannya siapakah beliau? mestinya para kiai lah yang lebih mafhum sekaligus memiliki kebijaksanaan kultural dan spiritual untuk sowan dan minta petunjuk pada para punjer itu demi kemaslahatan umat

“Saat ini yang diperlukan bukan hanya kebijaksanaan kultural dan spiritual para kiai tapi juga para politisi untuk tidak menyeret-nyeret persoalan agama dengan segala macam atributnya dalam lingkaran praktik politik pilgub Jatim,” pungkas Mochtar. (fat/abi)

Leave A Comment