Santori Datangkan 2.000 Sapi Indukan Untuk Dimitrakan Dengan Peternak Jatim

Portaltiga.com, SURABAYA – Guna mendukung peningkatan produksi sapi bakalan di provinsi Jawa Timur sekaligus menggalang kemitraan pembiakan dengan peternak setempat, PT Santosa Agrindo (Santori) telah mendatangkan 2.000 ekor sapi indukan dari Australia melalui pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada Rabu 27 April.

Sapi indukan milik anak perusahaan Japfa Group tersebut selanjutnya akan dipelihara di kandang (feedlot) Santori di desa Tongas, Probolinggo. Seluruh 2.000 ekor sapi indukan tersebut setelah diinseminasi (IB) dan bunting nantinya akan dijual kepada para peternak di daerah Malang dan sekitarnya.

“Kelompok peternak yang berada di bawah pembinaan Ir. Hermanto dari Universitas Brawijaya nantinya akan membeli dan memelihara sapi indukan yang sudah bunting minimal 6 bulan melalui skema KUR BRI,” ujar Safuan K.S, Head of Country JAPFA beef Division.

“beliau sudah memiliki pengalaman membina peternak dan mendapatkan kepercayaan dari BRI untuk penyaluran KUR. Sedangkan dari pihak Santori yang memfasilitasi pegnadaan sapi indukan, membuntingkan, dan nantinya akan membeli kembali sapi bakalan dari hasil anakan yang lahir,” lanjutnya.

Menurut Safuan, pola kemitraan pembiakan ini merupakan suatu langkah terobosan guna meningkatkan produksi sapi bakalan yang dibutuhkan bagi usaha penggemukan Santori di Probolinggo, Jawa Timur.

“Meskipun butuh waktu lebih lama, namun kemitraan pembiakan ini merupakan upaya kami untuk menghasilkan sapi bakalan tanpa harus tergantung impor, yang tentunya juga akan membantu meningkatkan produksi ternak sapi potong di Jawa Timur.,” demikian tegasnya.

Safuan juga menambahkan bahwa impor sapi indukan ini merupakan yang pertama kali di Jawa Timur sejak importasi sapi bakalan terakhir di tahun 2010.

“Karena ini sapi indukan yang berutujuan untuk pembiakan dan bukan penggemukan, serta dimitrakan dengan peternak, maka spesifikasi indukan yang kami impor sepenuhnya mengikuti persyaratan yang ditetapkan Kementerian Pertanian dalam rangka rencana impor indukan 50.000 ekor di tahun 2016. Jadi sapi-sapi tersebut cocok untuk program Pemerintah dan sifatnya komplementer,” demikian imbuh Safuan.

Beberapa spesifikasi sapi indukan yang sesuai ketentuan Kementerian Pertanian adalah jenis bangsa sapi Brahman Cross, umur 2-4 tahun, produktif serta tidak ada cacat tubuh dan organ reproduksi sehat.

Dukungan Pemerintah Untuk Usaha Pembiakan
Berkat dukungan Pemerintah untuk menyederhakanan protokol kesehatan hewan impor sapi indukan, masa karantina di negara asal telah berkurang dari 14 hari hanya menjadi 7 hari. Pengurangan masa karantina tersebut berdampak secara langsung pada penurunan biaya karantina dan pemeriksaan hewan sapi indukan impor dari US$ 220/ekor menjadi hanya US$ 50/ekor.

“Meskipun biaya sudah turun tetapi pengenaan bea masuk atas impor sapi indukan masih menjadi beban yang cukup berat,” ujar Dayan Antoni, Head of Breeding Santori.

“Bea masuk untuk sapi indukan sebesar 5%. Jika berat sapi indukan sebesar 300 kg maka bea masuknya mencapai Rp 600.000 per ekor. Ini masih menjadi PR buat Pemerintah kalau mau meningkatkan impor indukan” lanjutnya.

Meskipun harga impor sapi indukan sudah menurun namun biaya untuk melakukan usaha budidaya pembiakan tidak serta merta menurun. Sistem pembiakan sapi potong dengan model sapi dikandangkan yang umumnya dilakukan di Indonesia karena minimnya lahan merupakan penyebab utama tingginya biaya produksi. Tingginya biaya produksi tersebut disebabkan karena pakan harus disiapkan secara cut & carry dan bukan dengan sistem merumput (penggembalaan).

“Untuk memproduksi satu ekor sapi dari membuntingkan induk hingga anak lahir dan menjadi sapi siap potong membutuhkan biaya sekitar Rp 17.000.000,- dengan berat akhir sapi sekitar 370 kg,” ujar Dayan.

“Belum lagi untuk bisa menghasilkan 1 ekor sapi hingga siap potong membutuhkan waktu 2,5 sampai 3 tahun. Berbeda dengan usaha penggemukan sapi yang hanya membutuhkan waktu sekitar 4 bulan, resiko biaya, kematian dan beban bunga di usaha pembiakan sangat tinggi” lanjutnya.

Tingginya biaya produksi serta resiko dan panjangnya jangka waktu untuk melakukan pembiakan menjadi penyebab utama rendahnya minat pengusaha melakukan breeding sapi. Padahal salah satu dukungan agar  swasembada sapi dapat dipenuhi dengan produksi sapi bakalan dalam negeri adalah dengan melakukan pembiakan sapi dalam skala ekonomi yang besar dan efisien.

Rendahnya minat pengusaha untuk melakukan pembiakan sapi menjadi tantangan untuk melakukan swasembada sapi. Selain harus difasilitasi dengan menurunkan biaya protokol impor sapi indukan, agaknya sektor swasta membutuhkan insentif lebih agar meningkatkan minat untuk melakukan pembiakan. Selain berupa insentif fiskal seperti pengurangan bea masuk, tax holiday, serta instrumen lainnya, diperlukan pula fasilitasi Pemerintah untuk skim kredit pembiayaan bunga rendah dengan grace period minimal 5 tahun dan sapi indukan sebagai agunan, serta juga penyediaan lahan yang siap untuk pengembangan usaha. Dukungan itu semua menjadi prasyarat yang harus disiapkan Pemerintah apabila investasi pembiakan sapi potong ingin digalakkan.

“Kami berharap agar ada dukungan kebijakan Pemerintah yang komprehensif dan konkrit untuk mengurangi beban resiko usaha yang tinggi agar meningkatkan minat pelaku usaha untuk berinvestasi di usaha pembibitan dan pembiakan,” demikian ujar Dayan.

PT Santosa Agrindo merupakan anak perusahaan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) yang bergerak di bidang pembiakan dan penggemukan sapi. Memiliki kandang penggemukan dan pembiakan sapi potong di 3 lokasi di  Jabung (Lampung Tengah), Bekri (Lampung Timur), dan Probolinggo (Jawa Timur) dengan kapasitas total penggemukan sebanyak 50.000 ekor sapi serta jumlah sapi bibit indukan sebanyak 10.500 ekor.  Perusahaan juga memiliki RPH cold chain system yang mampu memproses 3.600 ekor per tahunnya di Serang, Banten.

JOIN THE DISCUSSION