PUBG Jangan Diharamkan, Makruhkan Saja

Portaltiga.com – Sebagai seorang non-gamer, mencuatnya wacana pengharaman Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) membuat saya nggumun. Pasalnya, wacana itu muncul lantaran PUBG dianggap bisa jadi pemicu aksi terorisme. Terkini dan menghebohkan adalah aksi penembakan di masjid Selandia Baru. Lho kok bisa?

Sehebat apa sih game PUBG ini sampai bisa membuat orang terobsesi meniru aksi-aksi dalam sebuah permainan ke dalam dunia nyata?

Setahu saya, beberapa waktu terakhir suasana di warung kopi langganan memang agak berubah. Sering terdengar suara saling bersahutan dari beberapa orang yang sedang memegang gadget. Dari teriakan-teriakan itu terasa seolah mereka sedang di sebuah medan pertempuran. Padahal loh, di depan mereka itu ada es teh, kopi susu, es marimas, rokok mild, asbak penuh puntung rokok. Tapi mulutnya teriak-teriak seperti prajurit sungguhan sedang berada di medan perang. Ya, mereka sedang bermain PUBG.

“Jangkrik kenek tembak aku.” Usai berucap seperti itu, biasanya pemain akan meletakkan gadgetnya lalu menyulut rokok atau vapor yang asapnya seperti fogging nyamuk. Menyeruput minuman di depannya.

Lha yo cik enake…habis kena tembak malah rokokan santai. Yah, maklum lah, kan hanya sebuah permainan.

Kalau misalnya mereka-mereka ini kena wajib militer dan benar-benar dikirim medan perang, apa masih bisa seperti itu? Jelas ini berbeda situasinya. Makanya, saya merasa kok ga masuk akal ya, dari hanya bermain PUBG terus orang menjadi penjahat sampai tega menghabisi nyawa orang lain. Dulu semasa kecil saya pernah juga main game Tetris. Itu loh, game yang suka mengolok “bego loe”. Saya juga tidak sampai punya obsesi jadi tukang yang handal menumpuk batu bata.

Emang sih Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih mengkaji hal ini. Itu pun gara-gara di India dan Malaysia sudah terjadi pelarangan, sehingga wacana serupa merembet ke Indonesia. Jelaslah, meski baru wacana namun penolakan dari para gamer langsung bermunculan. Ya lucu, juga konyol jika kelak keluar fatwa dari MUI bahwa PUBG haram.

Dulu, semasa saya kecil, Bapak pernah bilang bahwa dulinan iku ngggolek seneng, ga malah nggolek tukaran (bermain itu untuk mencari kesenangan, bukanalah mencari pertengkaran. Bapak ngomong seperti itu lantaran saya dan adik bertengkar gara-gara main catur. Adik saya sering ngepir (sudah menggerakkan bidak catur hingga meletakkanya di papan namun tidak jadi, lalu berubah menggerakkan bidak yang lain). Strategi yang sudah saya susun dengan rapi seharusnya bisa memenangi “peperangan” ini. Namun gara-gara lawan selalu ngepir, kemenangan saya tertunda berkali-kali. Saya pun jengkel. Kami pun eyel-eyelan. Adik saya juga tak mau kalah. Nyaris saja kami berantem.

“Sudah, tidak usah bermain kalau hanya malah beramtem. Dulinan iku kan golek seneng, ga malah golek tukaran.” Ucapan Bapak ini masih terus menancap sehat di ingatan saya sampai sekarang.

Nah, kalau saja cara pandang dan cara pikirnya sama seperti wacana PUBG, maka Catur juga haram sejak dulu. Why? Yo jelas. Catur bikin orang lupa diri. Kalau sudah asyik main bisa berjam-jam sampai lupa kerja, lupa ibadah, lupa anak-istri. Bisa juga memicu pertengkaran antar saudara.

Memutuskan tali silaturahmi dan bla bla bla. Pokoke gampang dan banyak lah kalau hanya mencari-cari sisi buruk.

Wacana semacam ini kok rasanya malah terkesan lari dari kenyataan, mencari kambing hitam, melupakan subtansi persoalan yang sesungguhnya. Mirip dengan nasib saya di warung kopi. Di warung saya sendirian. Yang lain datang bersama kawan. Mereka lalu bergerombol untuk ngegame PUBG bareng. Mereka teriak, tertawa, mangkel ringan, bersama-sama. Lha saya yang sendirian jadi merasa terganggu dengan suara-suara mereka.

Padahal sih mereka ga salah. Lha wong yang lain juga rame kok. Namanya juga warung. Ya saya saja yang mengkambinghitamkan mereka atas kesendirian ini. Salah sendiri tidak punya teman untuk diajak ngopi di warung. Ciyeee…kesendirian….bukan kejombloan lho ya.

Oh ya itu juga sama dengan peribahasa buruk muka cermin dibelah. Cermin ga punya salah apa-apa malah jadi korban. Kan seharusnya bukan salah cermin saat menampakan bayang wajah. Tapi saya kira peribahasa ini wis ga payu di zaman sekarang. Lha kan sudah ada beauty cam? Cewek wal cowok zaman now ngacanya di gadget. Merasa kurang cantik atawa kurang tampan tinggal diedit. Kalau sudah diedit maksimal dengan seluruh fitur yang ada tetap jelek, ya banting saja gadgetnya hehehehe…..sing salah salah siapa, yang disalahkan siapa.

Eiitts, saya ingat kutipan Jean Baudrillard dalam karyanya berjudul Galaksi Simulacra. “Awas, bayang-bayang di cermin lebih dekat dari kenyataan”. Lha misalnya dalam hal ini siapa yang pantas jadi bayang-bayang, dan siapa yang pantas jadi kenyataan. Aksi-aksi terorisme itu adalah kenyataan yang menginspirasi orang mencipta game semacam PUBG, atau sebaliknya, PUBG adalah kenyataan yang mampu menginspirasi orang menjadi teroris? Siapa bayang-bayang dan siapa yang kenyataan? Eh, tak tahu lah, kok saya sampai mbelarah nang Braudrillard.

Yang pasti, saya tidak main PUBG. Bukan karena tidak suka, tapi karena memang tidak bisa dan tidak ingin mencoba. Namun kalau jadi PUBG nanti dianggap haram, pengaruhnya bagi saya hanya suasana di warung kopi akan lebih tenang. Itu saja.

Saya tidak punya kompetensi wal kepentingan apa-apa. Bukan gamer, bukan ulama, apalagi teroris jelas bukan. Eh, tapi kalau PUBG dianggap makruh saja bagaimana? Main PUBG tidak berdosa, tapi tidak main malah dapat pahala. Jadi non-gamer seperti saya ini bisa dapat pahala terus meskipun ga lapo-lapo, asal tidak main PUBG. (abi zidane)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION