PT MTS Serap Garam Rakyat Dengan Harga Tinggi

Portaltiga.com – Polemik impor garam industri yang sempat membuat gelisah kalangan petani garam, karena ditengarai bisa merugikan dan menggangu penghasilan mereka saat ini dikabarkan telah berakhit dengan selesainya Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar secara tertutup oleh pihak DPRD Pamekasan pada minggu lalu.

Dari hasil RDP tersebut, dikabarkan pihak DPRD tengah meminta kepada pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk memperketat pengawasan terhadap para importir garam yang ada diwilayah mereka.

Selain itu, disebutkan bahwa para petani garam kab Pamekasan tidak keberatan dengan adanya impor garam yang dilakukan oleh perusahaan garam, baik PT Mitra Tunggal Swakarsa (MTS) maupun perusahaan garam lain di kab Pamekasan, asalkan mereka bisa menyerap garam rakyat dengan harga maksimal. Garam yang diimpor dipergunakan untuk industri, bukan konsumsi.

Di sisi lain, PT Mitra Tunggal Swakarsa sendiri yang selama ini menjadi sasaran kemarahan petani dan warga menyebutkan pihaknya telah melakukan semua yang dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat, bahkan sudah melakukan serapan garam sebelum RDP digelar.

“Selama ini, perusahaan MTS sudah menyerap garam petani kurang lebih sebanyak 10 ribu ton yang terdiri dari wilayah Sumenep, Pamekasan dan Sampang. Harga yang kita kasih adalah harga yang tertinggi. Saat itu artinya kita tidak beli garam petani dengan harga murah,” kata Public Relation Mitra Tunggal Swakarsa Ardi Setya Budi dalam siaran persnya, Rabu (15/5/2018).

Dijelaskan, serapan garam rakyat yang dilakukan Mitra Tunggal Swakarsa sebagai upaya untuk menciptakan stabilitas dan meningkatkan kesejahteraan para petani garam setempat. Bahkan, saat ini MTS telah menjadi alternatif bagi para petani dalam menjual hasil garam mereka.

“Komitmen kami PT Mitra Tunggal Swakarsa adalah mensejahterakan dan mengembangkan petani kita dan telah membina hubungan yang baik bersama petani dalam menjaga komitmen bersama. Kami juga berikan dana CSR untuk bantuan musholah dan masjid yang berada disekitar lingkungan petani garam,” ujar Ardi. (bmw/tea)

About the author

Related

JOIN THE DISCUSSION