The Power of Emak, Sebuah Fenomena Pilkada Jatim

Penulis: Mochtar W Oetomo

Khofifah Indar Parawansa (Cagub terpilih), Puput Tantriana Sari (Cubup Probolinggo terpilih), Lilik Muhibah (Cawawali Kota Kediri terpilih), Ana Muawanah (Cabup Bojonegoro terpilih), Mundjidah Wahab (Cabup Jombang terpilih), Ika Puspitasari (Cawali Kota Mojokerto terpilih), dan Indah Amperawati (Cawabup Lumajang terpilih).

Para perempuan ini berjaya di Pilkada serentak. Fenomena apakah ini?

Pertama adalah keseimbangan elektoral. Bahwa sesungguhnya selama ini mayoritas pemilih yang datang ke TPS adalah perempuan bukan laki-laki. Dulu suara perempuan yang mayoritas ini selalu tersaluran ke laki-laki. Maka ketika semakin banyak perempuan yang menjadi calon dengan sendirinya kecenderungannya terjadi pergeseran. Ini natural, memilih atas dasar kesamaan.

Kedua, pemilih perempuan lebih loyal. Sebagaimana karakter dasarnya. Perempuan cenderung lebih loyal. Strong voters. Sementara laki-laki cenderung soft voters. Ini membuat calon. Perempuan mewakili basis pemilih lebih kuat dibanding laki-laki, Seperti Khofifah dengan Muslimatnya.

Ketiga, perempuan lebih photogenic. Lebih good looking. Natural dalam konteks peradaban media dan medsos seperti sekarang ini jika calon perempuan lebih mendapat perhatian.

Keempat, politisi perempuan lebih jarang atau lbh sedikit yang tersangkut masalah hukum dan moral. Ini melahirkan harapan buat publik untuk mendapatkan pemimpin yang lebih baik.

Kelima, momentum. Momentum merebaknya kesadaran gender. Bukan hanya skala nasional tapi juga global. Ada gairah sebagaimana diramalkan oleh Jhon Naisbit di abad 21 ini pada sosok perempuan untuk merebut panggung-panggunh sosial, ekonomi dan politik.

Keenam, adalah rendahnya keterwakilan perempuan baik di legeslatif maupun eksekutif. Ini melahirkan tantangan tersendiri buat kaum perempuan untuk membuktikan.

* Penulis adalah Direktur Surabaya Survey Center (SSC), dan dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM).

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION