Poros Emas Selamatkan Pilgub Jatim Bernasib Sama Dengan Perang Paregreg?

17/11/2017
129 Views

Portaltiga.com – Pertarungan dua kubu diametral (berhadap-hadapan) terjadi di Pilgub Jatim antara Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa. Ini subtansinya sama dengan Perang Paregreg di zaman Kerajaan Majapahit. Perang antar-anak Hayam Wuruk ini adalah awal keruntuhan Majapahit.

“Inilah yang dikhawatirkan. Melahirkan perpecahan di tubuh NU. Pertarungan antar-kiai jelas akan mempengaruhi grass root, setidaknya juga para santrinya,” kata pengamat politik dari Universitas Trunojoyo (UTM) Mochtar W Oetomo dalam diskusi panel bertema Perang Paregreg di Pilgub Jatim, di Surabaya, Jumat (17/11/2017).

Dilanjutkan Mochtar, kekuatan baru yang kontraproduktif bisa berkembang. Sama dengan Perang Paregrek. Saat Wirabhumi dan Wikramawardhani sibuk perang, kekuatan asing (China) bisa tumbuh dengan mudah.

Senada, pakar komunikasi politik senior asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo juga memiliki anggapam yang sama. Terjunnya kiai dalam praktik politik dengan dua poros yang sudah ada adalah kader terbaik NU, menurutnya dapat memicu perang ala Perang Paregreg.

“Meskipun peribaratannya agak sedikit salah, tetapi ini yang paling mendekati pas. Karena Perang Paregreg, Majapahit langsung mengalami kemunduran. Jangan sampai ke depannya ketika para kiai mulai melupakan khitahnya sebagai begawan di tengah masyarakat, nanti Jawa Timur juga mengalami kemunduran,” kata pria Suko.

Menurut Suko, kiai seharusnya menjadi penengah, bukan larut dalam praktik politik praktis. “Isu SARA memang selalu ampuh, tapi sangat tidak pas untuk diletakkan dalam bentuk komunikasi politik,” tegas dia.

Sementara itu, pengamat politik asal Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Redi Panuju memandang bahwa pamer sumber dukungan atau pun legitimasi primordial merupakan dinamika kontestasi Pilkada yang tidak sehat.

“Sekarang sudah masuk ke Merit System. Ini dimana lebih dibutuhkan profesional, rasional, kritis, inovatif. Agak naif juga kalau Jatim yang dominan NU maka otomatis Gubernurnya juga harus NU. NU itu adalah identitas kultural. Identitas kultural ini sangat berbeda dengan identitas politik,” jelas Redi.

Redi, lebih lanjut menjelaskan bahwa dua poros yang sudah ada terlalu menonjolkan kekuatan primordial. “Itu adalah bentuk kemunduran. Karena isu yang muncul pasti SARA dan soal agama. Seolah-olah agama adalah sumber legitimasi,” jelasnya.

Hal tersebut, menurut Redi sedang dihindari oleh jargon-jargon NKRI dan Pancasila. Sehingga, kondisi demikian dipandang menjadikan munculnya poros tengah pada Pilgub Jatim menjadi perlu.

“Poros tengah ini untuk menguji, apakah dengan dominasi NU lalu politik Jatim akan monoton atau tidak. Gerindra, PAN, dan PKS ini seharusnya pede dengan Poros Emas yang mereka gagas untuk kepentingan pluralisme. Kalau menyerah dan ikut arus, berarti dari segi perspektif politik Jatim bakal monoton,” pungkas Redi. (abi)

Leave A Comment