Pitulung Agung, untuk Bude Khofifah-Emil Dardak atau Gus Ipul-Puti Guntur?

Esai : Mochtar W Oetomo

Wah wah wah. Tiga hari berturut Tulungagung menjadi ajang kontestasi Cagub/Cawagub Jatim. Setelah tanggal 24-25 Februari 2018 Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak menyapa dan mengguncang Tulungagung, sehari berikutnya giliran Puti Guntur Soekarno memerahkan Tulungagung pada tanggal 26.

Jika Bude Khofifah-Emil dua hari, Puti cukup sehari. Jika Bude Khofifah-Emil datang berdua, Puti cukup sendirian. Jika Bude Khofifah-Emil mendapatkan sokongan penuh dari SBY, Pakde Karwo dan ribuan jajaran pengurus Demokrat se-Jatim, Puti cukup dengan banteng-banteng dan pasukan gadis berkerudung merah. Jika Bude Khofifah-Emil mengawali gebrakannya di GOR Rejoagung dengan segala gegap gempitanya, Puti cukup kontes selfie bersama barisan kerudung merah di GOR Lembu Peteng.

Sebentar, sebentar, sebentar. Segenap perbandingan itu jangan keburu dimaknai secara oposisi biner. Cobalah mari kita telisik secara lebih dalam. Berangkat dari pertanyaan, “Mengapa Tulungagung?!”.

Ditinjau dari asal kata, Tulungagung berasal dari dua kata Jawa kawi yaitu Tulung dan Agung. Tulung bermakna pertolongan atau sumber air, sedangkan Agung bermakna besar. Dengan demikian nama Tulungagung mengandung dua makna yaitu pertolongan agung dan sumber air besar. Dua makna itu sama-sama cocok diterapkan untuk Tulungagung.

Berdasarkan pandangan geografis, sejak jaman Erlangga sampai jaman orde lama, wilayah Tulungagung bagian tengah dan selatan merupakan hamparan rawa sangat luas dan dalam. Sebelum nama Tulungagung digunakan, kabupaten di selatan sungai Brantas ini pernah menggunakan nama kabupaten Ngrawa. Dalam cerita rakyat, Tulungagung dikenal juga sebagai Bonorowo, artinya hutan yang berubah jadi rawa. Ini penjelasan Tulungagung bermakna sebagai sumber air besar.

Sementara Tulungagung bermakna sebagai pertolongan agung adalah berdasarkan pandangan historis. Bahwa sejak jaman Medang Mataram, Tulungagung senantiasa memberikan pertolongan besar atau agung kepada para raja yang memerintah dalam kurun berbeda. Di sini Tulungagung sebagai subyek yang memberi, bukannya obyek yang menerima pertolongan agung. Secara politik sumber air besar bisa dimaknai sebagai penyumbang dukungan politik yang strategis karena akan berpengaruh pada wilayah mataraman yang lain yang pada gilirannya akan memberi pertolongan besar secara sosio-kultur-politik.

Tercatat. Sebagaimana catatan Siwi Sang.Tulungagung pernah memberi pertolongan besar pada Kerajaan Medang Mataram i Poh Pitu saat menaklukkan Kerajaan Kanjuruhan Malang. Sri Dharmodaya Rakyan Watukura Haji Balitung adalah raja Medang i Poh Pitu yang berkuasa antara tahun 898M-910M. Di awal tahun memerintah, Haji Balitung mengeluarkan prasasti untuk satu daerah di Tulungagung yang dikenal sebagai Prasasti Penampihan I bertarikh 898M. Prasasti terbuat dari batu itu sekarang berada di halaman Candi Penampihan, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Tulungagung. Disusul dengan prasasti Kubu-Kubu bertarikh 905 M. Kedua prasasti tersebut adalah salah satu bentuk penghargaan dan ungkapan rasa terima kasih Haji Balitung atas pertolongan besar tokoh dan rakyat Tulungagung hingga Medang Mataram bisa mengalahkan Kanjuruhan.

Tulungagung kembali memberi pertolongan besar saat Erlangga berupaya menegakkan kembali Kerajaan Medang i Watan yang runtuh akibat serbuan Wura-wari dan Lwaran dengan tewasnya Raja Dharmawangsa Teguh. Saat menaklukkan ulang daerah-daerah bekas Kerajaan Medang i Watan guna membangun Kerajaan baru bernama Kahuripan, Raja Erlangga dan Patih Narotama banyak mendapat dukungan dan pertolongan raja, tokoh dan rakyat Tulungagung yang saat itu masih bernama Lodoyong. Prasasti Baru, bertarikh 1030M, Prasasti Terep I tahun 1032M, Pembangunan Bendungan Waringin Pitu tahun 1035, prasasti Kamalagyan tahun 1037M, jelas mengabarkan bahwa dalam upayanya menaklukkan Wura-Wari, Wengker, Hasin,Wuratan, dan Lewa, Raja Erlangga banyak mendapat dukungan dan pertolongan dari Tulungagung.

Tulungagung kembali memberikan pertolongan besar saat Raja Kertajaya mengungsi bersama pasukan pimpinan Senapati Tunggul Ametung menuju Katandan Sakapat Kalangbrat, Tulungagung. Secara tersirat peristiwa ini termuat dalam Prasasti Kamulan bertarikh1194M. Disebutkan dalam prasasti bahwa Raja Kertajaya tersingkir dari istana Kadiri akibat serbuan musuh dari arah timur. Penyerbuan terjadi sebelum keluarnya Prasasti Kamulan. Selama dalam pengungsian, Kertajaya menjadikan daerah Kalangbrat sebagai keraton sementara Panjalu. Bersama sisa pasukan dan para pandita serta segenap penduduk Katandan Sakapat Kalangbret, Senopati Tunggul Ametung giat menggalang kekuatan merencanakan serangan balik. Menjelang bulan ketujuh 1194M. Setelah kekuatan terbangun kokoh, dengan semangat memberi pertolongan besar kepada Maharaja Kertajaya, Senapati Tunggul Ametung menderapkan pasukannya ke timur, menuju Turen atau Turyantapada, terus berderap menggempur Kutaraja dan berhasil menaklukkan kerajaan yang menganut agama Siwa di timur gunung Kawi itu. Raja Jenggala Sang Girindra tersingkir dari Kutaraja bersama sisa pengikutnya. Diperkirakan Sang Girindra masih hidup dalam pelarian.

Dan selanjutnya bagaimana Tulungagung memberi pertolongan besar pada raja-raja Majapahit dan Mataram Islam pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo saat berupaya menaklukkan Surabaya juga banyak tercatat di berbagai prasasti, candi dan lontar.Makin meneguhkan bahwa sudah sepantasnya daerah ini kelak kemudian hari diberi nama Tulungagung, karena selalu menjadi sumber dukungan politik dan sumber pertolongan yang besar, pitulung agung.

Ya ya ya. Inikah sesungguhnya alasan di balik prosesi kontestasi Cagub/Cawagub Jatim di Tulungagung tiga hari berturut itu? Adakah sebuah pitulung agung, sebuah pertolongan besar yang diharapkan datang dari Tulungagung sebagaimana yang didapat oleh para raja di masa lampau? Inikah alasan SBY memulai safari politiknya di Jatim dari tlatah Tulungagung dan bergeser ke daerah mataraman lain seperti Madiun dan Magetan dihari berikutnya? Inikah alasan Partai Demokrat menggelar Rakerda besar-besaran yang dihadiri ribuan jajaran pengurus dari seluruh penjuru Jatim untuk menghadapi Pilgub, Pilkada Serentak, Pileg dan Pilpres? Inikah alasannya? Entahkah entahlah entahlah. Tapi kalaupun benar ada aspek kesejarahan dan sosio-kultural yang ingin dipetik dari Tulungagung oleh para Cagub/Cawagub Jatim, marilah kita coba telisik lebih dalam oposisi biner di atas? Setidaknya kita akan mendapat pertanda paslon siapa yang akan mendapat pitulung agung, pertolongan besar? Gus Ipul-Puti atau Bude Khofifah-Emil?

Ya ya ya. Bude Khofifah-Emil memerlukan waktu dua hari untuk mengguncang Tulungagung dibanding Puti yang hanya sehari. Bude Khofifah-Emil datang berdua sementara Puti hanya sendirian. Apakah semua ini mencerminkan bahwa paslon Bude Khofufah-Emil lebih memahami makna penting pitulung agung dari tokoh dan rakyat Tulungagung guna mendapatkan tahta yang diimpikan sebagaimana raja-raja terdahulu?

Ya ya ya. Bahkan Bude Khofifah-Emil sudah mengejawantahkan pitulung agung itu melalui kehadiran SBY dan Pakde Karwo sebagai vote getter guna menambah pundi-pundi suara. Karena bagaimanapun hingga saat ini SBY masih menjadi salah satu pendulum politik nasional disamping Jokowi, Mega, JK dan Prabowo. Sementara Pakde Karwo adalah pendulum politik di tlatah Jatim yang sungguh sulit dicari bandingannya.

Kasat mata dua hari itu Bude Khofifah-Emil telah mendapatkan pertolongan besar dari SBY, Pakde Karwo dan ribuan jajaran pengurus Demokrat dari seluruh Jatim. Sementara Puti mendapatkan pertolongan dari para banteng dan gadis-gadis berkerudung merah. Jadi pertolongan siapakah yang lebih besar? Pitulung siapakah yang lebih agung?

Ya ya ya. Bude Khofifah-Emil menggebrak Tulungagung dari GOR Rejoagung. Rejo berarti ramai atau makmur, agung berarti besar. Ada simbol kemajuan dan kemakmuran yang hendak diejawantahkan dari pemilihan tempat Bude Khofifah-Emil ini. Sementara Puti menggebrak dari GOR Lembu Peteng. Lembu berarti sapi juga bisa dikonotasikan banteng dalam konteks PDIP, Peteng berarti gelap. Lembu Peteng adalah nama yang di masa lalu acapkali dikaitkan dengan para putera raja yang lahir dari selir yang sebenarnya tak dikehendaki. Aduh aduh, sudah barang tentu pilihan tempat bagi Puti itu bukan sebuah kesengajaan filosofis. Kalaupun sebuah kesengajaan sudah barang tentu konotasi Lembu lah yang lebih bermakna. Tapi kenapa bukan lembu merah, kok malah lembu peteng? Halah itu kan kebetulan nama GOR nya. Kebetulan juga karena GOR yang lain sedang di pakai. Begitukah?

Ya ya ya. Apa yang jelas adalah, berangkat dari Tulungagung SBY, Pakde Karwo, Demokrat dan Bude Khofifah-Emil melanjutkan safari kampanyenya menyusur daerah Mataraman lainnya (Madiun dan Magetan) di hari-hari berikutnya. Sebagaimana Raja Erlangga melakukan ekspedisi penaklukkan secara berantai di wilayah mataraman (basin, wengker, wuratan dan lewa) dalam upayanya membangun tahta Kahuripan. Sedang Puti, meski mencanangkan juga akan merambah daerah Mataraman lain, tapi tidak beruntun selepas dari Tulungagung. Entah kapan.

Halah, senengane kok nggatuk-nggatukke !”. Protes seorang teman. Ya ya ya. Apapun itu, sebuah tanda-tanda akan menjadi bermakna atau tidak amat bergantung pada bagaimana kita membacanya. Jadi, di tengah persaingan sengit antara kedua paslon sekarang ini siapakah kira-kira yang akan mendapat pitulung agung? Bude Khofifah-Emil atau Gus Ipul-Puti? Jreng jreng.

*) Penulis adalah dosen Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION