Pilkada Jatim 2018, Khofifah Bakal Jadi Rival Kuat Gus Ipul

23/07/2017
95 Views

Portaltiga.com – Perhelatan Pilkada Jatim 2018 tinggal satu tahun lagi. Hingga kini, baru satu tokoh yang memberanikan diri untuk maju, yakni Saifullah Yusuf yang sehari-harinya sebagai Wakil Gubernur Jatim. Lantas, apakah pria yang akrab dipanggil Gus Ipul itu akan mudah melenggang mulus menduduki kursi Gubernur Jatim?

 

Pengamat politik Unair Surabaya, Aribowo punya pandangan menarik. “Gus Ipul akan mendapat saingat berat, bila Khofifah jadi maju. Karena, dia potensial. Sekarang saja, elektabilitasnya di urutan kedua, menyalip Tri Rismaharini,” ujarnya kepada wartawan di Kantor PW Muhammadiyah, Minggu (23/7).

 

Dugaan saya jika Khofiah turun, pergerakannya akan lebih cepat dari Gus Ipul. Performance sebagai menteri bagus. Dia menjadi salah satu menteri yang relatif bagus. Kedua, Khofifah punya jaringan kuat, yakni Muslimat, Fatayat dan jaringan-jaringan NU lainnya.

 

“Performance Khofifah di kementerian bagus sekarang, karena punya jaringan-jaringan. Kalau dia deklarasi, lalu turun intensif, dugaan saya akan jadi rival kuat Gus Ipul,” ujarnya.

 

Karena itu, sangat fenomenal ketika dalam Pilkada 2008, Khofifah hampir bisa mengalahkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Padahal, Khofifah turun belakangan. “Kalau Pilkada 2013, terpaut jauh 10 persen. Kalau menggugat apapun tetap tidak bisa,” ungkapnya.

 

Selain itu, Khofifah didukung anggaran kuat. Infonya dana Kemensos sebesar Rp 10-20 triliun sudah digelontorkan ke Jatim dan jaringannya sudah kuat. “Dana itu dipakai untuk menunjang program-program kerja Kemensos di Jatim,” tandasnya.

 

Aribowo mengingatkan Khofifah untuk segera deklarasi pencalonan sebagai Calon Gubernur Jatim. Jika ingin dapat mengalahkan Gus Ipul, maka secepatnya Ketua Umum PP Muslimat NU itu, mengumumkan pencalonannya agar diketahui masyarakat. “Kapan sih pendaftarannya ditutup. Kalau awal Januari tahun depan, ya secepatnya deklarasi,” ucapnya.

 

Sekarang ini, lanjutnya, informasi yang didapat terjadi “jual beli” suara di partai. Ini berkaitan dengan perpolitikan nasional, karena bisa menguasai Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat dalam perolehan suara, itu akan membuka peluang memenangkan Pemilu Presiden mendatang. “Karena itu, Jatim jadi perebutan betul,” tegasnya. (Bmw)

Leave A Comment