Pabrik Semen Indonesia Di Rembang Dapat Penuhi Kebutuhan Semen Nasional

14/01/2017
256 Views

Portaltiga,com-Berdirinya pabrik Semen Indonesia di Rembang-Jawa Tengah diharapkan dapat memenuhi kebutuhan semen secara nasional. Pasalnya, kebutuhan semen di masyarakat setiap tahun terus meningkat, terlebih program pemerintah dimana infrastruktur menjadi kontribusi terbesar dari rencana pemerintahan Jokowi dalam pembangunan Indonesia. Untuk itu, sangat mendesak pabrik Semen Indonesia di Rembang segera bisa beroperasi meski masih didera masalah.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf, mengatakan, merasa prihatin terhadap pabrik Semen Rembang milik Semen Indonesia yang masih dililit masalah. Sebab keberadaan pabrik Semen Rembang bakal menambah kapasitas produksi Semen Indonesia yang merupakan perusahaan BUMN agar makin kokoh berkompetisi di dalam negeri maupun global.

“Kita prihatin masalah di (pabrik semen) Rembang yang belum selesai. Padahal kalau Rembang jadi, bakal ada penambahan kapasitas produksi. Tapi kalau Rembang tidak bisa jalan, ya akhirnya akan mengurangi kesempatan kita untuk bersaing di dalam negeri maupun global,” ujarnya, di sela acara diskusi bertajuk ‘Kepedulian Terhadap BUMN Semen dari Serbuan Asing’ yang digelar Forum Diskusi Jurnalis Surabaya, di RestoNine Mayjen Sungkono, Surabaya, Jumat (13/1/2017).

Ia menjelaskan, berdasarkan data yang dimilikinya, produksi semen secara nasional mencapai 72,2 juta ton, di mana sebanyak 29 juta ton atau 42% merupakan produksi Semen Indonesia. Meski begitu, di dalam negeri, Semen Indonesia menghadapi tantangan dari Holcim milik Lafarge asal Perancis dan Indocement yang anak perusahaan Heidelberg asal Jerman. Perlu diketahui, Lafarge merupakan perusahaan semen terbesar di dunia dan Heidelberg berada di peringkat enam dunia. Sedangkan Semen Indonesia berada di posisi 22 dunia.

Ia mengatakan, bahwa bangsa Indonesia pastilah menginginkan agar perusahaan-perusahaan milik negara menjadi pemenang. “Kalau Semen Indonesia kalah bersaing di negerinya sendiri, itu yang malu bukan hanya Semen Indonesia. Tapi kita semua,” tegasnya.

Oleh sebab itu, wajar jika setiap negara punya strategi dan kebijakan untuk memproteksi perusahaan miliknya sepanjang tidak menyalahi aturan persaingan bisnis internasional. “Saya tidak bisa bayangkan, Indonesia memberi konsesi yang sama kepada Semen Indonesia dengan semen asing. Kalau pemerintah Indonesia membantu BUMN miliknya, saya kira ya memang harus begitu,” tegasnya sembari menyebut perlunya membuat “Aksi Bela Perusahaan-Perusahaan BUMN”.

Gus Ipul pun berharap agar Semen Rembang bisa segera beroperasi. “Masalah-masalah yang ada kaitan dengan lingkungan, saya yakin bisa diatasi dengan baik. Karena Semen Indonesia pasti tahulah apa yang harus dikerjakan untuk menjaga lingkungan,” katanya.

Pihak Asing di balik Kisruh Rembang

Sementara itu, pada diskusi yang sama, Ketua Umum Badan Kerjasama Badan Usaha Milik Daerah Seluruh Indonesia, Arif Affandi, mencuigai adanya pihak asing ikut bermain di belakang gejolak pabrik Semen Rembang  milik PT Semen Indonesia (Tbk), di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kabar rencana pendirian pabrik semen milik asing di Kabupaten Pati memperkuat kecurigaan tersebut.

“Saya dengar kabar ada pabrik asing yang mau berdiri di Pati. Kalau memang benar, jangan-jangan gerakan perlawanan (penolak pabrik Semen Indonesia di Rembang) itu jadi alat perusahaan asing itu,” kata Arif Affandi.

Mantan wakil walikota Surabaya yang juga mantan jurnalis itu memang tidak menyebut secara rinci perusahaan asing yang berencana mendirikan pabrik semen di Pati. Namun fakta menunjukkan, Pemerintah Kabupaten Pati telah memberi izin bagi Indocement untuk mendirikan pabrik di kawasan kendeng tersebut yang pembangunannya bakal dimuali di tahun 2017 ini.

“Tapi itu baru dugaan. Mudah-mudahan tidak benar. Kita berbaik sangka saja, semoga perjuangan masyarakat (penolak Semen Indonesia) itu betul-betul untuk masyarakat,” kata Arif.

Masih menurut Arif, sebenarnya polemik Semen Indonesia di Rembang sudah lama. Hal yang dipersoalkan juga tentang dampak lingkungann. “Mulai saya jadi wartawan dulu di Jawa Tengah tahun 1990-an, Semen Indonesia sudah ada polemik dengan masyarakat,” katanya.

Hal terpenting, menurutnya, masyarakat perlu berpikir panjang tentang masa depan bangsa Indonesia, terutama dalam menghadapi industrialisasi global. “Satu sisi kita ingin negara ini maju, ada yang dibanggakan, tapi di sisi lain selalu ada yang ngeriwuki (meributkan),” ujar Arif.

Padahal Semen Indonesia, satu di antara sedikit BUMN yang patut dibanggakan karena kontribusinya yang besar bagi Indonesia. “Semen Indonesia ada pabriknya di Vietnam. Telkomsel juga ada di Timor Leste. BUMN Karya, seperti Waskita, juga mengerjakan beberapa proyek di Arab Saudi,” ujar Arif.

Menurut Arif, masyarakat harus memahami bahwa beban tugas BUMN lebih besar dibandingkan perusahaan swasta. “Kalau swasta murni profit. Bagaimana caranya terus mengembangkan kapitalisasi,” katanya.

Sementara BUMN memiliki tugas sebagai alat pemerintah untuk pendapatan negara. “Termasuk BUMD. Kalau ketemu DPR yang ditanya pertama kali pasti berapa pendapatannya untuk negara. Sudah setor berapa?” katanya.

Sedangkan Gancar C Premananto, Direktur MM FEB Unair, mengatakan sampai saat ini BUMN yang memproduksi semen sebetulnya sudah siap merajai pasar ASEAN. “Harusnya negara ikut mendukung,” katanya pada diskusi yang sama. (Trish)

 

 

 

Leave A Comment