Napak Tilas Sejarah Kampung Peneleh

Portaltiga.com – Peneleh termasuk salah satu kampung kuno Surabaya. Di kampung inilah jejak sejarah ratusan tahun terekam pada artefak-artefak yang hingga kini masih bisa dilihat, mulai dari makam, masjid, pasar, perkampungan, hingga rumah-rumah bersejarah.

Rentang waktunya demikian panjang, mulai dari masa pra-Islam, masa Islam awal, masa kolonial, hingga masa pergerakan kemerdekaan. Sebuah kampung yang menjadi saksi perjalanan Soerabaia, bahkan Indonesia, dalam menghadapi pergantian zaman.

Peneleh memang kampung tua. Toponim kampung ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Jawa Kuno yang berarti terpilih, asalnya dari kata “pinilih”. Pengucapan Jawa membuatnya menjadi peneleh.

Sebagai sebuah kampung yang berusia ratusan tahun, tentu saja banyak peninggalan kunonya. Peninggalan itu tidak hanya berupa tempat yang masih aktif hingga kini yang berupa perkampungan dan pasar, tetapi juga bangunan kuno dan situs lainnya.

Dari artikel yang berjudul “Studi Pelestarian Bangunan Kuno di Kawasan Kampung Kuno Peneleh” diketahui terdapat 86 bangunan kuno di kampung Peneleh, sebuah jumlah yang tidak sedikit.

Untuk melacaknya, tentu dibutuhkan waktu yang lama dan ruang yang luas. Dalam kesempatan ini akan disinggung beberapa, yang pernah menjadi ikon sejarah pada zamannya.

Kita mulai dari waktu yang paling muda, yaitu pada masa pergerakan nasional, yang bergulir mulai awal abad ke-20. Peninggalan lama dari masa pergerakan bisa dijumpai di Peneleh Gang VII. Sebuah rumah kuno yang bernomor 29—31. Sebuah rumah kecil yang sarat dengan sejarah, karena rumah itu kediaman HOS Cokroaminoto. Rumah yang masih dipertahankan keasliannya itu terdiri dari 2 lantai dan berukuran 11 x 8 meter.

Jalan Peneleh VII

Di rumah inilah bersemi tokoh-tokoh para pendiri Republik Indonesia, di antaranya Ir Soekarno, SM Kartosuwiryo, Musso, Alimin dan lainnya–beberapa tercatat dalam sejarah sebagai pemberontak. Mereka tercatat pernah indekos di rumah itu, sambil ‘nyantrik politik’ pada tuan rumah, HOS Cokroaminoto, tokoh pergerakan nasional, pendiri Sarekat Islam (SI) yang terkenal dan masih terbilang cucu pengampu Pesantren Tegalsari Ponorogo tersebut.

Peninggalan pada masa Belanda adalah makam Belanda Peneleh yang berdiri pada tahun 1814 M, yang dianggap pemakaman modern tertua di dunia. Peninggalan pada masa kolonial ini bisa dilihat dari banyaknya rumah berarsitektur Indies atau bangunan lama di kampung Peneleh.

Sementara itu, selain makam Belanda, di kampung Peneleh juga terdapat makam-makam lama yang dikeramatkan warga. Makam-makam ini diduga berasal dari masa ketika Islam pertama masuk ke Jawa, malah mungkin sebelumnya, jauh sebelum Belanda datang.

Di antara mereka diketahui kisahnya, tetapi selebihnya memang masih diselimuti misteri. Di antaranya yang kondang adalah makam Nyai Buyut Champa, Buyut Minggir, Buyut Dawa, Buyut Malang dan Buyut Bening.

Di kampung ini terdapat sebuah peninggalan kuno yang terkenal, berpusat di masjid. Warga menyebutnya sebagai Masjid Jami’. Lokasinya di Peneleh Gang V. Menempati lahan seluas 950 meter persegi.

Memang tidak ada yang tahu pasti sejak kapan masjid itu dibangun, tetapi cerita tutur menyebut masjid tersebut dibangun oleh Sunan Ampel pada 1421 M. Awalnya, memang berupa langgar kecil, tetapi akhirnya dipugar menjadi masjid. Sejak abad ke-18, langgar itu menjadi masjid seperti sekarang ini. Sejak itu warga menyebutnya sebagai Masjid Jami’ di Peneleh.

Pada tahun 1986, masjid ini direnovasi tetapi tidak mengubah bangunan aslinya. Hanya serambinya ditambah dan dilakukan pengecatan. Bangunan dan ornamen dalam tidak berubah sama sekali dan masih asli.

Kisah tentang pendirian masjid ini terekam dalam kitab lama Kitab Pengging Teracah, bahkan kisah itu juga dipungut untuk menjadi sebuah entri dalam Ensiklopedi Indonesia. Sumur di masjid tersebut sangat terkenal dan dikeramatkan. Bahkan, menjadi saksi bisu perjuangan pasukan Hisbullah dan Sabilillah di Surabaya.

Kini Peneleh yang menyimpan kekayaan masa lalu dari berbagai segi itu masih kita temui. Tentu sudah tidak sama dari masa ke masa. Ada yang tetap, ada yang berubah. (mashuri sukodadi/abi)

About the author

Related

JOIN THE DISCUSSION