Merdeka Bermusik, Eksistensi Bermusik Era Era 1945-1998

Portaltiga.com – Musik mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia. Tidak sekedar sarana hiburan, musik juga merupakan gambaran kondisi masyarakat, media untuk berekspresi, menyuarakan pendapat, maupun pendorong semangat. Seperti yang tercatat dalam sejarah dimana muncul para seniman yang ikut mengawal jalannya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia melalui lagu-lagunya bernuansa heroik dan patriotik.

Pada kurun 1950-an, musik Indonesia tidak luput dari pengaruh Barat. Budaya asing yang deras merambah ruang dengar masyarakat tersaji melalui siaran radio-radio luar negeri, termasuk lagu soundtrack film-film Barat yang diimpor ke Indonesia. Fenomena ini kemudian dipandang sebagai ancaman bagi budaya bangsa. Oleh karenanya pemerintah berupaya membendung musik “ngak ngik ngok” yang kebarat-baratan ini dengan menyodorkan alternatif lain. Salah satunya yaitu mengangkat budaya lokal seperti Irama Lenso dan mencari seniman lokal berbakat yang dapat mengangkat kepribadian Indonesia melalui ajang kompetisi Bintang Radio.

Realita kehidupan sehari-hari seringkali dieksplor sebagai inspirasi musik. Pada era 1980-an, para musisi mengangkatnya dengan aransemen musik bernuansa melankolis. Beberapa musisi yang populer mendendangkannya adalah Betharia Sonata dan Nia Daniaty. Keduanya mampu membuktikan bahwa musik melankolis ini digemari masyarakat dengan banyaknya penjualan album kaset mereka meskipun pemerintah pada saat itu melihat perkembangan musik ini dapat berpotensi melumpuhkan semangat hidup dan bekerja.
Tidak hanya kehidupan sehari-hari, perkembangan politik bangsa juga dapat menginspirasi musisi untuk menyelipkan gagasan maupun kritikan ke dalam barisan lirik secara lugas, menggelitik, maupun penuh metafora. Selain itu melalui musik, musisi juga mengajak masyarakat untuk peduli terhadap alam dan lingkungan serta usaha melestarikan budaya daerah.

Memperingati Hari Musik Nasional dan sebagai rangkaian acara Indonesia Bermusik seri 2 yang sudah diselenggarakan sejak 2019 serta bagian rangkaian kegiatan Menjadi Merdeka di tahun 2020, House of Sampoerna (HoS) bekerjasama dengan Museum Musik Indonesia, Museum WR. Soepratman, Museum Teknoform, Jawa Pos, Komunitas Begandring Soerabaia, Komunitas Kaset Lama dan Kolektor menyelenggarakan pameran museum “Merdeka Bermusik” pada tanggal 11 Maret – 26 April 2020 di The Residence HoS. Sebanyak lebih dari 250 koleksi ditampilkan untuk menunjukkan perjuangan musisi dalam bermusik di era 1945-1998.

Manager House of Sampoerna, Rani Anggraini, mengatakan, penyelenggaraan pameran ini diharapkan dapat mendorong musisi muda untuk terus berkarya dan dengan adanya Peringatan Hari Musik Nasional yang diperingati setiap tahun, diharapkan mampu memberikan semangat bagi masyarakat untuk turut serta berjuang menjadikan musik sebagai penggerak kebudayaan Indonesia.

“Menjalankan fungsi museum, acara ini adalah bentuk partisipasi kami dalam mengkomunikasikan sejarah bangsa, selain turut mendorong museum sebagai salah satu destinasi wisata kota”, kata Rani.(fey/fey)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION

Translate »