Menikmati Kuliner Malam Hari di Tretes

Portaltiga.com – Kawasan Tretes, Prigen, Pandaan, Jatim dikenal sebagai tempat wisata. Setiap hari banyak turis lokal dan manca negara menikmati daerah pegunungan berhawa sejuk ini.

Di libur panjang Idul Fitri, jumlah pengunjungnya semakin banyak. Tak sekedar hawa sejuk yang dirasakan nikmatnya, di Tretes juga dijumpai tempat kuliner yang menyajikan berbagai masakan lokal.

Tepatnya di depan hotel Surya. Berada di tepi jalan, puluhan warung berjejer menunggu tamu “agung” nya. Warung-warung ini menyediakan menu makanan spesial yang mengundang nafsu makan.

Ada sate Kelinci, sate ayam, bakso, nasi goreng dan lainnya. Jika pengunjung ingin menghangatkan tubuh, bisa minum jahe, teh hangat, ronde dan angsle. Dua menu minuman terakhir ini, merupakan jenis makanan/minuman khas orang Surabaya.

Harganya juga terjangkau untuk masyarakat kalangan menengah ke bawah. Cukup mengeluarkan uang Rp 12 ribu, sudah bisa menyantap satu porsi ronde dan angsle.

“Mungkin lebaran harganya naik. Kalau hari biasa, satu porsi angsle dan ronde hanya Rp 10 ribu. Sekarang lebaran naik jadi Rp 12 ribu,” tutur Maulidya Sales, warga Keputran, Surabaya yang ditemui sedang asyik menyantap satu porsi sate kelinci.

Semakin larut malam, kuliner Tretes ini makin ramai saja. Saking ramainya, pengunjung tak kebagian tempat. Mereka harus antri cukup lama untuk bisa menikmati makanan di warung itu.

“Kalau hari biasa, pengunjung kuliner disini tak seberapa. Ramainya ya pas liburan ini. Hotel dan penginapan disini juga ramai,” kata Roni, warga setempat.

Puas berkuliner di malam hari, para wisatawan lokal dan asing, bisa menikmati pemandangan indah di pagi dan siang hari. Kakek Bodo, adalah tempat yang cocok untuk melihat keindahan pemandangan di lereng pegunungan Welirang.

Wisata Kakek Bodo,, merupakan tempat wisata alami. Kanan kiri dipenuhi pepohonan. Jalan yang dilalui menanjak. Pengunjung harus berjalan setapak untuk mencapai puncak air terjun yang indah.

Di bawah guyuran air terjun, pengunjung bisa mandi telanjang dada, sekaligus merasakan dinginnya air. Dinginnya seperti es batu yang baru dikeluarkan dari lemari es. “Dingin sekali,” ucap Mandiri, wisatawan asal Surabaya.

Air terjun ini diberi nama Kakek Bodo karena mengisahkan seorang kakek yang disebut dengan kakek yang bodoh (bodo). Menurut cerita penduduk setempat, “Kakek Bodo” dahulunya adalah seorang pembantu rumah tangga keluarga Belanda.

Dia adalah seorang yang saleh dan jujur. Dia meninggalkan keluarga Belanda tersebut untuk mensucikan diri dan meninggalkan masalah keduniawian dengan bertapa. Karena sikapnya ini keluarga Belanda yang ditinggalkannya menyebutnya sebagai kakek yang bodoh (Kakek Bodo).

Berkat bertapanya, sang kakek memiliki kelebihan/kesaktian yang digunakan untuk membantu masyarakat setempat yang meminta pertolongan. Dan setelah Kakek Bodo meninggal di tempat bertapanya, makamnya sampai sekarang masih dikeramatkan oleh penduduk setempat. (bmw/abi)

berita terkait

JOIN THE DISCUSSION