Menari Bersama Jadi Simbol Semangat Wisudawan UM Surabaya

Portaltiga.com, SURABAYA – Setelah beberapa hari (18/05/2016) merilis hasil penelitian tentang kenakalan sexual anak. UMSurabaya melalui momentum hari kebangkitan nasional dan wisuda ke-38 berkomitmen untuk menjadikan seluruh wisudawan sebagai duta anti-kekerasan. Duta yang diharapkan ketika terjun di masyarakat mampu menjadi aktor yang mampu mereduksi tingginya angka kekerasan, terutama kekerasan terhadap anak.

Berdasarkan data yang dhimpun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kekerasan pada anak selalu meningkat setiap tahun. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014 terjadi peningkatan yang signifikan. Tahun 2011 terjadi 2.178 kasus kekerasan, 2012 ada 3.512 kasus 2013 ada 4.311 kasus, 2014 ada 5.066 kasus.

5 kasus tertinggi dengan jumlah kasus per bidang dari 2011 hingga April 2015. Pertama, anak berhadapan dengan hukum hingga April 2015 tercatat 6.006 kasus. Selanjutnya, kasus pengasuhan 3.160 kasus, pendidikan 1.764 kasus, kesehatan dan napza 1.366 kasus, serta pomografl dan cybercrime 1.032 kasus.

Rektor UMSurabaya, Dr. dr. Sukadiono, menyatakan bahwa wisuda kali ini begitu istimewa. Mengingat berbagai pencapain UMSurabaya, tercatat beberapa pencapaian dari akademik maupun non-akademik. Selain itu, persoalan kekerasan yang kondisinya sudah darurat tersebut harus membuat institusi pendidikan introspeksi diri.

“Selain ikut turun mereduksi praktik-praktik kekerasan, kurikulum pendidikan harus mulai dilihat kembali. Aksi solidaritas yang bertema Harmoni Nusantara: Bangkit Melawan Kekerasan disampaikan dengan menari bersama,” tandasnya.

Aksi unik tersebut sengaja digagas agar para wisudawan mengingat bahwa selain bekerja mereka juga punya tanggungjawab menjadi duta anti kekerasan.

Idham Choliq, wisudawan S1 Keperawatan dari Fakultas Umum Kesehatan, mengatakan aksi menari bersama tersebut diilhami banyaknya kasus kekerasan akhir-akhir ini di Nusantara.

“Kasus kekerasan di Lampung dan daerah lain di Indonesia adalah hal yang seharusnya tidak boleh terjadi di tengah-tengah majemuknya masyarakat kita. Jangan ada lagi kekerasan dan kami para wisudawan siap menjadi duta-duta anti kekerasan,” tandasnya. (cahyo)

JOIN THE DISCUSSION