Mark Zuckerberg Masih Tetap Lalai Atasi Hoax Di Facebook

Portaltiga.com – Infestor awal Facebook sekaligus mentor CEO Facebook Mark Zuckerberg, Roger McNamee, mengaku geram terhadap media sosial Facebook yang dinilai turut berpartisipasi dalam menyebarkan hoax di jejaring sosial Facebook.

Roger McNamee, mantan mentor Zuck tersebut, tak segan-segan mencecar Zuck karena dinilai lalai mengatasi hoax di jejaring sosial miliknya.

Selama sepekan terakhir, McNamee ‘menyerang’ Zuck. Dia kecewa lantaran mantan anak didiknya itu tidak serius mengangani hoax di Facebook.

Berdasarkan pengamatannya, kampanye anti-Hillary Clinton disebarkan oleh ‘aktor jahat’ melalui Facebook saat pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016.

Hal ini, kata McNamee, telah melukai penggunanya. Bahkan, McNamee mengungkapkan kekecewaannya dan mengkritisi Facebook dengan menulis artikel di tiga media massa, The Washington Monthly, The Washington Post, dan The Guardian selama seminggu kemarin.

“Platform ini dieksploitasi oleh berbagai aktor jahat, termasuk pendukung ekstrimisme. Namun, manajemen Facebook tidak bertanggung jawab. Pengguna Facebook, saya ingatkan, tidak selalu setuju. Facebook berisiko menjadi racun,” ujarnya seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (17/1/2018).

McNamee mendesak agar jejaring sosial yang didirikan pada 2004 ini agar menerapkan algoritma yang bisa mencegah oknum penyebar hoax di Facebook tidak semasif seperti saat ini.

“Ini akan terjadi berulang kali sampai Facebook mengambil tindakan agresif. Masalahnya, tidak bisa diperbaiki begitu saja dengan mempekerjakan kontraktor untuk meninjau kembali tulisan yang bermasalah. Facebook perlu mengubah prioritas algoritma dan melengkapi kembali model bisnisnya,” tutur dia.

Selama setahun kemarin, awan mendung memang menghinggapi Facebook. Betapa tidak, selain isu mengenai hoax, Facebook juga dikritik terkait tuduhan ikut terlibat dalam campur tangan Rusia terhadap pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Saat ini, Facebook dan perusahaan teknologi lainnya berada di bawah pengawasan Kongres Amerika Serikat. Mereka sedang ditinjau, apakah algoritma yang digunaka turut mempromosikan berita palsu kepada pengguna atau tidak. (dtc/tea)

About the author

Related

JOIN THE DISCUSSION