Maju Wakili Tapal Kuda, Hasan Aminuddin Ancaman Berat Saifullah Yusuf Di Pilgub Jatim 2018

 
Portaltiga.com: Dominasi tokoh-tokoh Mataraman saat memimpin Jatim tampaknya dalam pilgub 2018 akan muncul tokoh dari daerah tapal kuda.Sebelumnya, dua dasawarsa Jatim selalu dipimpin dari mataraman diantara Imam Utomo dari Jombang dan Soekarwo dari Madiun.

“Sejumlah tokoh Tapal Kuda yang representatif untuk dicalonkan maju Pilgub Jatim 2018 diantaranya Hasan Aminuddin (Mantan Bupati Probolinggo dua periode), MZA Djalal (Mantan Bupati Jember dua periode) dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi terpilih kedua kalinya),” ujar tokoh tapal kuda Muzammil Syafií saat dikonfirmasi Minggu (31/1).

Pria yang juga anggota DPRD Jatim ini mengatakan dari sisi demografi, budaya maupun jumlah penduduk, wilayah Tapal Kuda cukup besar. Bahkan wilayahnya hampir sepertiga Jatim jika empat kabupaten di Madura digabungkan dengan Tapal Kuda karena pendekatan budaya pesisir.

“Ini adalah potensi yang tak bisa dianggap remeh, jika tokoh-tokoh Tapal Kuda dan Madura bersatu, tidak menutup kemungkinan Gubernur Jatim mendatang berasal dari wilayah Tapal Kuda,” ungkap mantan Wabup Pasuruan ini.

Menurut Muzammil, isu Nasionalis dan Nahdliyin (Religius) sekarang ini sudah cair. Terbukti, pada pelaksanaan Pilkada serentak 2015 lalu di Jatim masyarakat pemilih sudah tidak mempedulikan lagi isu nasionalis dan religus tapi cenderung pada figur yang representatif dan aspiratif mampu memperjuangkan dan mewujudkan keinginan masyarakat.
Sementara itu, pengamat politik Fashihullisan menyatakan bahwa Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul akan menjadi calon kuat Gubernur Jatim mendatang jika tepat dalam memilih pasangan, terutama mengambil kesempatan menarik calon potensial untuk tidak ditarik kekuatan politik lain.

Menurutnya, Jatim secara kasar dapat dilihat menjadi tiga sub budaya yaitu Mataraman, Pesisiran dan Tapal Kuda. Masing-masing sub budaya tersebut memiliki preferensi politik yang berbeda-beda. Gus Ipul yang berasal dari Pasuruan, maka dapat memainkan kecenderungan sub budaya Pesisiran dan Tapal Kuda.

Keuntungan lain yang harus diperhitungkan adalah Gus Ipul merupakan potret repersentasi Nahdliyin yang merupakan kekuatan cukup dominan di Jatim.
Ditambah lagi NU sebagai kekuatan mayoritas di Jatim sejak era reformasi belum pernah memiliki Gubernur, sehingga diyakini apabila Gus Ipul pandai memanfaatkan opini politik maka dapat memanfaatkan titik kulminasi keinginan NU untuk memiliki Gubernur di Jatim.

Sementara itu, Khofifah bisa jadi merupakan kompetitor yang sampai sekarang cukup diperhitungkan oleh Gus Ipul, karena pernah dua kali melakukan perlawanan cukup kuat dalam dua pilgub Jatim sebelumnya. Memang kekuatan perempuan Muslimat NU tidak dapat dianggap enteng oleh siapapun yang berkompetisi dengan Khofifah. “Hanya saja Khofifah sekarang sudah menjadi Mensos sehingga kemungkinan besar sudah enggan untuk kembali mencalonkan diri pada pilgub Jatim untuk ketiga kalinya,” terang Fashihullisan.

Calon potensial yang semestinya harus dibaca dengan tajam adalah munculnya aktor politik regional Jatim baru yang cukup diuntungkan oleh pemberitaan positif media yaitu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya terpilih itu mampu mengkomunikasikan keberhasilannya menjadi Walikota sehingga cukup dikenal oleh warga pesisiran Jatim, bahkan diakui PDIP sebagai kader yang layak maju di Pilgub DKI Jakarta.

“Tokoh populer berkombinasi dengan kekuatan partai pemenang pemilu nasional merupakan kekuatan yang tidak dapat dianggap enteng oleh Gus Ipul. Risma diyakini akan mampu melakukan perlawanan yang cukup sengit di Pesisiran dan Mataraman jika maju Pilgub Jatim,” beber Fashihullisan.

Selain Tri Rismaharini, aktor politik regional yang harus diperhitungkan oleh Gus Ipul adalah Hasan Aminuddin. Politisi asal Tapal Kuda itu merupakan representasi beberapa kombinasi kekuatan politik Jatim. Apalagi Hasan merupakan salah satu tokoh NU, representasi Madura dan Tapal Kuda, tokoh NasDem yang cukup dekat dengan Surya Paloh dan cukup dekat dengan KH Hasyim Muzadi.

“Dua kali pilgub Jatim dan Muktamar NU di Jombang merupakan bukti tidak selarasnya pandangan politik KH Hasyim dengan Gus Ipul, apabila mampu dimanfaatkan oleh Hasan Aminudian, maka itu akan menjadi stimulan politik yang cukup ampuh,” jelasnya.

Ia menekankan, Gus Ipul harus mampu membaca kemungkinan berpasangannya Hasan Aminudin dengan Tri Rismaharini. Apabila dua tokoh tersebut mampu dikawinkan, maka mereka bisa jadi menjadi simpul banyak representasi kekuatan politik, mulai dari kekuatan PDIP, NU, Pesisiran, Tapal Kuda, dan Madura sehingga mampu memberikan perlawanan yang cukup baik di Mataraman.

Hasan Aminuddin jika mendapatkan pasangan tokoh diluar NU dan representasi

Mataraman juga akan semakin memberikan perlawanan terhadap Gus Ipul. Sebab Hasan akan dominan di Tapal Kuda dan wakilnya akan mampu bertarung di Mataraman, sedangkan wilayah Pesisiran akan digarap oleh KH Hasyim Muzadi dibantu Khofifah Indar Parawansa. (Yudi)

JOIN THE DISCUSSION